Menunda-nunda membayar hutang, Bagaimana Islam menyikapinya?

Oleh: H. Intan Sumantri309827_235817166469157_230986226952251_715190_105872290_n

Islam datang ke bumi ini sebagai penyempurna ajaran yang telah ada sebelumnya. Beberapa ajaran Tauhid yang telah dibawa oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad S.A.W semuanya berisi perintah untuk menyembah Allah dan menjauhi semua sesembahan selain-Nya. Seperti ajaran Hanifiyyah Samhah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail Alaihimassalam, kemudian ajaran Nabi Daud Alaihissalam dalam kitab Zaburnya, Taurat yang di wahyukan kepada Nabi Musa Alaihissalam, dan Turunnya Injil kepada Nabi Isa Alaihissalam. Semua kitab-kitab yang turun dari langit beserta Nabi yang membawanya ini berisikan ajaran untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan yang terakhir turunlah Alqur’an dari Baitul Izzah di langit kepada Nabi terakhir pembawa risalah terlengkap dan menyeluruh. Hal ini menyebabkan terhapusnya semua ajaran pada kitab-kitab terdahulu (Zabur, Taurat,Injil) karena semua syari’at tersebut telah disempurnakan dan dilengkapkan dan disesuaikan dengan keadaan zaman. Sehingga Alqur’an menjadi kitab suci terakhir yang turun dari langit dan akan selalu sesuai dengan keadaan di bumi ini hingga akhir zaman kelak.

Sejak wafatnya Rasulullah S.A.W, umat Islam telah memiliki sumber-sumber rujukan hukum yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sumber hukum Islam itu terdapat dalam Alqur’an, Al Hadist An-Nabawi, Ijma’ Shohabah (Kesepakatan Para Sahabat terdahulu), dan ditambah lagi dengan perkembangan Ilmu Fiqih Islam yang selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dalam menyelesaikan semua masalah yang timbul di era modern yang tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan Sahabat terdahulu.

Hal ini menjadikan Islam sebagai ajaran yang selalu Up-to-date, sehingga semua permasalahan baru dalam umat ini mengenai hukum suatu perbuatan yang tidak pernah ada pada masa terdahulu selalu mendapatkan jawaban yang berlandaskan Alqur’an dan Hadist Nabawi. Hal ini disebabkan karena Ilmu fiqih dan Ulama fiqih selalu ber’ijtihad (mencari hukum) terhadap semua permasalahan yang muncul yang tidak ditemukan jawabannya dalam Alqur’an dan Hadist secara zahir. Sehingga terdapat fleksibilitas dalam agama ini dan selalu ada jalan keluar setiap masalah yang dihadapi oleh umat Islam dengan bantuan Ilmu Fiqih dan para Fuqoha’ di seluruh dunia. Sehingga mereka (Fuqoha’, red: Ulama Fiqih) selalu mengadakan pertemuan setiap beberapa tahun sekali di negara-negara umat Islam untuk membincangkan suatu permasalahan baru yang belum ditemukan jawabannya pada masa terdahulu. Pertemuan tahunan ini kemudian disebut dengan Ma’maj Al Fiqh Al-Islami (pertemuan para Ulama Fiqih sedunia).
Pada artikel edisi ini, penulis akan membahas mengenai hutang. Karena hal ini sangat penting untuk diketahui oleh orang-orang awam. Sehingga setiap individu dari kita tidak mudah atau memudah-mudahkan untuk berhutang kecuali ada niat untuk membayar atau melunasinya.

Pengertian Hutang.

Hutang dalam bahasa arab berasal dari kata “Daana – Yadiinu” yang berarti sesuatu yang tidak ada. Ada juga istilah lain yaitu “Qaradho – Yaqridhu” yang sering diartikan pinjaman. Sedangkan menurut Istilah para Ulama Fiqih, hutang dapat diartikan “sesuatu yang menjadi tanggungan”. Menjadi tanggungan maksudnya adalah ketika seseorang mempunyai hutang kepada orang lain, secara moral dia telah memiliki tanggungan untuk melunasinya. Sebagaimana apabila ada orang yang meminjam uang orang lain, kemudian dia menggunakan uang itu, maka dia berkewajiban mengembalikan kepada pemiliknya semula. Walaupun uang yang dikembalikan bukanlah uang yang dipergunakannya, akan tetapi nilainya harus sama.

Ajaran Islam memberi keluasan kepada manusia dalam kegiatan transaksi jual beli mereka dengan mensyariatkan hutang. Hal ini karena keadaan kehidupan manusia yang selalu berubah-ubah. Terkadang manusia mudah untuk mendapatkan harta, terkadang juga susah dalam mencari harta. Ada yang kaya dan ada juga yang miskin. Ada yang suka membantu dan ada juga yang memerlukan bantuan. Dua hal ini selalu berpasangan. Ditambah lagi tujuan Allah dalam menciptakan transaksi jual beli diantara manusia adalah untuk mempermudah mereka dalam mencari maslahat dalam kehidupannya. Inilah yang menjadikan hutang diperbolehkan dalam syari’at Islam, bahkan diatur dengan beberapa syarat dan ketentuan.

Beberapa syarat dan ketentuan itu adalah adanya uang atau harta yang akan dihutang, adanya niat dari penghutang untuk membayar, adanya saksi dalam hutang piutang, adanya kedua belah pihak yang ingin tolong menolong, adanya kerelaan antara kedua belah pihak dalam akad hutang piutang.

Hal ini sebagaimana tertulis dalam Alqur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertransaksi tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”. (Q.S Albaqoroh: 282).
Makna ayat “bertransaksi secara tidak tunai” merupakan bahasa lain dari membeli dengan pembayaran yang dikemudiankan ataupun berhutang.

Adapun dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shohih Bukhari. Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata:
“Bahwasanya Nabi Muhammad pernah membeli makanan dari seorang pedagang yahudi kemudian menunda pembayarannya dengan waktu yang disepakati bersama, kemudian Rasulullah memberi orang yahudi itu baju besi sebagai jaminannya”.

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Nabi S.A.W bersabda:
“Barang siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud akan membayar ataupun menggantinya, maka Allah akan mempermudahnya, dan barang siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud ingin merusaknya, maka Allah akan membinasakannya”. (H.R Bukhari no. 2387).

Dalam urusan hutang, Islam memerintahkan kepada setiap individu muslim untuk segera melunasi hutang, jika individu tersebut mampu melunasinya dan tidak boleh menunda-nunda pembayaran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah.
“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya” (Q.S. Albaqarah: 283).

Menunda membayar hutang.

Diantara beberapa kasus yang terjadi di masyarakat dalam bab hutang adalah tidak adanya konsekuensi dalam janji yang diberikan oleh penghutang kepada orang yang dihutangi. Sehingga terkadang akan menimbulkan masalah antara kedua belah pihak. Hal ini terjadi karena janji yang tidak ditepati oleh penghutang (kapan akan melunasi hutangnya). Dalam pembahasan fiqih terdapat istilah “Almumatolah wat taflis alkaidi” yang diartikan sebagai menunda-nunda untuk membayar hutang dan berpura-pura menjadi muflis (bokek).

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: “Orang kaya yang menunda membayar hutang adalah suatu kezaliman”. (H.R Bukhari).

Maksud dari hadist tersebut adalah apabila seorang yang mampu untuk membayar hutangnya kemudian dia menunda-nunda pembayarannya tanpa alasan yang tepat, maka itu termasuk perbuatan zalim. Dalam Hadist ini terdapat isyarat pengharaman untuk menunda membayar hutang setelah sampai waktu yang ditentukan untuk membayar. Karena sudah menjadi kewajiban setiap individu yang berhutang untuk menyegerakan membayar hutang jika dia telah memiliki kelapangan dalam harta dan uangnya. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk mengakhirkan pembayaran sedangkan dia mampu membayarnya. Ketika seorang yang berhutang mengakhirkan pelunasan hutangnya, sedangkan dia sudah mampu membayarnya, maka ini sudah disebut suatu kezaliman bahkan bisa mendapatkan hukuman dari perbuatannya itu. Dan Islam telah memerintahkan kepada setiap individu muslim untuk menyegerakan melunasi tanggungan dan menjalankan amanah yang diembannya dan memberi hak-hak orang lain yang ada padanya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (Q.S An-Nisa: 58).

Jika memang telah terbukti oleh orang yang memberikan hutang bahwa si penghutang ini telah mampu membayar hutang akan tetapi dia tidak ingin membayarnya malah kemudian menyembunyikan hartanya dari orang lain. Maka sudah menjadi hak bagi orang yang memberi hutang untuk melaporkan hal ini kejalan hukum. Dalam hal ini Islam memiliki seorang ahli hukum yang dimanakan Qadi (red: Hakim), yang berada di mahkamah Islam. kemudian Qadi ini akan mengambil tindakan yang tepat bagi para penghutang yang tidak berniat melunasi hutangnya.

Maka ada beberapa uqubah (hukuman) yang akan diberikan kepada penghutang karena perbuatannya:

1. Qadi (hakim) akan memenjarakan si penghutang sampai dia bisa melunasi hutangnya. Apabila hakim mendapati harta benda si penghutang yang berupa aset rumah ataupun perabotan rumah yang berharga, maka hakim boleh memerintahkan bawahannya untuk menjual aset berharga tersebut dengan tanpa seizin pemiliknya, untuk melunasi hutang-hutangnya. Baik hal ini dikarenakaan si penghutang sengaja menunda membayar hutang ataupun karena dia berpura-pura bokek. Hal ini sebagaimana telah terjadi pada zaman Rasulullah dimana Ali pernah menjual harta Mu’az untuk melunasi hutangnya Mu’az.

2. Kemudian Hakim juga boleh menjadikannya tersangka yang dicari (wanted). Dengan menulis nama dan memajang fotonya di tempat-tempat umum keramaian manusia. Dan menuliskan bahwa orang tersebut susah melunasi hutang jika berhutang. Hal ini bukan termasuk ghibah yang diharamkan ataupun menyebar aib orang lain di depan umum, karena yang melakukannya adalah mahkamah dalam hal ini hakim sebagai penegak hukum. Sehingga masyarakat akan berhati-hati jika melakukan transaksi jual beli atau keuangan dengan orang yang disebutkan tadi.

3. Kemudian untuk hukuman yang terakhir ini adalah dengan memberikan si penghutang denda yang uangnya tidak diberikan kepada pemilik uang akan tetapi diberikan kepada negara yang selanjutnya dipergunakan untuk maslahat umat dan negara. Setelah di denda, si penghutang tetap wajib melunasi hutangnya kepada orang yang dia hutangi. Hal ini menjadikan dia harus membayar lebih dari hutang yang seharusnya dia bayarkan. Karena yang pertama dia harus melunasi hutang dan yang kedua dia harus membayar denda kepada negara atas perbuatannya menunda membayar hutang. Ini dapat dijadikan pelajaran berharga baginya, sehingga tidak akan mengulanginya lagi di lain waktu.
inilah hukuman bagi orang yang menunda membayar hutang dan berpura-pura miskin, agar tidak ditagih ataupun terhindar dari pemilik uang.

Selain memberikan hukuman, Islam juga memberikan solusi kepada orang yang belum bisa melunasi hutang, yaitu sbb:

1. Islam membolehkan si penghutang meminta tambahan waktu untuk melunasi hutangnya. Hal ini juga akan melatih dan menumbuhkan rasa kasih mengasihani antara kedua belah pihak.

2. Islam membolehkan si penghutang mencicil hutangnya dengan tanpa ada tambahan. Jika dia berhutang 2 juta rupiah, kemudian si penghutang hanya mampu mencicil 500 ribu perbulannya, maka di perbolehkan dengan tidak ada tambahan dari jumlah uang yang dipinjamnya. Jika pinjam 2 juta maka harus kembali 2 juta dengan 4 kali cicilan sebesar 500 ribu perbulannya. Hal ini karena tambahan dalam hutang juga disebut dengan riba yang diharamkan dalam Islam.

3. Islam memberikan solusi kepada si penghutang untuk bekerja di tempat orang yang dihutanginya, dengan perjanjian gajinya yang akan dialokasikan untuk membayar hutang.

4. Cara terakhir jika si penghutang sudah tidak mampu melunasi hutangnya. Maka hal ini akan dikembalikan kepada si pemberi hutang. Apakah si pemberi hutang mengikhlaskan begitu saja dengan pertimbangan kesempitan yang dihadapi oleh penghutang, atau memberi keringanan kepada penghutang untuk membayar setengah dari hutangnya saja. Dan jika si pemberi hutang mengikhlaskan piutangnya, maka dia akan mendapatkan pahala karena telah membantu sahabatnya yang dalam kesempitan.

Oleh karena itu, maka setipa individu muslim haruslah berhati-hati dengan hutang piutang, sehingga tidak mudah jatuh dalam pertengkaran yang bisa mengakibatkan terputusnya jalinan ukhuwwah sesama muslim. Dan alangkah indahnya hidup dunia ini, walaupun sederhana tapi terbebas dari hutang. Dan alangkah buruknya jika manusia bergaya hidup mewah, tetapi memiliki hutang dimana-mana. Sehingga setiap ingin keluar atau bepergian, ia takut bertemu dengan orang yang meminjamkan dia harta atau uang. Hidup sederhana tanpa hutang lebih indah dari hidup mewah bergelimang hutang. Dan yang lebih mulia lagi adalah kekayaan dan kemewahan yang di dapat bukan dari hasil hutang, tetapi hasil keringat sendiri. Sehingga seorang mukmin yang kuat dan kaya lebih bermanfaat bagi saudaranya dibandingkan seorang mukmin yang lemah dan miskin. Karena kemiskinan itu selalu mendekatkan kita kepada kekufuran (kafir).

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tarakan 21 April 2016
Klinik Herbal El-Zahra Tarakan.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Islamization. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s