Khutbah Idul Adha 1437 H. Masjid Al Isti’la’ RSUD Tarakan Oleh: H. Intan Sumantri, B.Irkh.

idul-qurbanالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً

لآإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

لآإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزاَبَ وَحْدَهُ
لآإِلَهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلَّذِىْ هَداَنَا وَأَنْعَمَنَا بِالإِسْلاَمِ وَأَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَنَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِىْ بَلَغَ الرِّسَالَةِ وَأَدَّى اْلأَمَانَةِ وَنَصَحَ اْلأُمَّةِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ هَذاَ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

 

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mukminin Rahimakumulloh!

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur.

Terutama marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang bisa diterima manusia. Tidak semua manusia mendapatkannya, alhamdulillah kita termasuk yang mendapatkannya. Itulah ni’mat Iman dan Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, lurus, benar, bermakna serta selamat di dunia maupun akhirat.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’afiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu Ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan.

Amien, amien ya rabbal ‘alamin.

Selanjutnya khotib mengajak Jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Allah melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan melalui ucapan sholawat dan salam-sejahtera kita kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat Iman dan Islam.

Imamul Muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan Qoidul Mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya Nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah Ta’ala, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah Ta’ala layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

71 Tahun perjalanan Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Berbagai macam permasalahan telah dihadapi oleh negeri ini. Hal ini menjadikan kita sadar bahwa mengisi kemerdekaan merupakan perjuangan panjang yang tiada akhir bagi penduduk bangsa ini. Bangsa yang dikaruniai berbagai macam sumber daya alam yang melimpah, berbagai macam sumber daya manusia yang kompeten, tetapi ternyata tidak cukup untuk membenahi kerusakan moral di seluruh lini kehidupan. Hal ini menjadikan kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa untuk menjadi suatu negara dgn Gelar “Baldatun Tooyibatun wa Robbun Ghofur” tidak cukup dengan mempersiapkan SDM dan SDA yang berkesinambungan. Hal ini menuntut kita untuk mencari keberkahan-keberkahan yang turun dari langit. Yang dengan keberkahan itu bisa menjadikan negeri ini aman, tentram, damai, selamat, dan sentosa.

Disinilah pentingnya kaderisasi para pemimpin Islam yang bisa memperjuangkan Agama ini dalam framework negara Indonesia. Karena apabila umat Islam tidak memiliki pemimpin Muslim dikalangan mereka, maka dengan mudahnya agama ini akan di nistakan dengan berbagai macam permasalahan yang sejatinya bertujuan untuk menyingkirkan syari’at dari tatanan Undang Undang yang telah dijalankan di negeri ini.

Keprihatinan kita sebagai rakyat Indonesia dengan pemberitaan yang tidak adil dan dipandang menyudutkan umat Islam di Indonesia, yang notabenenya kita sebagai Umat Islam adalah umat Mayoritas di negeri ini tetapi minoritas dalam perlindungan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penolakan terhadap peraturan daerah dan Undang undang yang bertujuan melindungi umat Islam. ditambah lagi pemberitaan yang disiarkan langsung oleh Media Sekuler di Indonesia yang menjadikan Muslim dan Islam adalah biang kerok dari semua masalah yang timbul di Indonesia.

Sebagai contoh yang baru saja terjadi di Banten pada bulan Ramadhan lalu, Perda yang melarang para pedagang kuliner untuk berdagang di pagi dan siang hari bulan ramadhan. Hal ini bertujuan untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Perda ini juga tidak seenaknya melarang para pedagang kuliner untuk berdagang. Tetapi tetap memberikan ruang kepada mereka untuk menjual berbagai macam makanannya menjelang magrib sampai saat sahur tiba. Dan ada beberapa tempat yang diperbolehkan mereka untuk berjualan makanan dipagi dan siang hari seperti di Wilayah Rumah sakit, Terminal maupun stasiun. Yang disana terdapat keringanan bagi umat Islam untuk tidak berpuasa karena sakit ataupun dalam keadaan musafir.

Akan tetapi apa yang diberitakan oleh media sangat bertolak belakang dengan kebijakan perda yang telah ada. Media menjadi sarana untuk memperlihatkan ketidak toleran Islam terhadap orang yang tidak berpuasa. Dengan mengangkat Slogan “Kebebasan” dan “Hak Asasi Manusia”, media menyiarkan berbagai macam pola fikir yang justru salah dan menyesatkan. Bagaimana tidak, jika ada seorang Muslim yang sedang beribadah menjalankan Puasa Ramadhan kemudian disuruh untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Berbagai macam logika sesat yang dilaungkan oleh Media Sekuler tanah air dengan slogan Hak Asasi Manusia untuk menjalankan Ibadah atau tidak. Kalau kita berfikir tentang Hak Asasi, maka manakah yang lebih perlu di penuhi, Hak Asasi Manusia atau Hak Asasi Allah….?

Hal ini menjadikan masyarakat awam bingung. Akhirnya muncullah stetmen negatif terhadap syariat Islam yang telah terundangkan di Indonesia. Sehingga sontak kejadian ini memicu pencabutan 1000 perda syariah di seluruh Indonesia oleh Bapak Presiden kita.

Keprihatinan rakyat Indonesia pada umumnya dan Umat Islam pada khususnya tidak hanya berhenti sampai disitu, berbagai tayangan infotainment ataupun hiburan yang sudah merambah di setiap sudut kehidupan generasi muda Indonesia. Yang disadari ataupun tidak disadari telah mendarah daging dan menjadi tren kehidupan anak bangsa. Siaran TV, Sosial Media, ataupun Surat Kabar yang mengusung Tren kehidupan barat juga sudah menjadi santapan generasi muda setiap harinya. Hal ini juga menjadi dilema bagi generasi muda bangsa ini untuk “Move on” dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islami.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

Tarakan sebagai kota Transit para pedagang maupun pelancong dari dalam maupun luar negri, menjadi kota kecil yang ramai penduduk dan sangat kondusif untuk menjadi tempat tinggal ataupun mencari nafkah. Berbagai macam suku berkumpul di kota ini, berbagai adat istiadat yang mewarnai wilayah ini, juga berbagai macam agama yang berdiri tegak di kota ini.

Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah sensitifitas para penduduk kota ini yang dinilai cukup tinggi apabila ada isu yang terkait dengan SARA (Suku, Agama dan Ras). Hal ini menjadikan kota kita tercinta ini sangat mudah terjadi konflik, khususnya konflik kesukuan maupun agama. Maka kita sebagai seorang Muslim yang baik, jangan mudah terpancing oleh hasutan-hasutan maupun provokasi yang sering bergentayangan di Media Sosial, yang bertujuan mengobarkan api kerusuhan antar suku maupun antar umat beragama. Kita sebagai Umat Islam adalah umat yang satu. Tidak ada perbedaan suku, warna kulit, pekerjaan, tingkatan kasta kehidupan, maupun derajat yang lainnya di hadapan Allah Ta’ala. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta’ala dalam surah Al Hujurat: 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٤٩:١٣].

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Sehingga ketika kita yang terkumpul di masjid ini dengan berlatar belakang suku yang berbeda-beda. Kita tetap akan bersatu dalam naungan bendera keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Seperti halnya ketika seorang Imam telah berdiri untuk mengimami sholat, ketika Imam itu berkata “Sawwu Sufufakum” Luruskan dan Rapatkan barisan, maka semua jamaah, baik muda ataupun tua, pejabat maupun rakyat biasa, kaya maupun miskin, akan bersama-sama mengikuti dan taat dengan perintah Imam tersebut. Begitulah seorang muslim yang berjamaah.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

Ada sebuah peristiwa yang meresahkan umat Islam maupun Non Muslim di Tarakan akhir-akhir ini. Peritiwa itu telah terjadi di Tahun 2015 lalu, tetapi tidak berhasil diungkap oleh pihak yang berwajib. Sehingga peristiwa itu terjadi lagi di tahun ini, tepatnya di Bulan Juli hingga Agustus 2016. Peritiwa itu adalah pembuangan Mushaf Al Qur’an secara bersangsur-angsur oleh seseorang yang tidak dikenal. Belum diketahui motif pembuangan Al Qur’an ini. Akan tetapi berkat kerjasama Masyarakat dan Pihak yang berwajib, akhirnya kasus ini bisa diselesaikan dan oknum yang membuang Al Qur’an itu telah diamankan oleh pihak yang berwajib.

Disini perlu kita pahami, bahwa ketika ada salah satu agama dilecehkan atau dinistakan, tidak hanya penganut agama tersebut yang merasa resah, penganut agama lainpun resah, karena takut akan terjadi kesalahfahaman antara umat beragama sehingga menjadi konflik internal antar oknum maupun konflik eksternal agama yang tiada habisnya. Tapi, kita patut bersyukur, dengan Rahmat dan Hidayah Allah serta kerja keras beberapa orang yang peduli terhadap agama ini, pelaku bisa cepat didapatkan dan kemudian masuk kedalam proses hukum positif di Indonesia.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

Dengan datangnya hari ini 10 Dzulhijjah ini,  marilah kita merenungi kembali syariat Allah yang berupa “Udhiyyah” yang telah di syariatkan di tahun 2 Hijriyah. Tahun tersebut adalah tahun di mana disyari’atkannya shalat ‘iedain (Idul Fithri dan Idul Adha), juga tahun disyari’atkannya zakat maal (harta benda).

Tak diragukan lagi, udhiyah adalah ibadah pada Allah dan pendekatan diri pada-Nya, juga dalam rangka mengikuti ajaran Nabi kita Muhammad S.A.W. Kaum muslimin sesudah beliau pun melestarikan ibadah mulia ini. Tidak ragu lagi ibadah ini adalah bagian dari syari’at Islam. Hukumnya adalah sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) menurut mayoritas Ulama.

Ada beberapa hikmah yang perlu kita ketahui dari Syariat Idul Qurban ini diantaranya:

  1. Dengan berkurban, maka kita dapat Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
  2. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –kholilullah (kekasih Allah)- as. yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
  3. Agar setiap Mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan.
  4. Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban. Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia.

Demikian khutbah Idul Adha kita kali ini, Akhirnya marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah menerima amal ibadah kita, terutama rangkaian ibadah di bulan Dzulhijjah ini, mengampuni segala dosa kita. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang bertaqwa serta mencatat kita sebagai calon-calon penghuni surga. Marilah kita juga berdo’a semoga hasil baik yang kita petik dari ibadah puasa arafah, shalat ied dan kurban yang kita lakukan diterima di sisi Allah, amin yaaa Rabbal ‘alamin.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ سَوَاءَ السَّبِيْلِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Intan's Notes, Islamization. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s