“Memartabatkan Al Qur’an dalam konteks kehidupan”

Oleh: H. Intan Sumantri.  (Sekretaris MIUMI Kaltara, Anggota Komisi Fatwa MUI Tarakan)

al-quran

Umat Islam dalam perjalanan kehidupannya sejak zaman Muhammad diutus menjadi Rasulullah telah menghadapi berbagai macam cobaan. Baik itu yang bersifat cobaan fisik maupun cobaan mental dan segala jenis intimidasi dari para musuh Islam. Setelah wafatnya Rasulullah, estafet kepemimpinan Umat Islam berpindah kepada Khulafaur Rasyidun, yang dalam kepemimpinan Para Sahabat nabi ini, umat Islam juga tidak terlepas dari berbagai macam cobaan baik dari internal Islam maupun dari luar Islam.

Mekkah sebagai sentral kehidupan masyarakat arab pada masa itu. Karena disana setiap tahunnya diadakan Ibadah Haji dan segala jenis Ibadah yang berkaitan dengan ajaran Hanifiyyah Samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya Nabi Ibrahim a.s. karena banyaknya manusia yang selalu mengunjungi Baitullah setiap tahunnya, maka Mekkah menjadi pusat kehidupan dan perekonomian arab pada masanya. Banyak pedagang dari luar Mekkah yang sengaja berkunjung dan berdiam diri di Mekkah semata-mata hanya untuk mencari nafkah dengan cara berdagang disana.

Al Qur’an diturunkan “Munajjaman” ataupun secara berangsung-angsur sesuai dengan kejadian yang menimpa Umat Islam pada masa itu. Rasulullah mendapatkan berbagai macam perintah dan larangan yang terkandung di dalam Al Qur’an yang disampaikan oleh Jibril a.s. sehingga otentisitas Al Qur’an adalah sebuah aksioma dalam ajaran Islam. Rasulullah dalam hal ini adalah sebagai Penyeru kepada Umat Islam di Mekkah, selalu berhati-hati dalam perbuatannya. Sampai diturunkannya Al Qur’an yang menyinggung atau menanggapi segala kejadian yang terjadi pada saat itu. Sehingga Rasulullah bisa menjawab semua kejadian itu berdasarkan wahyu Allah. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta’ala:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ،  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ.

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. Q.S An-Najm 3-4.

Ayat al Qur’an diatas jelas menegaskan bahwa Rasulullah tidak pernah berkata-kata dalam hal ini yang berkaitan dengan syariat Islam kecuali hanya dari kabar yang dibawa oleh Malaikat Jibril.

Generasi umat Islam terawal yaitu ketika Rasulullah baru saja mendapatkan wahyu yang pertama berupa surah al Alaq, merupakan generasi yang paling dan mudah diberikan nasehat. Hal ini dibuktikan dengan keislaman beberapa orang Sahabat yang dengan mudahnya mengimani kerasulan Muhammad bin Abdillah. Pada saat yang sama ada juga beberapa Sahabat yang masuk Islam karena mengetahui kabar dari Injil yang mengkabarkan akan datang Nabi terakhir sebagai penutup para Nabi dengan inisial Ahmad. Kemudian Sahabat ini mengetahui bahwa di Mekkah baru saja ada seorang manusia yang menyeru dengan sembunyi-sembunyi kepada masyarakat agar meninggalkan sesembahan mereka yang dulu yaitu berhala.

Sebut saja Salman Al Farisi, yang dengan mudahnya mengucapkan 2 kalimah syahadat karena ia merasa apa yang dikabarkan oleh Injil dan para pendeta Ahli kitab itu benar adanya. Kemudian disusul oleh para Sahabat yang lain. Dengan demikian bertambah banyaklah umat Islam di Mekkah pada awal periode kenabian. Sehingga hal ini menyebabkan para kafir Quraisy merasa tidak nyaman dengan kehadiran agama baru yang mengusik agama nenek moyang mereka.

Kemudian mulailah penyiksaan dan intimidasi terjadi di kalangan umat Islam Mekkah pada saat itu yang notabenenya adalah kaum minoritas. Hal ini semakin parah dengan adanya Abu Jahal dan Abu Lahab yang dengan terang-terang menentang Muhammad dan ajarannya. Sehingga turunlah wahyu dari Allah sebagai perintah untuk berhijrah.

Umat Islam selalu menaati Allah dan Rasulnya, sehingga berita apapun yang turun kepada Rasulullah mereka patuhi. Hal ini dibuktikan dengan ketaatan mereka ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menghijrahkan Umat Islam Mekkah ke Habasyah demi mencari keselamatan. Dalam hal ini tidak hanya keselamatan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah menyelamatkan Aqidah Umat Islam minoritas Mekkah dari segala fitnah kaum kafir Quraisy yang menjadi penguasa disana.

Hingga suatu masa tibalah masanya Rasulullah untuk menghijrahkan Umat Islam ke sebuah kota yang bernama Yatsrib. Kota ini dikenal dengan penduduknya yang ramah. Bahkan mereka sendiri yang memohon kepada Rasulullah agar tinggal dan menetap disana. Hingga tibalah masanya Rasulullah dan umat Islam baik dari kaum Muhajirin dan Anshar bersatu padu menegakkan sebuah negara Islam pertama kali di dunia.

Disana Rasulullah membentuk sebuah pemerintahan dgn sistem pertahanan yang kuat, sistem ekonomi yang mapan dan sistem sosial yang beradab. Sehingga para musuh-musuh Islam baik dari kalangan Quraisy maupun Kabilah-kabilah di jazirah arab merasa takut dengan kebesaran dan keagungan sebuah negara Islam di Yasrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah Al Munawwarah.

Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang dipersiapkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya….” (Q.S Al Anfal: 60).

Dari sinilah Madinah menjadi negara yang berwibawa, disegani dan ditakuti oleh para Musuh Islam. hal ini karena Rasulullah sebagai Pemimpin negara, selalu berpegang teguh dengan perintah Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril a.s. dan semua warga Madinah benar-benar menyerahkan kepercayaan mereka kepada Rasulullah sebagai pemimpin negara dan juga sebagai Utusan Allah.

Dari sinilah kemudian lahir Para Sahabat yang juga seorang Ahli Tafsir. Mereka adalah Khulafaur Rasyidun yang 4 yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, kemudian Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair. Yang mana dalam perjalanan kehidupan umat Islam beberapa Orang Sahabat telah melakukan perjalanan kebeberapa kota di Jazirah arab, dengan tujuan untuk mengajarkan Al Qur’an kepada penduduk kota tersebut.

Sehingga muncullah Madrasah ataupun sekolah yang diprakarsai oleh para Sahabat yang memiliki kompetensi di dalam Al Qur’an dan Ilmu Tafsir. Mereka adalah:

  • Ibnu Abbas terkenal dengan Madrasah Qur’an di Mekkah.
  • Ubai bin Ka’ab terkenal dengan Madrasah Qur’an di Madinah dan
  • Abdullah Ibnu Mas’ud terkenal dengan Madrasah Qur’an di Iraq.

Dari Juhud ataupun usaha para Sahabat inilah akhirnya Al Qur’an bisa tersebar luas dan menjadi panduan bagi seluruh Umat Islam di alam raya ini. Karena mereka bertiga inilah yang mengajarkan Al Qur’an kepada setiap orang yang ingin belajar dan kemudian ilmu tentang Al Qur’an itu di tularkan oleh para murid-muridnya kepada seluruh umat Islam dengan cara talaqi yang bersambung dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Berpegang teguh kepada Al Qur’an wajib hukum nya bagi setiap muslim, dan begitu juga dengan Hadist Nabawi yang menjadi sumber hukum ke-2 dalam syariat Islam setelah Al Qur’an. Hal ini adalah sebuah konsekuensi setiap individu muslim di seluruh jagad raya ini untuk memulyakan dan mentadabburi AL Qur’an. Al Qur’an menurut Istilah adalah Perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, membacanya adalah Ibadah, yang diturunkan kepada umat manusia dengan cara tawatur (dari Jamaah kepada jamaah). Sehingga mustahil bahwa Al Qur’an ini ada kepalsuan ataupun ada kebohongan di dalamnya. Karena Allah Ta’ala telah menjamin otentisitas Al Qur’an hingga akhir zaman. Hal ini sesuai dengan Firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q.S Al Hijr: 9).

Pemeliharaan Allah terhadap Al Qur’an ini dibuktikan dengan banyaknya manusia yang mudah manghafal Al Qur’an, dan banyaknya para Ulama yang menjaga kemurnian Al Qur’an ini dari berbagai macam penyimpangan dan pengeliruan. Sehingga kalau ada manusia yang mengatakan “Jangan Mau di Bohongin Pakai Al Qur’an” maka jika dia adalah seorang Muslim maka dia adalah fasik, adapun apabila yang mengatakan demikian adalah orang kafir, maka dia dapat digolongkan sebagai Kafir Harby.

Bagaimana cara kita memartabatkan Al Qur’an dalam kehidupan?

Ada beberapa tips yang perlu kita lakukan, karena semakin banyak kita berinteraksi dengan Al Qur’an maka semakin berkahlah waktu yang kita miliki. Diantara beberapa tips dalam memartabatkan Al Qur’an adalah:

Suatu kenikmatan besar jika Iman telah merasuk kedalam jiwa seseorang, kemudian merealisasikan di setiap segala aspek kehidupannya, oleh karena itu ketika Rasulullah  S.A.W ditanya tentang apa itu Iman ,maka beliau menjawab yang diantaranya adalah beriman dengan kitab-kitab Allah yaitu  Al-Qur’anul Karim, maka wajib bagi seorang muslim hendaknya beriman kepada Al-Qur’an, sebagaimana di dalam hadist, Rasulullah S.A.W bersabda:

قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

Rasulullah bersabda:

”Hendaknya Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk”  (HR.Muslim)

Allah Subhanahu wa ta’la berfirman  :

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quraan ini mereka akan beriman?” (Qs.Al Mursalaat: 50).

Menurut tafsir Ibnu Katsir, jika mereka (orang-orang kafir) tidak juga beriman dengan al-Qur’an ini, lalu pada perkatan siapa (lagi) mereka akan beriman?

  1. Membaca, mengahafal dan Mentadabburinya.

Sebagaimana dalam pengertian Al Qur’an dalam istilah Syari’at diatas, membaca Al Qur’an adalah ibadah, hal ini jelas berbeda dengan membaca hadist ataupun kitab arab yang lainnya. Tidaklah dikatakan Alif, Lam, Mim itu satu lafaz, akan tetapi Alif mempunyai pahala tersendiri, Lam juga memiliki pahala dan Mim memiliki nilai pahala tersendiri. Itulah sebabnya kalau kita rajin membaca Al Qur’an, maka akan banyak pahala yang kita dapatkan, itu baru membaca, bagaimana jika kita menghafal dan paham makna kemudian mentadabburinya? Maka akan semakin besar pahala yang kita dapatkan.

عَنِ اْبنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُوْلُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفُ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ. (رواه الترمذي)

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-qur’an, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Kebaikan itu akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat .Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim adalah satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf,  Lam satu huruf, Mim satu huruf”.  (H.R Tirmidzi).

Rasulullah S.A.W  juga bersabda:

إِنَّ الَّذِيْ لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ اْلقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ. (رواه الترمذي)

Sesungguhnya barang siapa yang dalam dirinya tiada bacaan Al Qur’an maka ia seperti halnya rumah yang roboh” (HR.Tirmidzi).

  1. Mempelajarinya dan Mengajarkannya.

Rasulullah  Salallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al quran dan mengajarkannya” (HR.Bukhari).

  1. Menaruh Perhatian Penuh terhadapnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Ustaimin Didalam (Kitabul ilmi) mengatakan:

“Maka sesungguhnya wajib bagi penuntut Ilmu agar semangat membaca Al-Qur’an, menghafalnya, memahaminya, dan mengamalkan isinya, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Tali Allah yang kuat dan menjadi Dasar semua ilmu. Generasi salaf dahulu memiliki semangat yang amat  tinggi dalam hal ini, sehingga sering di sebutkan  kisah-kisah mereka yang menakjubkan tentang tingginya semangat mereka terhadap Al-Qur’an. ..”

Menaruh perhatian penuh kepada Al Qur’an merupan implementasi dari memartabatkan Al Qur’an dalam kehidupan. Hal ini karena di dalam Al Qur’an terdapat hukum tentang kehidupan manusia. Sesuatu yang halal, haram, makruh, mubah, mandub, semuanya telah diatur dalam Al Qur’an. Jangan sampai kita menjadi manusia yang memilah milih dalil Al Qur’an. Yang sesuai dengan dirinya diambil dan yang tidak sesuai dengan dirinya ditinggalkan. Ini adalah ciri-ciri orang mnuafik sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ.

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.

Inilah yang diperbuat oleh Bani Israil terhadap kitab suci mereka. Apa yang mereka senangi mereka ambil dan apa yang mereka tidak senangi mereka tinggalkan. Sehingga mereka mendapat kenistaan di dunia dan diakhirat mendapat siksa yang berat.

Maukah Umat Islam menjadi sebagaimana Bani Israil? Tentu kita menginginkan kehidupan yang diridhoi oleh Allah. Sehingga mengambil hukum di dalam Al Qur’an ataupun menerapkan hukum Al Qur’an dalam kehidupan adalah mutlak. Jangan sampai ketika kita setuju dengan meninggalkan makanan yang diharamkan seperti babi, celeng, darah, bangkai tetapi kita masih bergelut dengan riba bank maupun riba hutang. Kita setuju dengan perintah Ibadah Haji di Baitullah, tapi kita masih menunda-nunda bahkan meninggalkan sholat. Kita setuju dengan syariat Puasa Ramadhan, tapi terkadang kita masih meninggalkan puasa. Kita setuju dengan keharaman zina bahkan mendekat saja tidak boleh, tapi kita masih suka berkaraoke bersama teman-teman wanita yang tidak ada kaitan keluarga dengan kita. Bukankah ketika kita berkumpul dengan para wanita itu bisa menimbulkan fitnah bagi keluarga?.

Maka dengan itu, marilah kita bersama-sama memartabatkan Al Qur’an dengan cara berusaha mengikuti semua perintah dan menaati semua larangan, agar kita tidak termasuk kategori orang yang menistakan ayat-ayat Al Qur’an baik disengaja maupun tidak disengaja. Baik secara sadar maupun secara tidak sadar.

Karena pada hakikatnya. Ketika kita hanya mengambil setengah dari hukum Al Qur’an dan meninggalkan setengahnya, maka secara otomatis kita telah menistakan Al Qur’an, tapi hal ini banyak tidak disadari oleh Umat Islam.

Untuk itu, penulis mengajak para Jamaah sekalian bermuhasabah, agar semua aktifitas kita ini selalu kita perhatikan, apakah melanggar koridor syariat ataupun masih berjalan di dalam koridor ini. Apabila sudah berjalan di dalam koridor syari’at maka Alhamdulillah dan harus ditingkatkan, jika sudah keluar, maka marilah sama-sama kita bertaubat kepada Allah, agar kehidupan ini tidak sempit karena kesalahan yang kita perbuat.

 

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tarakan 10 Nopember 2016.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s