Rasulullah dan Ta’addud Zaujah (Poligami)

Rasulullah dan Poligami.

Sebahagian orang barat yang mendengar dari pernyataan para orientalis bahwasanya Rasulullah S.A.W tidak mengikuti Dalil yang tertera dalam Al Qur’an dalam hal poligami. Ketika Beliau (Rasulullah) membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi wanita lebih dari 4 orang. Dan kemudian para tokoh orientalis menuduh Rasulullah S.A.W bahwasanya Beliau adalah Hipersex (Wal Iyadzu Billah) sebagaimana yang telah diperbuat oleh raja-raja pada zaman dahulu yang telah melanggar peraturan dalam menikah dengan wanita (yaitu menikah dengan banyak wanita, selir dll).

Dan untuk menjawab subhat yang telah dituduhkan oleh para orientalis ini, kita harus memahami beberapa hal, diantaranya sebagai berikut:

  • Bahwasanya Rasulullah S.A.W  tidak membolehkan pada dirinya apa-apa yang telah Beliau haramkan kepada kaum muslimin, akan tetapi Rasulullah S.A.W menikah dengan semua Istri-istrinya ketika dalil tentang ta’addud (poligami) tidak dibataskan pada 4 orang istri saja, atau sebelum turunnya ayat Alqur’an mengenai poligami yang di batasi kepada 4 orang istri saja, karena ayat Al Quran mengenai pembatasan poligami dengan 4 orang istri diturunkan di akhir tahun ke-8 Hijrah atau 3 tahun sebelum wafatnya Rasulullah S.A.W.
  • Kemudian Rasulullah S.A.W tidak mentalaq (menceraikan) istri-istrinya setelah turunnya ayat pembatasan poligami ini yang telah membatasi poligami hanya dengan 4 orang istri, karena disini terdapat “khususiyyah” (pengkhususan) dari Allah S.W.T kepada Rasulullah S.A.W agar Rasul tidak menceraikan Istri-istrinya bukan karena Allah S.W.T membolehkan Beliau untuk berpoligami lebih dari 4 orang istri, tapi di karenakan ketidakbolehan bagi seorang muslim untuk menikahi Istri Rasulullah S.A.W. Hal ini tidak boleh disamakan dengan kasus istri-istri yang telah diceraikan atau meninggal suaminya dan kemudian boleh dinikahi oleh orang lain. Dan seandainya Rasulullah S.A.W menceraikan salah satu dari istri-istrinya, maka akan jatuhlah derajat istri Rasul di hadapan kaum muslimin, karena cerai itu adalah perkara  halal yang dibenci oleh Allah S.W.T. dikarenakan untuk menjaga kesucian dan wibawa para istri-istri Rasulullah S.A.W, maka Allah S.W.T menghalalkan Rasulullah S.A.W untuk tidak menceraikan Istri-istrinya untuk menjaga wibawa dan kehormatan para Istri Rasulullah juga, sehingga mereka menjadi Ummahat Mu’minin (Ibu dari orang-orang Mu’min). Hal ini sesuai dengan Al Qur’an:

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا.(الأحزاب: 53)

“Kalian sama sekali tidak dibenarkan menyakiti hati Nabi dan–sebagai penghormatan kepada Nabi dan istri-istrinya–kalian tidak diperbolehkan mengawini istri- istrinya sesudah ia wafat. Sesungguhnya dalam pandangan Allah tindakan demikian itu merupakan dosa yang besar”.

  • Bahwasanya Rasulullah S.A.W tidak menikah dikarenakan syahwat ataupun keperluan seksual, seperti yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam yang tidak memahami makna pernikahan kecuali dengan ukuran kenikmatan dan kesenangan. Akan tetapi Rasulullah S.A.W menikah adalah untuk menenangkan hati orang disekelilingnya dari berbagai Kabilah (golongan) dengan cara ikatan kekeluargaan yang dibina dengan cara pernikahan. Dan dari segi lain bahwasanya Istri-istri Rasulullah S.A.W adalah Ibu dari orang-orang Mu’min dan sebagai guru-guru dari wanita-wanita Muslimah dalam perkara agama, dan dikhususkan lagi sebagai guru dalam menjelaskan hukum-hakam yang Rasulullah S.A.W tidak menjelaskannya di hadapan para Muslimah, hal ini dikarenakan ada beberapa hal yang wanita malu bertanya kepada Rasulullah S.A.W, kemudian mereka bertanya kepada Istri-istri Rasul sebagai perwakilan dari Rasulullah S.A.W untuk menjawab berbagai permasalahan wanita menurut pandangan Islam.  Dan sememangnya Istri-istri Rasul adalah wanita yang menjadi rujukan fatwa, pesan dan nasehat, yang mana mereka merujuk kepada Rasulullah S.A.W mengenai hukum-hakam yang berkaitan dengan wanita dan kehidupannya.
  • Dan perlu kita ketahui bahwasanya Istri-istri Rasulullah S.A.W, ketika Rasul menikahi mereka, mereka telah mencapai umur yang boleh dikatakan tua, dan mereka semuanya adalah istri-istri yang diceraikan oleh suaminya disebabkan berbagai macam perkara, kecuali Sayyidah Aishah, Hanya Aishah lah yang Rasulullah S.A.W  menikahinya dan dia masih perawan kecil.
  • Ini adalah sedikit penjelasan tentang sejarah Rasulullah menikah dengan Istri-istri Beliau:

a). Rasulullah S.A.W menikah dengan Siti Khadijah ketika Khadijah berumur 40 tahun, dan Rasulullah S.A.W ketika itu berumur 25 tahun. Dan pernikahan itu bertahan selama 28 tahun tanpa adanya Rasul menikah dengan wanita lain.  Dan setelah wafatnya Siti Khadijah, kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Aishah Binti Abu Bakar.

b). Kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Saudah binti Zam’ah setelah ditinggal meninggal oleh suaminya, yang telah berjuang di jalan Islam demi menegakkan Kalimah Allah yang berhijrah ke Habashah, kemudian orang-orang muslim tidak mau menikah dengannya karena Saudah kurang menarik(cantik) dan telah berumur. Rasulullah S.A.W menikahinya sebagai permisalan kepada kaum muslimin bahwasanya harta dan kecantikan itu bukanlah segalanya dalam diri wanita. Akan tetapi akhlak dan agama adalah hal yang terpenting dalam memilih seorang Istri.

c). Demikian pula ketika Rasulullah S.A.W menikah dengan Hafsah Binti Umar Ibn Khattab, setelah ditinggal meninggal suaminya. Ketika itu ayah Hafsah telah menawarkan dirinya kepada Abu Bakar kemudian ia enggan, kemudian ditawarkan lagi kepada Uthman Bin Affan, kemudian ia enggan juga, kemudian datanglah Umar kepada Nabi menceritakan kesedihan Hafsah ketika ditinggal meninggal oleh suaminya. Dan Hafsah merupakan wanita yang tidak terlalu cantik, sehingga Abu Bakar dan Usman tidak menerimanya, kemudian Rasulullah menerimanya sebagai tanda penghormatan dari kepandaiannya dan sebagai penyambung tali silaturrahim yang kuat antara Rasulullah S.A.W dan Umar Bin Khattab. Dan telah diriwayatkan oleh para ahli sejarah bahwasanya Umar telah berkata kepada anaknya Hafsah: “Sesungguhnya aku mengetahui, bahwa Rasulullah menikah denganmu dikarenakan penghormatannya padaku, karena dirimu sama sekali tidak menarik hatii Rasulullah S.A.W .

d). Kemudian Rasulullah S.A.W  menikah dengan Zainab Binti Khuzaimah yang telah ditinggal meninggal (syahid) oleh suaminya  pada perang Uhud. Dan Zainab ketika itu telah sampai pada kedewasaannya dan kasih sayangnya kepada orang-orang miskin, sehingga dia dijuluki sebagai Ibu dari orang-orang miskin.

e). Kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Ummu Salamah Hindun Binti Abi Umayah yang telah ditinggal meninggal syahid oleh suaminya dalam perang uhud dan ketika itu Ummu Salamah adalah orang miskin yang memiliki banyak anak dan tidak ada seorangpun yang menafkahinya. Kemudian Rasulullah menikahinya dan mencukupkan rezekinya dan menafkahi anak-anaknya.

f). Kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang telah berhijrah dengan suaminya ke Habashah kemudian diceraikan oleh suaminya dan bermukim di Habashah tanpa ada keluarga dan takut untuk kembali kepada keluarganya terutama kepada Ayahnya sendiri, dikarenakan ayahnya adalah musuh bebuyutan muslim pada masa itu sebelum dia masuk Islam. Kemudian Rasulullah S.A.W menikahinya sehingga menyebabkan bergantinya kebencian menjadi kecintaan antara Rasulullah dan Abu Sufyan yang menyebabkan islamnya Abu Sufyan.

 Sebagai Kesimpulan.

Rasulullah S.A.W tidak pernah melanggar perintah Allah yang diturunkan kepada umat Muslim dengan pembatasan poligami hanya kepada 4 orang istri saja.  Yang mana Rasulullah menikah lebih dari 4 istri sebelum turunnya ayat tentang Ta’addud Zaujah (Poligami) dan pada masa itu tidak dibataskan berapa jumlah istri dalam poligami. Dan hal itu adalah Mubah(boleh).

Berkaitan dengan Rasulullah S.A.W menceraikan salah satu istrinya dan kemudian tidak boleh dinikahi oleh muslim yang lain, dengan adanya dalil pengharaman untuk menikah dengan Ummahat Mu’minin, sebagaimana tujuan dari pernikahan Rasulullah adalah untuk melembutkan hati orang-orang arab disekelilingnya dengan cara pernikahan. Dan hal ini sangat bertentangan dengan tuduhan para orientalis yang menuduh Rasulullah S.A.W menikah karena mencintai banyak wanita dan pemenuhan nafsu seksual, kalau memang demikian, maka Rasulullah S.A.W  akan menikah dengan gadis-gadis yang masih perawan, bukan dengan janda.

Semua istri-istri Rasulullah kecuali Aishah, mereka semuanya adalah janda yang ditinggal meninggal suaminya dan manusia enggan untuk menikahi mereka disebabkan umur yang lanjut dan miskinnya mereka. Maka kemudian Rasulullah S.A.W memberikan contoh dengan menikahi janda-janda itu. Dan juga sebagai pelajaran kepada kita semua, bahwasanya Nasab (keturunan), Harta, dan kecantikan, bukan saja sebagai pengukur wanita dalam pernikahan, akan tetapi akhlak yang baik dan agama yang sempurna pada wanita itulah yang menjadi tolok ukur menikahi wanita.  Oleh karena itu Rasulullah meninggalkan kepada kita Ummahat Mu’minin (Ibu dari Orang-orang mu’min) sebagai Pengajar, Murobby, Penasehat, yang mana dari rumah merekalah adanya halaqoh-halaqoh yang mengajarkan akhlak dan mengajarkan wanita-wanita muslimah perkara agama Islam dan tata cara mengurus keluarga, agar menjadi masyarakat Islam yang benar.

Intan Sumantri Sholeh, Assidiq F3.5c

International Islamic University Malaysia.

27/12/2012       4:35pm.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Islamization. Bookmark the permalink.

3 Responses to Rasulullah dan Ta’addud Zaujah (Poligami)

  1. azem says:

    Ustadz Intan..
    tulisan ttg taddud jamaahnya udah ditulis…?

  2. Pingback: Propaganda Poligami dalam Berbagai Perspektif Agama | Selamat Datang di tsuhadykasyihe.wordpress.com

  3. Pingback: Pemikiran Orientalis Tentang Poligami | Selamat Datang di blog kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s