Al-Qur’an Menyatukan Umat Muslim Indonesia

Al-Maidah mempersatukan Umat

img-20161104-wa0016

Hari itu Jum’at 4 Nopember 2016, tepat pukul 12.00 pm, seluruh umat Islam berkumpul di Masjid dalam rangka melaksanakan sholat Jum’at berjamah. Sholat Jum’at adalah kewajiban yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim, Baligh, Laki-laki, Berakal sehat, serta mampu melaksanakannya tanpa ada udzur Syar’i yang bisa menggugurkan kewajiban tersebut.

Kewajiban ini sebenarnya telah disyariatkan di Mekah sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah tetapi tidak dapat dilaksanakan di Mekah karena Umat Islam saat itu masih lemah dan tidak mampu berkumpul untuk mendirikan Sholat Jum’at. Selain itu cobaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy juga menjadi ancaman bagi seluruh umat Islam Mekah dalam melaksanakan sholat berjama’ah pada masa itu. Adapun di Madinah sebelum Nabi saw berhijrah kesana telah ada seorang Sahabat yang mendirikan sholat Jum’at ini. Beliau adalah As’ad bin Zurarah ra, ini menurut riwayat Abu Daud dan diriwayat yang lain dari Ka’ab bin Malik.

Momen pertemuan Umat Islam di setiap hari Jum’at untuk bersama-sama berkumpul dan mendengarkan khutbah adalah sebuah momen yang cocok untuk men”Charge” lagi keilmuan dan ketaqwaan setiap individu muslim. Bagaimana tidak, dalam khutbah Jum’at terdapat dalam salah satu rukunnya adalah Wasiat Taqwa. Wasiat Taqwa inilah yang senantiasa dikumandangkan oleh Para Khatib Jum’at diseluruh masjid di negri kaum muslimin maupun di negri kuffar. Hal ini memandangkan manusia adalah “Makhluq yang mudah lalai dan lupa”, sehingga benar adanya dalam sebuah petuah mengatakan: “Al-Insaanu Mahallul Khoto’ Wannisyan” yang memiliki arti Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Kalaulah seorang manusia berhajat ingin mengumpulkan rekan-rekan se-Aqidahnya untuk bersama-sama berkumpul dalam sebuah majlis, maka paling tidak, Sang Pemilik Hajat ini akan menyediakan hidangan. Minimal hidangan itu berupa air mineral, dan atau cemilan kecil sebagai teman dalam bersenda gurau ataupun sebagai pemecah kesunyian dalam penantian rekan-rekan yang lainnya. Tidak demikian halnya dengan Sholat Jum’at, tanpa adanya makanan, ataupun minuman yang disediakan, umat Islam berbondong-bondong mendatangi Masjid ketika bacaan Al Qur’an ataupun Tarhim dari sebuah Toa masjid telah dibunyikan.

Hal ini membuktikan, seruan Ilahi sangat berpengaruh dengan hadir tidaknya para Manusia ke dalam sebuah Majlis. Begitu juga dengan Ibadah Tahunan yang hanya bisa dilaksanakan setahun sekali yaitu pada bulan Dzulhijjah. Ibadah ini memerlukan kesiapan yang sangat matang. Baik dari segi kesiapan fisik, mental, bahkan finansial yang menjadi kunci utama terselenggaranya Ibadah ini. Akan tetapi, karena seruan ini dan perintah ini datangnya dari Tuhan Semesta Alam, maka manusia dalam hal ini Umat Islam, akan berusaha sedaya upaya untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Hari itu Jum’at 4 Nopember 2016, tepatnya setelah sholat Jum’at, Umat Islam di kota Tarakan berkumpul bersama-sama untuk mengadakan AKSI DAMAI BELA AL-QUR’AN. Aksi ini adalah seruan dan atas prakarsa GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI) pusat, sebagai bentuk kepedulian Umat Islam terhadap Penista Agama Islam dalam hal ini adalah seorang pejabat Gubernur DKI Jakarta. GNPF MUI adalah Gerakan yang bersifat memaksa penegak hukum agar menegakkan supremasi hukum kepada seorang penista agama Islam. gerakan ini di pelopori oleh Habib Rizieq Syihab sebagai (Pembina GNPF MUI), KH. Bachtiar Nasir sebagai (Ketua GNPF MUI), KH. Misbahul Anam & KH. Muhammad Zaitun Rasmin (Waka GNPF).

Dalam seruan AKSI damai ini, Para Ulama dan Habaib di Jakarta menghimbau kepada Umat Islam seluruh Indonesia untuk bersama-sama melakukan AKSI DAMAI di wilayahnya masing-masing sebagai bukti dukungan Umat Islam se-Indonesia bagi penegakan hukum terhadap Tersangka Penista Surah Al Maidah ayat 51 yang notabenenya bukanlah orang yang beragama Islam, Aksi ini tepatnya dilaksanakan setelah Sholat Jum’at.

Umat Islam Kota Tarakan, yang terdiri dari gabungan beberapa Ormas Islam dan Majlis Pengajian, Maupun Ikatan Remaja Masjid dan Para Pemuda Islam yang terkumpul dalam Aliansi Umat Islam  Tarakan beserta Barisan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sepakat untuk melakukan Aksi Damai Bela Al Qur’an. Aksi ini diawali dari Sholat Jum’at secara berjama’ah di Masjid Agung Al-Ma’arif kemudian dilanjutkan dengan Long March menuju Kantor Polisi Resort Tarakan untuk bertemu dengan Kapolres Tarakan yang kemudian akan menyerahkan petisi tuntutan. Kemudian dilanjutkan dengan Orasi dan Ceramah Agama di Depan Halaman Grand Tarakan Mall (GTM).

Aksi ini dipimpin langsung oleh Koordinator Lapangan Al-Ustadz H. Intan Sumantri beserta rekannya Al Ustadz Muhammad Roem. Dalam Orasinya, Korlap menyatakan bahwa AKSI ini bukan hanya jawaban dari panggilan aksi damai dari Jakarta, akan tetapi juga sebagai jawaban dari beberapa isu lokal yang telah terjadi di tarakan yang berkaitan dengan SARA. Karena telah terjadi di negeri Paguntaka ini beberapa kasus Penistaan Agama Islam seperti Terompet Tahun baru yang berbahan cover Al Qur’an, kemudian Petasan yang dibungkus dengan kertas Al Qur’an dan yang terakhir adalah kasus pembuangan AL Qur’an di Jalan Hasanuddin kelurahan Karang Anyar Pantai Tarakan. Yang mana Pelakunya tidak tertangkap sejak melakukan aksinya di tahun 2015. Aparat dalam hal ini pihak kepolisian bertindak lamban dalam mengatasi kasus pembuangan Al Qur’an di sungai ini. Sehingga Majlis Ulama Indonesia Tarakan yang diketuai oleh H. Anas L dan sekjennya HM Ilham Noor langsung bergerak cepat membentuk TPF (Tim Pencari Fakta) dari kalangan Internal MUI Tarakan. Hal ini terjadi di tahun 2016 setelah mendapatkan info terdapat Al Qur’an yang hanyut di Sungai dan tempat yang sama pada hari Jum’at sekitar pukul 14.00 – 17.00. peristiwa tersebut terjadi di bulan Juli- Agustus 2016.

Dalam masa 2 minggu bekerja, TPF –Dengan Izin Allah- mendapatkan petunjuk dan ciri-ciri kendaraan dan fisik pelaku. Sehingga tidak sampai sebulan, kasus ini sudah menjumpai titik terang dgn tertangkapnya Pelaku di wilayah selumit oleh salah seorang anggota TPF yang kebetulan juga tinggal di desa yang sama.

Kembali kepada AKSI DAMAI BELA AL’QUR’AN, aksi ini berlangsung lancar dan damai, tidak ada kegiatan anarkisme dan bakar ban ataupun pengrusakan infrastruktur umum maupun milik negara. Para peserta Unjuk Rasa yang berjumlah tidak kurang dari 1500 orang terdiri dari para Ulama dan Asatidz serta kaum muslimin sekota Tarakan kemudian menyudahi aksi damai dengan Do’a dan kemudian kembali ke Masjid Al Ma’arif dengan berjalan kaki tertib. Tidak ada wajah kemarahan dan kebencian mereka terhadap aparat keamanan. Dan akhirnya selesai di halaman parkir Masjid Al Ma’arif selumit dengan dikumandangkannya Adzan Ashar.

fb_img_1478251478554

 

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Intan's Notes. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s