Mas Kawin Dalam Perspektif Islam

dinar-dirham

Fitrah Manusia.

Allah S.W.T menciptakan manusia di dunia dengan sebuah tujuan. Tujuan ini tertuangkan dalam kitab suci Al Qur’an surah Al Baqoroh ayat 31 yang berisi pembicaraan Allah dengan Malaikat tentang penciptaan manusia. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Malaikat seakan akan terkejut ketika Allah ingin menjadikan manusia sebagai khalifah ataupun pemimpin di dunia. Karena manusia dalam pandangan Malaikat adalah ciptaan yang memiliki hawa nafsu. Sehingga dengan dijadikannya mereka sebagai khalifah, bisa saja terjadi kerusakan dan kehancuran di bumi. Hal ini tercermin dalam pertanyaan Malaikat kepada Allah S.W.T, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dalam hal ini Malaikat merasa bahwa dirinya yang selalu bertasbih dan memuji Allah serta mensucikan Nya, dan mereka merasa lebih berhak menjaga bumi. Tetapi Allah S.W.T lebih mengetahui segala sesuatu. Kemudian berdiamlah para Malaikat semua seraya bertasbih kepada Nya.

Manusia di lahirkan di dunia dengan fitrah yang Allah berikan. Fitrah manusia ini menjadikan mereka tetap eksis berada di dunia dari generasi ke generasi. Sehingga tujuan meramaikan bumi dengan manusia sebagai khalifah di dalamnya dapat terealisasi. Rasa cinta kasih antara sesama manusia, cinta kasih terhadap lawan jenis, merupakan naluri manusia sebagai makhluk ciptaan Allah agar bisa bertahan hidup. Akan tetapi naluri ini haruslah tersalurkan dengan cara yang benar sesuai aturan yang Allah S.W.T tetapkan. Sehingga akan berjalan dengan baiklah semua kehidupan manusia apabila mengikuti jalan yang telah Allah turunkan di dalam kitab suci Al Qur’an. Cara tersebut adalah dengan pernikahan.

Pengertian Nikah.

Nikah menurut bahasa bersatu dan saling menguatkan. Sedangkan Menurut istilah ada beberapa pendapat ulama:

  • Ibnu Qudamah berkata: Nikah menurut istilah adalah lafaz akad nikah.
  • Ibnu Abidin berkata: Nikah adalah bertemunya lazaf Ijab oleh seseorang dan Qobul dari orang yang lain.
  • Berkata Syeikh Ali Hasbullah: Nikah adalah persetujuan antara kedua orang (laki-laki dan perempuan) untuk menghalalkan hubungan antara keduanya dan mengharap ridho Allah S.W.T agar memberikan mereka keturunan dengan jalan yang dibenarkan oleh Islam.

Hukum menikah.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum pernikahan sesuai dengan keadaannya. Dan para Ulama Fiqh berpendapat sesungguhnya pernikahan itu menyandang 5 hukum: Wajib, Sunnah, Mubah, Haram, dan Makruh. Untuk mengetahui mengapa pernikahan bisa menjadi 5 hukum yang berbeda, maka perlu kita kaji sbb:

  1. Hukumnya Wajib bagi seorang Muslim yang sudah baligh dan mampu melaksanakan pernikahan baik secara Jasmani maupun Harta. Kalau tidak menikah kemungkinan besar akan terjatuh ke dalam jurang kemaksiatan.
  2. Hukumnya Sunnah Muakkadah bagi seorang Muslim yang mampu menikah dan mampu menjaga dirinya dari kemaksiatan. Kalaupun tidak segera menikah, dia tidak akan terjerumus kedalam jurang kemaksiatan.
  3. Hukumnya Mubah jika seorang Muslim mampu menikah tapi belum ingin menikah, dikarenakan masih memiliki impian yang belum tercapai.
  4. Hukumnya Haram jika seseorang itu lemah baik fisik maupun keuangannya, dan jika menikah akan membahayakan pasangannya.
  5. Hukumnya Makruh jika seseorang itu memiliki cacat fisik khususnya yang berkaitan dengan organ reproduksi dan susah dalam mencari nafkah (faqir miskin), atau sebab lain seperti tua, sakit, atau lemah fisik dikarenakan lanjut usia.

Saad bin Abi Waqosh berkata: Rasulullah pernah melarang Utsman bin Maz’un utk bertabattul (meninggalkan pernikahan). Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah suatu fitrah manusia. Kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Said bin Jubair dia berkata: berkata kepadaku Ibnu Abbas: “Apakah engkau sudah menikah”? Maka aku jawab: “tidak”, maka ia berkata: “menikahlah”, Karena sebaik-baik umat adalah orang yang memiliki banyak istri.

Dan dari Abu Ayyub Al Anshori r.a ia berkata: Bersabda Rasulullah saw: “Ada 4 hal yang menjadi sunnahku : Sifat Malu, Berparfum, bersugi (bersiwak), dan menikah”. (H.R Tirmidzi).

Adat pernikahan.

Di Indonesia pada umumnya, pernikahan sangatlah sakral. Hal ini dapat dibuktikan dengan terlibatnya budaya setiap wilayah dalam acara pernikahan. Dari Sabang sampai Merauke kesemua wilayah ini memiliki tata cara yang berbeda dalam acara pernikahan. Meskipun akad nikah harus sesuai dengan hukum Islam, bahkan di hadiri oleh petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, akan tetapi rentetan acara setelah akad nikah ini selalu berbeda beda mengikut adat istiadat tempat diadakannya resepsi pernikahan tersebut.

Sehingga tata cara akad nikah ini akan berbeda di setiap daerah, hal ini dikarenakan intervensi adat yang sangat kuat dengan ritual pernikahan tersebut. Akan halnya Mahar ataupun Harta yang wajib diberikan oleh Mempelai pria kepada Mempelai wanita. Mahar inipun berbeda-beda disetiap wilayah. Sesuai dengan kebiasaan dan adat yang terdapat dalam wilayah tersebut. Mengenai hal ini, maka kita akan melihat bagaimana Islam menempatkan mahar sebagai pemberian sang suami kepada Istrinya yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Mahar dalam Islam.

Mahar berasal daripada perkataan Arab. Di dalam al-Quran istilah mahar disebut dengan al-sadaq, al-saduqah, al-nihlah, al-ajr, al-faridah dan al-‘aqd. Menurut istilah syara’ mahar ialah suatu pemberian yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri dengan sebab pernikahan. Terdapat banyak dalil yang mewajibkan mahar kepada isteri antaranya firman Allah dalam surah al-Nisa’ ayat 4 :

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”.

Pemberian mahar suami sebagai lambang kesungguhan suami terhadap istri. Selain itu hal tersebut mencerminkan kasih sayang dan kesediaan suami hidup bersama istri serta sanggup berkorban demi kesejahteraan rumah tangga dan keluarga. Mahar juga merupakan penghormatan seorang suami terhadap isteri.

Memberi mahar kepada istri hukumnya wajib. Menurut Imam Abu Hanifah, istri berhak mendapat mahar apabila akad nikahnya sah. Manakala dalam mazhab Syafi’e, diwajibkan mahar bukan disebabkan akad nikah yang sah saja tetapi juga dengan adanya persetubuhan. Sekiranya akad nikah tersebut fasid (tidak sah), suami tidak wajib memberi mahar kepada istri melainkan setelah berlakunya persetubuhan.

Kejadian Terdahulu tentang Mahar Pernikahan.

Ada banyak kejadian yang telah terjadi di zaman Rasulullah mengenai Mahar dalam pernikahan. Diantaranya:

  1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Shohihnya. Bahwasanya ada seorang wanita dari Bani Fazaroh menikah dengan Mahar sandal. Kemudian Rasulullah bertanya padanya, “apakah kamu rela dengan sandal ini sebagai maharnya?” kemudian wanita itu menjawab. “Ya”. Maka Rasulullah pun membiarkannya.
  2. Dalam Sunan An Nasa’i bahwasanya Abu Thalhah ingin menikahi Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim berkata: “Demi Allah wahai Abu Thalhah, aku adalah seorang wanita Muslimah dan engkau adalah pria kafir, kalau kau ingin menikahiku, maka masuk Islamlah terlebih dahulu, maka itu adalah sebagai maharku”. Kemudian Abu Thalhah masuk Islam. dan itulah mahar termahal dalam Islam. yaitu keislaman Abu Thalhah. Kemudian Tsabit berkata: “kami tidak mendapati sebaik-baik dan semulia wanita di hadapan Allah S.W.T selain Ummu Sulaim”. Maka menikahlah mereka berdua, dan memperoleh banyak keturunan.
  3. Kisah pernikahan Abduurahman Bin Auf dengan mahar 5 Dirham perak, dan Nabi meng-iyakannya.

Dengan kejadian diatas dapat kita simpulkan bahwasanya Sunnah Nabawiyyah meringankan Mahar. Dan tidak menjadikan mahar sebagai penghambat pernikahan.

Mahar saat ini.

Rakyat Indonesia pada umumnya dan Umat Islam pada khususnya, berpandangan bahwasanya barang siapa yang bisa membayar atau mengangkat mahar pernikahannya dengan harga setinggi-tingginya maka menjadi manusia yang mulia di dunia. Padahal terkadang acara pernikahan yang begitu mewah dengan uang “Panai” (mahar) yang tinggi terkadang kandas di tengah jalan. Hal ini karena tren dan zaman sekarang ini, apabila seseorang bisa melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain maka dia akan dianggap sebagai  “The Maestro” di dunia pernikahan. Begitu juga kalau uang panai mencapa 1 milyar ataupun 100 milyar sekalipun, pasti akan menjadi perbincangan di khalayak ramai maupun di media sosial. Inilah tren yang marak saat ini.

Bagaimana kadar mahar yang paling baik menurut Islam?

 Islam tidak menetapkan kadar serta batas maksimal dan minimal dalam menentukan mahar bagi seorang wanita. Mahar tersebut bergantung kepada uruf iaitu keadaan dan suasana suatu tempat dan masyarakat. Sungguh pun demikian, Islam menganjurkan agar kita mengambil jalan tengah yaitu tidak meletakkan mahar terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah. Hal ini sesuai dengan anjuran Rasulullah S.A.W agar mempermudahkan mahar sebagaimana dalam sabdanya :

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَؤُوْنَةً.

“Kebanyakan perempuan yang berkah perkahwinannya ialah yang mudah perbelanjaan maharnya”.

Dalam hadis diatas Rasulullah tidak mengatakan “yang murah perbelanjaan maharnya” akan tetapi Rasulullah menggunakan kata “mudah”. Ini dapat dimaknai secara fleksibel oleh setiap muslim. Bahwa yang mudah itu tidak selalunya murah.

Mungkin bagi seorang anak mentri, mahar senilai 100 juta rupiah itu mudah, lain halnya seorang mahasiswa yang nyambi kerja, kalau di bebankan dengan Mahar sebesar 10 juta rupiah, maka akan terasa berat baginya. Sehingga tolak ukur mudah disini mengikuti kebiasaan dan kekuatan seorang laki-laki yang ingin menikah.

Kesimpulan

Mahar adalah hak istri yang diberikan oleh suami dengan hati yang tulus ikhlas tanpa mengharapkan balasan sebagai pernyataan kasih sayang dan tanggung jawab suami atas kesejahteraan rumah tangga. Hal ini  bertujuan untuk menggembirakan dan menyenangkan hati istri agar istri merasa dihargai dan bersedia untuk menjalani kehidupan bersama suami. Oleh karena itu mahar ini haruslah sesuai dengan kemampuan sang suami dan juga keredaan sang istri. Karena keberhasilan dalam berumah tangga bukanlah dinilai dari seberapa besar mahar yang diberikan, akan tetapi bagaimana keluarga itu menggapai ridho Ilahi dengan mengisi setiap rutinitas keluarga itu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia dan tentunya yang berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala juga.

 

H. Intan Sumantri, B.Irkh.

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ilmi, MBS Tarakan.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s