Idul Fitri Sebagai Titik Awal Perjuangan, bukan sebagai Ritual Tahunan semata

Islamic Centre Samarinda

 

Umat Islam adalah umat yang istimewa dibandingkan umat manusia yang lainnya di muka bumi ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya suatu bulan dalam satu tahun hijriah (Tahun Islam) yang diistimewakan baik oleh penduduk bumi maupun penduduk langit. Bulan itu adalah Bulan Ramadhan. Bulan ini dikatakan sebagai bulan istimewa yang didalamnya diturunkan Kitab Suci umat Islam. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqoroh: 185.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)”.

Bulan ini diistimewakan dengan adanya Malam Lailatul Qodar. Bulan ini diistimewakan dengan dilipatgandakan semua amal perbuatan. Bulan ini diistimewakan dengan dibelenggunya setan-setan dan ditutupnya pintu neraka selama sebulan penuh.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh Berkah, Rahmat dan Ampunan bagi semua masyarakat Muslim di dunia. Bulan ini sebagai ajang untuk mendidik setiap individu Muslim agar mereka terbiasa menahan hawa nafsunya. Bulan ini juga sebagai ajang mendidik rohani agar patuh dan taat terhadap perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya. Bulan ini bukanlah bulan penyiksaan terhadap jasad manusia sebagai mana dikatakan oleh golongan yang membenci Islam. mereka mengatakan, setiap Muslim harus menahan lapar dan dahaga di siang hari, sedangkan pada malam harinya mereka diperintahkan untuk mengurangi tidurnya seraya menghidupkan malam – malam itu untuk melaksanakan ritual ibadah malam. Begitu menyiksa jasad dan rohani, padahal semua itu dilakukan hanya untuk menyambut hari raya. (begitulah pandangan mereka yang tidak memahami Islam secara keseluruhan).

Ibarat sebuah mesin yang hidup terus menerus sepanjang waktu, tubuh kita juga perlu beristirahat. Organ pencernaan kita juga perlu di istirahatkan dari mengolah makanan yang berat secara terus menerus. Kalaulah sebuah mesin yang kita gunakan untuk membantu pekerjaan kita sehari-hari ini harus ada jam beristirahat ataupun memerlukan sistem pendingin yang memadai, agar mesin tersebut tidak “overheat”, maka begitu juga dengan sistem pencernaan dalam tubuh manusia. Organ tubuh manusia yang Allah Ta’ala ciptakan memang tidak memerlukan waktu untuk beristirahat. Selama nyawa sebagai pendorong utama masih melekat di dalam jasad, maka selama itulah jasad akan berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau dikaitkan dengan Dalil Naqly, maka betullah Sabda Rasulullah S.A.W yang mengatakan:

“Berpuasalah Niscaya engkau akan sehat”.

Walaupun hadist ini adalah hadist lemah yang telah disebutkan oleh beberapa Ulama Ahli Hadist seperti Hafizd Al-Iraqi dalam kitabnya “Mughni an Hamlil Asfar”, Imam Al-Munawi didalam kitabnya “At-Taisir”, begitu juga dengan Imam Uqoily dalam kitabnya “Ad-dhu’afa”, dan yang termasyhur adalah pendapat Syeikh Al-Albani yang mengatakan hadist ini lemah dalam kitabnya “Silsilah Dhu’afa’. Walaupun pada prinsipnya hadist lemah memang tidak dapat dijadikan pegangan, tetapi ada sebagian ulama yang membolehkan berpegang kepada hadist lemah untuk Fadhilat Amal (keutamaan amal perbuatan).

Dari penjelasan ini, maka dengan berpuasa bisa meningkatkan kesehatan kita. Ada juga pengalaman beberapa individu muslim yang mempunyai penyakit tahunan “Maag” yang sering kambuh apabila terlambat makan dan atau termakan makanan yang pedas ataupun asam. Akan tetapi di bulan puasa Ramadhan, penyakit itu tidak kambuh bahkan telah hilang dengan berjalannya bulan puasa sebulan penuh.

Begitu istimewanya bulan Ramadhan, sehingga para Salaf-Assholih terdahulu begitu senang dan bergembira apabila telah datang bulan Ramadhan, bahkan sebelum kedatangan bulan suci ini mereka selalu berdoa agar Allah S.W.T mempertemukan mereka dengan bulan suci ini. Terlebih ketika sudah memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, mereka memperbanyak doa mereka seraya berkata “Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Doa ini berulang-ulang mereka panjatkan dengan harapan mereka bisa menemui Ramadhan di tahun tersebut dalam keadaan sehat wal-afiat.

Ibnu Rajab Al-Hanbali pernah menceritakan bagaimana persepsi sebagian ulama salaf mengenai Ramadhan, Beliau berkata dalam kitab karangannya “Lathaif Al-Ma’arif”.

“Puasalah selama anda didunia! Jadikanlah hari rayamu adalah kematian. Seluruh waktu di dunia adalah bulan puasa bagi orang yang bertaqwa. Mereka berpuasa di dalamnya dari berbagai syahwat serta hal yang diharamkan. Ketika maut datang menjemput, maka berakhirlah masa puasa mereka, lalu mereka mengawali hari raya idul fitri mereka”.

Perkataan Ibnu Rajab yang dinukilkan dalan kitab Lathaif tersebut sungguh membangkitkan kesadaran pada diri kita. Bila pada umumnya orang-orang menganggap bahwa Puasa Ramadhan dan Idul Fitri adalah ibadah tahunan, justru Ulama Salaf menganggap lebih esensial, bahwasanya kehidupan di dunia ini pada dasarnya adalah berpuasa. Dalam arti kata, mereka menahan diri mereka dari berbagai syahwat, maksiat, dan segala perbuatan yang diharamkan sepanjang kehidupan mereka di dunia. Masa berbuka mereka adalah pada saat hari raya yaitu ketika ajal telah tiba menuju kehidupan kedua yang lebih haqiqi.

Dari persepsi diatas, maka kita perlu berfikir sejenak, kira-kita Ramadhan kita sekarang ini sudah sejauh mana kualitasnya? Masing masing individu tentu bisa mengukurnya. Jangan sampai kesalah-fahaman kita dalam memahami bulan Ramadhan ini malah menjerumuskan kita kepada pandangan bahwa Ramadhan dan Syawal (bulan puasa dan hari raya Idul Fitri) hanya sebagai momen tahunan saja, tanpa bisa meninggalkan bekas di dalam Jasmani ataupun Rohani kita untuk bekal menghadapi 11 bulan berikutnya.

Mereka (Para Salaf) sebagaimana riwayat tadi, tidak pernah membeda-bedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan yang lainnya, dalam artian mereka tetap beramal secara maksimal baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Sebagai contoh kecil, kalau kita jeli membaca perintah puasa di bulan Ramadhan, dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, maka harus diingat bahwa goal terakhirnya adalah “Agar kalian Bertaqwa”. Nah, taqwa ini, tentu saja senantiasa terus diupayakan sepanjang kehidupan manusia muslim. Maka, Ramadhan justru dijadikan momentum untuk menularkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dalamnya kepada bulan-bulan lainnya.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi didalam kitab “Nida’ur Rayyan” menceritakan ada seorang Budak perempuan (Hamba Sahaya) yang dijual oleh seorang Salaf. Waktu itu, Tuan barunya lagi sibuk menyiapkan makanan, minuman dan lain sebagainya untuk menyambut Ramadhan. Kemudian Budak itu pun berkomentar:

“Kalian tidak berpuasa, melainkan saat Ramadhan. Dahulu, aku bersama Tuanku yang semua waktunya adalah Ramadhan. Kembalikanlah aku kepadanya!”

Dari sepenggal kisah diatas, kita dapat memahami bahwa bagi mereka (para Salaf), Ramadhan adalah sepanjang usia, sehingga tidak ada bulan lain yang sia-sia. Sehingga seorang budak wanita yang telah berpindah tuan pun tidak rela bila tuannya yang baru tidak melakukan kebaikan sebagaimana tuannya yang terdahulu. Ini merupakan suatu sikap yang telah mendarah daging menjadi karakter dalam diri hamba sahaya perempuan tadi. Dia terbiasa berpuasa dan melakukan amal kebajikan bersama tuannya yang terdahulu. Sehingga dia merasa tidak rela bila tuannya yang baru saja membelinya dari tuannya yang lama, ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Walaupun tanpa kita sadari, Ramadhan akan, sedang beranjak dan meninggalkan kita. Tapi sebagai seorang Muslim yang ideal, sebaiknya kita mengambil pelajaran dengan datangnya Bulan Ramadhan ini untuk dijadikan landasan dan pegangan kita menghadapi ujian kehidupan di 11 bulan yang akan datang. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dengan berakhirnya Ramadhan di tahun 1437 Hijriah Tahun ini, diantaranya:

  1. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk menempa diri, melatih jiwa dan raga untuk senantiasa berbuat kebaikan. Baik dalam hal hubungan kita dengan Tuhan Allah Ta’ala, maupun dengan Hubungan kita dengan sesama Manusia.

  2. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran kita terhadap segala sesuatu yang kita hadapi. Baik dalam ruang lingkup pekerjaan maupun dalam beribadah. Dalam hal pekerjaan misalnya, seorang muslim haruslah bersabar ketika panas terik matahari, dengan keringat bercucuran, mereka harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya dengan harus menahan lapar dan dahaga. Sedangkan dalam ruang lingkup ibadah, umat Muslim harus bersabar dengan berkurangnya waktu istirahat mereka pada malam hari yang kemudian sebagian waktu istirahat itu digunakan untuk bermunajat kepada Allah S.W.T.

  3. Dengan telah berakhirnya “Madrasah Ramadhan” tahun ini, semoga kita mendapatkan predikat “Ketaqwaan” yaitu dengan cara memaksimalkan bulan-bulan setelah Ramadhan dengan amalam-amalan sebagaimana kita lakukan di bulan Ramadhan dengan Istiqamah.

  4. Besar harapan kita sebagai umat Muslim Dunia, agar Allah S.W.T mempertemukan kita dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Karena sampai detik ini, tidak ada “Garansi” bagi setiap Individu Muslim akan bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Kita hanya bisa berdoa dan berdoa seraya memohon kepada Allah agar masih dipanjangkan umur ini, diberikan kesehatan, diberikan rezeki sehingga bisa bertemu dan menikmati Indahnya Ramadhan di tahun berikutnya.

Sebagai penutup dan kesimpulan, penulis ingin mengajak kepada seluruh umat Islam baik yang berada di Tarakan maupun di Wilayah Kaltara, agar bersama sama menjadikan hadirnya bulan Syawal ini, sebagai awal meraih ketaqwaan, sebagai awal perjuangan melawan segala jenis kemaksiatan, sebagai awal mula menjadi Individu Muslim yang taat dan patuh terhadap peraturan, baik peraturan yang dibuat oleh Manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri, terlebih ketaatan kepada peraturan dan rambu-rambu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pedoman kehidupan di dunia ini. Bulan Syawal telah hadir di hadapan kita, waktu terus berjalan, maka kehidupan umat Muslim pun harus berubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana Rasulullah S.A.W pernah bersabda:

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemaren, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama seperti hari kemaren, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari yang kemaren, maka dia termasuk orang yang terlaknat” (H.R. Hakim).

Salam Idul Fitri 1437 H, Taqobbalallah Minna Wa Minkum.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Griya Sehat Jawi El-Zahra, 30 Ramadhan 1437 H.

 

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Islamization, Motivation. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s