Harapanku Kepada Mu Ya Rabb….

Sya’ban sudah mulai melabuhkan tirainya dengan meninggalkan seribu satu kenangan pahit kepada umat Islam yang masih berada dalam keadaan terhina dan terpecah-belah. Ramadhan 1432H mulai menyingsing dengan seribu satu harapan di hati-hati pencintanya agar di bulan yang mulia lagi penuh keberkatan ini, fajar kemenangan segera terbit bagi menghilangkan segala kedukaan yang melanda umat ini sejak sekian lama. Tubuh umat ini telah berpuluh tahun lamanya menderita kesakitan, terlantar tidak berdaya ditimpa bermacam musibah yang menimpanya dari luar dan dalam. Dalam menahan segala kesakitan yang dialami itu, dengan izin Allah SWT, masih terdapat sisa-sisa kekuatan dalam tubuh umat ini yang tidak pernah berdiam diri dan senantiasa melawan segala penyakit yang mencoba merusakkannya.

Walaupun sukar dikarenakan sedikitnya kekuatan yang dimiliki berbanding banyaknya musuh yang menyerang, namun perlawanan itu sudah mulai menampakkan hasilnya. Ini karena kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh tubuh ini dibantu oleh Pembuatnya Yang Maha Kuasa. Maka tubuh ini semakin hari semakin menguat dan penyakit yang dialaminya semakin hari semakin pulih manakala musuh yang menyerang pula semakin hari semakin melemah dan semakin hilang arahnya. Tubuh yang perkasa ini sudah mulai bangkit dari pembaringan selama ini dan kebangkitan ini tidak pernah disangka oleh musuhnya. Ya, ia sudah mulai menampakkan kekuataannya baik dari segi semangat maupun fisiknya.

Pihak musuh, walaupun sudah mulai goyah, masih tetap memberikan perlawanan yang bertubi-tubi, namun, setiap perlawanan itu hanya semakin melemahkan diri mereka sendiri. Pihak musuh sudah mulai menyadari bahawa sisa kekuatan yang ada pada mereka sesungguhnya tidak lagi mampu bertahan dan akan hancur sepenuhya. Mereka kini hanya menghitung hari menuju perkuburan mereka. Tahun berganti tahun dan bulan berganti bulan, kekuatan yang dimiliki oleh umat Islam sudah tidak dapat dibendung lagi. Ditambah lagi di bulan Ramadhan yang penuh berkah, bulan di mana umat Islam ‘Diisi’ sepenuhnya dan yang ikhlas di antara mereka dilindungi oleh Rabbnya dari syaitan yang dikerangkeng. Inilah bulan di mana umat Islam semakin sadar bahwa mereka adalah umat yang satu dan menjalankan ibadah yang satu, puasa mereka satu, berbuka mereka satu serta tarawih (sholat) mereka satu. Sesungguhnya musuh tidak akan mampu untuk memisahkan ‘kesatuan’ ini. Cuma, apa yang perlu disadarkan dari umat ini agar mereka pulih sepenuhnya dari segala kesakitan ini adalah bahwa mereka seharusnya mempunyai pemimpin yang satu dan negara yang satu yaitu Negara Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah!

Sesungguhnya vaksin atau antibodi yang paling berkesan dalam memulihkan umat ini dari penyakitnya yang kronik adalah ‘Khilafah’. Inilah satu-satunya kelemahan yang masih ada dalam umat ini yang menyebabkannya terpecah-belah. Inilah juga yang membedakan umat Islam sekarang dengan umat Islam generasi terdahulu sebelum umat ini jatuh sakit. Umat Islam terdahulu memiliki seorang Khalifah dan hidup bernaung di bawah kekuasaan Khilafah. Sejak zaman Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, umat Islam berada di bawah Daulah Islamiyyah yang satu dan diteruskan lagi kesatuan ini di bawah pemerintahan Khulafa’ ar-Rasyidin. Umat Islam, ketika berada di bawah pemerintahan Khilafah, telah menjadi umat yang terbaik, terkuat, tersohor dan dimuliakan oleh Allah SWT. Mereka menaklukkan dunia dengan Islam, mereka memberikan kesejahteraan kepada dunia dengan Islam, mereka membawa rahmat Allah ke seluruh dunia dengan Islam, mereka menjadi kuat dan mulia dengan Islam. Itulah hakikat umat Islam yang bersatu di bawah Khilafah satu ketika dahulu. Namun, setelah jatuhnya Khilafah pada 28 Rajab 1342H (3 Maret 1924), segala kekuatan dan kemuliaan itu turut tercabut dari umat Islam.

Justru, tidak ada cara lain lagi untuk mengembalikan posisi umat Islam kepada sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia, kecuali dengan menyatukan kembali umat ini di bawah Daulah Khilafah. Inilah yang membedakan antara Ramadhan pada zaman Rasulullah SAW serta generasi setelahnya dengan Ramadhan pada zaman kita sekarang. Rasulullah SAW dan generasi sesudahnya menjalani Ramadhan di bawah naungan kepemimpinan Islam, manakala sekarang, kaum Muslimin mengarungi Ramadhan di bawah penindasan para pemimpin yang zalim yang tidak menerapkan Islam, sebaliknya memaksakan undang-undang kufur ke atas kita semua. Seandainya umat ini bersatu di bawah Khilafah, maka Insya Allah segala perpecahan dan penderitaan umat ini akan segera berakhir dan diganti dengan segala kebaikan dan rahmat.

Seandainya ada Khilafah, maka menjelang awal Ramadhan, Khalifah dengan serius akan mempersiapkan usaha me-rukyah (melihat) hilal (anak bulan) Ramadhan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW di dalam hadist-hadist Baginda. Khalifah akan mengerahkan para ulama, ahli falak dan pakar astronomi di seluruh penjuru dunia baik yang berada di dalam Negara Khilafah ataupun di luar untuk merukyah hilal. Segala teknologi akan digunakan untuk kepentingan Islam dan kaum Muslimin. Siaran langsung acara rukyatul hilal dari seluruh dunia dapat dibuat dan disaksikan sebagaimana siaran langsung pertandingan sepak bola yang kita saksikan sekarang. Kemungkinan detik-detik terlihatnya hilal dapat disaksikan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia.

Setelah terlihatnya hilal di seluruh bagian dunia ini, maka Khalifah akan segera mengumumkan masuknya 1 Ramadhan atau sekiranya hilal tidak kelihatan, maka bulan Sya’ban digenapkan kepada 30 hari dan Khalifah akan mengumumkan tarikh/tanggal puasa untuk kaum Muslimin seluruh dunia, tanpa mengira garis batas negara sesama Islam, yang sudah tidak lagi wujud di waktu itu. Siaran langsung khutbah (ucapan) Khalifah akan dipancarkan sama ada melalui televisi, radio maupun internet oleh Da’irah al-I’lami (Jabatan Informasi) dari ibu kota Khilafah yang akan dapat disaksikan dan didengar melalui satelit oleh semua umat Islam di seluruh belahan dunia. Dengan kecanggihan sains dan teknologi yang ada, yang Insya Allah akan dimanfaatkan untuk Islam keseluruhannya, maka seluruh dunia, baik dunia Islam maupun dunia kafir akan dapat melihat keagungan pemerintahan Islam dan penyatuan umat Islam di dalam menyambut Ramadhan.

Tatkala itu, umat Islam menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan di mana mereka akan mulai berpuasa pada hari yang sama, 1 Ramadhan yang sama untuk kaum Muslimin. Sekiranya terjadi perbedaan pendapat sekalipun dalam menentukan awal dan akhir Ramadhan, namun hal ini dapat diatasi dengan mudah berasaskan aqidah Islam di mana perintah Imam/Khalifah itu wajib ditaati berdasarkan kaedah syara’ yang telah menyatu dalam hati umat,”amrul Imam yarfa’ul khilaf” (perintah Imam/Khalifah menghilangkan perbedaan). Sebagaimana umat Islam taat kepada pemerintah mereka yang zalim yang ada sekarang di dalam memulai tarikh 1 Ramadhan, maka Insya Allah adalah jauh lebih mudah dan menggembirakan bagi umat Islam untuk taat kepada perintah Khalifah yang adil dan bertakwa yang akan menentukan tarikh 1 Ramadhan di bawah naungan Daulah Khilafah.

Setelah selesai solat maghrib berjamaah di malam 1 Ramadhan yang diimami oleh sang Khalifah, beliau pun akan berkhutbah kepada umat Islam, sebagaimana Rasulullah SAW berkhutbah (yang juga diikuti oleh Khalifah Umar al-Khattab ra) yang intinya mengingatkan kaum Muslimin tentang keutaman bulan Ramadhan di mana pahala akan dilipatgandakan, bulan kesabaran, bulan pertolongan Allah kepada hambaNya, bulan keampunan (syahrul maghfirah) dan bulan jihad fi sabilillah. Melalui khutbah yang disiarkan secara langsung ini, Khalifah akan mendorong umat Islam untuk melaksanakan amalan wajib di bulan Ramadhan dan memperbanyakkan amalan sunat seperti membaca Al-Qur’an, sholat tarawih, memperbanyak sedekah, menuntut ilmu dan lain-lain lagi. Rakyat Daulah Khilafah pun akan khusyuk mendengar khutbah dan nasihat dari Khalifah, sebuah khutbah yang bukan untuk meraih manfaat dunia atau dipenuhi hipokrasi sebagaimana khutbah para pemimpin umat Islam hari ini. Khutbah ini akan pasti menggentarkan jiwa musuh-musuh Islam yang mendengarnya.

Seandainya ada Khilafah, sesungguhnya bulan Ramadhan ini tidak akan kita isi hanya dengan menahan lapar dan dahaga, membaca Al-Qur’an atau solat tarawih berjamaah, tetapi juga akan diisi dengan berperang di jalan Allah SWT (jihad fi sabilillah). Sebagaimana Rasulullah SAW yang telah memobilisasi umat Islam untuk berjihad dalam perang Badar dan Fathu Makkah pada bulan Ramadhan, maka pada bulan yang sama, Insya Allah Khalifah akan menggerakkan umat Islam di seluruh penjuru dunia, menggerakkan tentera-tentera Islam yang sekian lama ‘dimandulkan’ oleh para pemimpin sekarang, untuk segera meraih kesyahidan atau kemenangan, dengan membebaskan negeri-negeri Islam yang masih dijajah oleh negara-negara imperialis. Umat Islam bersama jutaan tentera Islam yang terlatih yang terdiri dari berbagai bangsa, bermacam ras dan warna kulit, dari berbagai benua, bergerak bersama-sama di bawah komando sang Khalifah ke Palestin, Iraq, Afghanistan, Kashmir, Selatan Thailand dan lain-lain bagi menyahut seruan Allah dan RasulNya. Ramadhan akan diisi dengan salah satu amalan yang paling mulia yakni jihad fi sabilillah tanpa bisa dihalangi oleh nasionalisme yang selama ini membelenggu dan Khalifah akan ‘mempersetankan’ PBB yang selama ini menjadi penghalang. Tatkala itu, gementarlah jantung orang-orang kafir musuh Islam, pucat-pasilah wajah-wajah mereka dan kehancuran mereka amatlah dekat.

Seandainya ada Khilafah, umat Islam tidak akan melalui hari-hari di bulan Ramadhan dengan penuh noda dan dosa. Umat Islam tidak akan melaluinya dengan hidangan berbuka yang berlebihan di ruang-ruang ber AC apalagi di hotel-hotel mewah, sementara membiarkan ramai saudara-saudara mereka yang terpaksa berbuka dengan segelas air putih dan segenggam roti. Khalifah tidak akan sekedar mendorong umat Islam untuk memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan terhadap orang yang miskin, karena sedekah, walaupun mendapat pahala, tetapi tidak akan menyelesaikan masalah kemiskinan secara tuntas. Apa yang akan dilakukan oleh Khalifah adalah membuang ‘sistem’ yang memiskinkan rakyat, yaitu sistem Kapitalis dan menggantinya dengan sistem ekonomi Islam yang akan pasti membawa kesejahteraan kepada umat Islam khususnya dan dunia pada umumnya.

Khalifah akan menerapkan ekonomi syariah yang akan menghentikan praktik-praktik ekonomi kapitalis yang menjerat rakyat dan menjadi jalan yang diambil oleh para pemimpin sekuler untuk merampas kekayaan negeri-negeri umat Islam. Praktik perbankan ribawi, saham yang spekulatif, mata uang kertas yang bersandarkan kepada dolar dan sebagainya yang menjadi penyebab utama ketidakstabilan ekonomi akan segera dihentikan. Bersandarkan kepada sistem ekonomi Islam, Khilafah akan membuka dengan luas sektor ekonomi nyata (bukan spekulatif) yang akan menyediakan lapangan kerja kepada umat. Khilafah juga akan menjamin pemenuhan keperluan asas setiap individu rakyat (makan, pakai dan tempat tinggal) dan menjamin pendidikan dan kesehatan yang gratis untuk rakyat.

Seandainya ada Khilafah, maka umat Islam akan melalui Ramadhan tidak lagi dengan sikap yang hipokrit dan dusta. Kita terlalu sering mendengar secara berulang-ulang umat Islam menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan ketaqwaan, tetapi hakikatnya mereka masih tetap bergelimang dengan riba tanpa sedikit pun rasa takut kepada Allah. Banyak yang menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan untuk beribadah, tetapi hakikatnya mereka hanya berdiam diri dengan sistem kufur yang ada sekarang. Banyak yang menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan rahmat, tetapi hakikatnya mereka masih tegar dengan amalan Assabiyyah dan wathaniyyah yang diharamkan oleh Islam. Berulang-ulang kali umat Islam menyatakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an yang harus kita jadikan pedoman hidup, tetapi hakikatnya masih ramai di kalangan umat Islam yang mencampakkan (hukum-hukum) Al-Qur’an. Umat Islam menyatakan bahwa  Al-Quran adalah ‘hudan linnas’ (petunjuk bagi manusia), tetapi hakikatnya mereka mengabaikan petunjuk ini sepanjang masa.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Rasullah SAW kepada umatnya sebagaimana dinukilkan oleh Allah SWT di dalam Al-Quran.

“Berkatalah Rasul, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran ini sebagai suatu yang diabaikan” [QS. al-Furqan (25):30].

Para Mufasirin mengkategorikan banyak sikap dan perilaku kaum Muslimin yang dikatakan sebagai mengabaikan Al-Quran atau mengambilnya secara acuh tak acuh. Di antaranya adalah menolak untuk mengimani dan membenarkannya, tidak mentadabbur (melihat dan mengkaji) dan memahaminya, tidak mengamalkan dan tidak mematuhi perintah dan larangannya serta berpaling darinya. Seandainya ada Khilafah, Insya Allah hal ini tentu tidak akan terjadi karena Khilafah akan menjadikan Al-Quran sebagai hukum (undang-undang) negara yang wajib diterapkan dalam segala aspek kehidupan. Khilafah akan melaksanakan sistem pendidikan di mana Al-Quran dan Hadist dijadikan teras pelajaran dan bahasa Arab diwajibkan agar setiap seorang dari umat Islam dapat memahami Al-Quran. Dengan demikian Al-Qur’an dan As-Sunnah benar-benar menjadi pedoman hidup dan pentunjuk bagi umat Islam.

Seandainya ada Khilafah, maka kita akan menyaksikan bukan sekedar pembebasan umat Islam dan tanah-tanah kaum Muslimin dari cengkraman penjajah oleh Sang Khalifah, malah kita akan menyaksikan Khilafah membuka (futuhat) negeri-negeri baru yang tidak pernah dibuka oleh umat Islam generasi terdahulu. Kita akan menyaksikan bukan saja negara-negara kecil, malah negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa ditaklukkan oleh Khilafah. Kita akan menyaksikan pusat Kristen (Roma) akan jatuh ke tangan Islam, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah SAW tatkala ditanyakan oleh sahabat:

“Di antara dua kota, yang manakah akan dibuka terlebih dahulu, Konstantinople atau Roma? Jawab Rasulullah SAW, ‘Konstantinople yaitu kotanya Heraklius” [HR Ahmad].

Konstantinople telah pun dibuka oleh panglima Islam dan tentara Islam yang terbaik di bawah pimpinan Muhammad al-Fatih setelah lebih 800 tahun janji Rasulullah SAW. Namun kota kedua yang dijanjikan oleh Rasulullah akan dibuka yaitu Roma, masih lagi belum dibuka hingga kini. Siapakah lagi yang akan membuka kota Roma ini dengan jihad dan futuhat, jika bukan Khilafah yang kedua?

Penutup

Wahai kaum Muslimin! Sukarkah untuk kalian memahami bahawa Agama Islam ini sesungguhnya telah dikembangkan oleh generasi terdahulu tatkala mereka dipimpin oleh seorang Khalifah melalui jalan dakwah dan jihad ke seantero dunia? Sukarkah untuk kalian memahami bahwa segala kebesaran, kehebatan dan kemuliaan yang diraih oleh umat Islam terdahulu adalah karena mereka bernaung di bawah Daulah Khilafah yang senantiasa berdakwah dan berjihad membuka negeri-negeri baru dan menerapkan hukum Allah di tanah mana pun yang mereka pijaki? Justru, fahamilah bahwa hanya dengan adanya Khilafah, maka barulah umat ini akan meraih kembali kemuliaannya sebagai umat yang terbaik yang dikeluarkan oleh Allah untuk manusia. Ya Allah! Jadikanlah Ramadhan kami ini yang terakhir tanpa Khilafah….Amin ya Rabbal Alamin.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Islamization. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s