Pertandingan Ketangkasan dalam perspektif Islam.

Pertandingan Ketangkasan dalam perspektif Islam.

Oleh: H. Intan Sumantri, (Komisi Fatwa MUI Tarakan).

Khutbah Jum’at, 31 Maret 2017.

Judi Bola

Agama Islam merupakan agama yang lengkap dan menyeluruh. Hal ini dibuktikan dengan adanya semua jenis aturan dalam setiap lini kehidupan manusia. Dari mulai manusia itu bangun dari tidurnya, kemudian melakukan aktivitasnya, sampai tidur lagi, semua ada norma dan tata tertib yang diatur oleh Allah S.W.T sebagai Pencipta Alam Semesta.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia bebas melakukan transaksi jual beli ataupun interaksi yang lainnya, selama tidak ada larangan dari syariat. Karena asas dari muamalah (hubungan manusia dengan manusia lain) adalah kebolehan (halal). Sehingga ruang lingkup muamalah ini luas. Akan tetapi ada beberapa jenis muamalah yang Allah haramkan kepada manusia. Hal ini dikarenakan muamalah ini bisa menimbulkan kezaliman dan hilangnya keadilan terhadap manusia. Yang imbasnya adalah terjadinya perselisihan dan permusuhan diantara manusia. Hal inilah yang di cegah oleh Allah, sehingga jenis transaksi ataupun interaksi ini diharamkan kepada manusia.

Allah S.W.T berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ [٢:٢١٩]

Artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (Q.S Al Baqoroh: 219).

Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya kebanyakan hal yang dilarang oleh Al Qur’an dan Hadist dalam hal interaksi antar sesama manusia adalah semata-mata untuk mengekalkan keadilan terhadap manusia dan mencegah kezoliman terjadi diantara mereka, seperti mengambil harta dengan cara yang tidak benar, baik dengan jalan perjudian ataupun riba”.

Allah S.W.T juga mengisyaratkan bahwa meminum arak, perjudian dan mengundi nasib dengan panah merupakan perbuatan syaitan. Sebagaimana di dalam Al Qur’an.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [٥:٩٠]

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S Al Maidah: 90).

Oleh karena itu ada beberapa jenis interaksi manusia yang diharamkan oleh syariat, sehingga setiap muslim wajib menjauhinya:

  1. Keharaman secara fisik benda.

Adapun transaksi yang diharamkan karena fisik barang yang dijual, dapat kita ambil contoh adalah jual beli barang ataupun benda yang najis (kotor). Seperti jual beli daging babi, jual beli daging anjing, jual beli bangkai dan semua hewan yang diharamkan untuk dimakan dan najis jika disentuh oleh seorang muslim.

  1. Keharaman karena adanya unsur kezoliman.

Kezoliman adalah hal yang dilarang dalam Islam, karena setiap transaksi yang terdapat unsur merugikan salah satu pihak, atau menyebabkan satu pihak tidak rela terhadap pihak yang lain, maka ini sudah termasuk unsur kezoliman, maka ini diharamkan oleh syariat, karena bisa menyebabkan permusuhan. Contohnya adalah Tadlis (menyembunyikan aib barang dagangan, dan menunjukkan kebaikannya saja), Mengurangi takaran dan timbangan, berpura-pura bokek jika ditagih utang, dan masih banyak lagi gambaran kezoliman dalam transaksi.

  1. Keharaman karena unsur ghoror.

Ghoror disini dapat diartikan sebagai sebuah transaksi yang mengandung “bahaya” bagi salah satu pihak yang bertransaksi, yang menyebabkan hilangnya harta salah satu pihak.

  1. Keharaman kerena unsur riba.

Riba merupakan hal yang diharamkan karena banyak menimbulkan kesulitan dikedua belah pihak, khususnya bagi pihak yang menjadi objek ataupun pihak kedua.

  1. Keharaman kerena unsur perjudian.

Dalam hal permainan ataupun pertandingan yang sering dilakukan oleh manusia, syariat juga mengatur tata tertib dan norma yang berlaku sehingga tidak melanggar batasan syariah yang ditetapkan yang dapat menimbulkan permusuhan dan perkelahian. Diantara kegiatan yang diharamkan adalah kegiatan yang memiliki unsur perjudian. Termasuk di dalamnya adalah mengadu nasib ataupun taruhan baik dengan uang ataupun barang.

Permainan ketangkasan atau juga dikenal dengan istilah pertandingan kompetisi, menurut “Keputusan Perkumpulan Ulama Fiqih sedunia” dalam Mu’tamarnya tahun 2003, menyebutkan, Pertandingan adalah Sebuah tindakan atau permainan yang berasas perlombaan diantara 2 orang atau lebih dengan sebuah tujuan yaitu kemenangan, baik dengan hadiah maupun tidak ada hadiah.

Jenis jenis Pertandingan menurut Fiqih Islam.

  1. Pertandingan yang diadakan tanpa ada hadiah.

Para Ulama sependapat bahwa semua pertandingan maupun perlombaan yang memiliki asas manfaat dibolehkan dalam Islam, akan tetapi apabila ada madhorot/kerusakan yang mungkin ditimbulkan paska ataupun sebelum pertandingan tersebut secara nyata, maka yang sedemikian diharamkan. Seperti pertandingan lari, balap sepeda, berenang dan jenis olahraga yang lainnya yang mendatangkan kesehatan pada badan manusia yang jauh dari unsur perjudian. Hal ini juga dikarenakan, pertandingan ini tidak ada hadiah ataupun hanya ingin mengisi waktu kosong dengan olahraga yang bermanfaat untuk kesehatan badan tanpa adanya harta (uang) yang harus dikeluarkan bagi peserta. Bahkan terkadang ini adalah hasil inisiatif peserta sendiri agar olahraga ini menjadi lebih seru dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan Hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ قَالَتْ: فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَيَّ، فَلَمَّا حَمَلْتُ الَّلحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبَقَةِ. (أخرجه أبو داود في سننه كتاب الجهاد، حديث رقم 2227).

Dari Aisyah r.a : Bahwasanya dia bersama Nabi s.a.w berlomba lari dengan Aisyah kemudian Aisyah menang, lalu ia (Aisyah) berkata: Nabi s.a.w berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi tatkala badanku gemuk, Nabi s.a.w mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau berkata: “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku dahulu”.

Hadist ini menjadi dasar diperbolehkannya Perlombaan atau pertandingan tanpa hadiah yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih.

  1. Pertandingan dengan Hadiah.

Adapun pertandingan dengan hadiah memiliki berbagai macam bentuk dan cara, rinciannya sebagai berikut:

  • Pertandingan/perlombaan dengan hadiah didapat dari kedua belah pihak.

Pelaksanaan perlombaan ini adalah setiap peserta membayar sejumlah harta atau uang, kemudian mereka bermain dan berlomba yang pada akhirnya akan keluar salah satu dari mereka menjadi pemenang, kemudian harta ataupun uang yang mereka kumpulkan tadi akan diberikan kepada orang ataupun kelompok yang menang. Ini mengakibatkan ada pihak yang untung dan ada pihak yang dirugikan. Pertandingan semacam ini masuk dalam kategori “Perjudian”.

  • Pertandingan/perlombaan dengan hadiah dari satu pihak.

Pelaksanaan pertandingan ini dilakukan secara insidentil. Sebagaimana apabila ada 2 orang yang baru bertemu. Kemudian orang pertama mengatakan kepada orang kedua: “Mari berlomba denganku, kalau kamu menang, maka bagimu hadiah ini, tapi apabila aku menang, maka kamu tidak mendapatkan hadiah apapun”. Perlombaan semacam ini diperbolehkan dalam syariat Islam. karena kalau diteliti dari segi maslahat dan kerugiannya, hanya ada dua hal bagi orang kedua yang diajak berlomba, menang mendapatkan hadiah, kalau tidak menang maka dia tidak merugi.

  • Hadiah dari perlombaan tersebut berasal dari pihak ketiga (sponsor).

Apabila ada sebuah perlombaan ataupun pertandingan ketangkasan. Dimana hadiah yang disediakan bukan dari peserta ataupun panitia penyelenggara, melainkan dari pihak ketiga (dalam hal ini sponsor) yang berasal dari sumbangan pemerintah, ataupun yayasan kebajikan, ataupun perusahaan besar di sebuah negara, maka jenis pertandingan ini dibolehkan dalam Islam sesuai dengan kesepakatan para Ulama. Contohnya yang sudah sering terjadi di negara Indonesia adalah : Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Pertandingan membuat makalah, dan Pertandingan membuat riset ilmiah yang bermanfaat. Maka jenis pertandingan seperti tersebut diatas diperbolehkan, dengan syarat hadiah disediakan oleh pihak ketiga sebagai bentuk sedekah ataupun pemberian kepada panitia penyelenggara. Dengan tujuan agar masyarakat berlomba-lomba dalam hal kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain.

Setelah kita memahami konsep pertandingan dalam perspektif Islam, marilah kita menelaah kembali disekitar kita, apakah masih ada pertandingan ketangkasan yang termasuk dalam kategori diatas. Agar kita tidak menjadi bagian dari perjudian yang terjadi baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

Sebagai kesimpulan dari pembahasan diatas, dapat kita ketahui bahwa Norma dan tata tertib perlombaan ketangkasan yang diperbolehkan dalam Islam adalah:

  1. Tujuan, cara dan pelaksanaan perlombaan tidak boleh melanggar syariat Islam, yaitu adanya unsur perjudian dan maksiat.
  2. Hadiah yang diberikan kepada pemenang tidak boleh berasal dari iuran peserta.
  3. Harus memiliki tujuan untuk membuat peserta berlomba dalam kebaikan dan bukan keburukan ataupun kemaksiatan.
  4. Dalam perlombaan tersebut tidak boleh menyebabkan peserta meninggalkan kewajiban (baik pribadi maupun agama), apalagi kewajiban beribadah, atau membuat pesertanya lupa diri ataupun lalai.

Karena Allah berpesan melalui lisan Rasulullah S.A.W:

قَالَ تَعَالَى فِي حَدِيْثِ  قُدْسِيْ: ” يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوْا”. (رواه مسلم في صحيحه، كتاب البر والصلة والآداب، حديث: 2577).

Artinya:

Allah berfirman dalam hadist Qudsi: Wahai Hambaku, aku mengharamkan kezoliman kepada diriku dan kujadikan zolim itu haram keatasmu, maka janganlah berbuat zolim. (H.R Muslim).

 

 

 

Jum’at, 31 Maret 2017.

Klinik Herbal El-Zahra Tarakan,

10.38PM.

 

 

 

 

Advertisements

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s