Kriteria memilih Calon Suami

Memilih calon suami merupakan perkara terpenting dalam kehidupan seorang muslimah.

  1. Siapakah pemuda yang  akan menjadi pasangan hidup anda?
  2. Siapakah pemuda yang akan menjadi calon ayah dari anak-anak anda?
  3. Siapakah yang akan menjadi pendamping hidup anda sama ada didunia maupun di akhirat kelak?
  4. Siapakah yang akan menjadi pengingat anda menuju ketaatan kepada Allah S.W.T yang akan membawa anda pada kesuksesan hidup baik didunia maupun di akhirat?

Memilih suami sama pentingnya seperti memilih seorang istri, sebelum kita memasuki pembicaraan mengenai memilih seorang suami, kebiasaan daripada orang tua adalah memilih calon istri untuk anak-anak mereka, tapi terkadang kenapa kita tidak memilihkan calon suami untuk anak wanita kita? Jikalau sekiranya saya memiliki anak wanita, dan anak wanita ini cerdas, memiliki adab sopan santun yang baik, dan taat kepada orang tua, mengapa kita tidak berfikiran untuk mencarikannya calon suami yang baik? Mengapa sebagian besar orang tua kurang memikirkan tentang calon suami anak-anak wanitanya? Sesungguhnya ini adalah perkara yang baik dalam agama.

Disebutkan di dalam al Qur’an Al-Karim, Nabi kita Syuaib a.s melamarkan seorang pemuda untuk anak perempuannya, dan beliau memilih seorang pemuda yang bernama Musa, kemudian Nabi Syuaib a.s berkata kepada Nabi Musa a.s: “Sesungguhnya aku ingin menikahkanmu dengan salah satu dari kedua anak wanitaku wahai Musa, aku memiliki 2 anak wanita, kemarilah Musa, pilihlah salah satu dari mereka!” Nabi Syuaib memilih Musa karena dia adalah pemuda yang shaleh.

Dan begitu juga yang terjadi kepada baginda Umar Bin Khatab r.a  yang mencari calon suami yang shaleh untuk anak wanitanya. Diriwayatkan bahwasanya Abdullah Bin Umar berkata: pada suatu hari, meninggallah suami Hafsah binti umar bin khatab, kemudian bertemulah Umar dengan Abu bakar, dia berkata kepada Abu bakar: “Hafsah telah bersedih dengan meninggalnya suaminya, apakah kamu ingin menikahinya?” Kemudian Abu bakar tidak menjawab sama sekali. Setelah beberapa hari berlalu, bertemulah Umar dengan Ustman, kemudian dia berkata kepada Ustman: “Hafsah sedang bersedih karena baru saja ditinggal mati suaminya, apakah kamu ingin menikahinya?” Kemudian Ustman menjawab: “Berikan aku beberapa hari untuk memikirkannya”. Setelah beberapa hari kemudian, Ustman memutuskan untuk tidak menikahinya. Lalu datanglah Rasulullah menikahi Hafsah.

Dan suatu hal yang tidak dipungkiri bahwasanya memilih seorang pemuda yang shaleh untuk wanita yang sepadan dengannya adalah hal yang dianjurkan dalam agama. Jika sekiranya ada orang tua yang melihat seorang pemuda yang shaleh, berakhlak baik, taat pada tuntunan agamanya, cerdas, tampan, sehat jasmaninya, berasal dari keturunan yang baik, maka langsung saja tawarkan untuk menikahi anak wanitanya. Orang-orang shaleh terdahulu juga telah melakukan hal yang sedemikian.

Karena sesungguhnya hati orang tua akan sakit apabila melihat anak muslimahnya yang telah menikah dengan seorang pemuda, tapi pemuda itu tidak benar-benar memeliharanya. Oleh karena itu alangkah baiknya apabila sebelum menikah dengan seorang pemuda, para muslimah perlu memperhatikan 5 perkara:

  1. ISLAM. Pilihlah seorang yang muslim. Allah S.W.T berfirman: “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya hamba sahaya yang mu’min lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu…”.  Janganlah sekali-kali menikah dengan seorang pemuda yang bukan mu’min. Dinyatakan dalam sebuah kisah seorang yang bernama Ummu Sulaim, beliau adalah ibu dari Anas bin Malik, dia dilamar oleh Abu Thalhah setelah ditinggal meninggal suaminya. Dan ketika itu Abu Thalhah adalah seorang musyrik. Dan dia adalah pria yang kaya raya, dia memiliki banyak uang baik dari dirham maupun dinar, dan dia juga memiliki banyak emas dan perak, dan ketika Abu Thalhah ingin melamarnya, Ummu Sulaim berkata: “Sesungguhnya kamu adalah pemuda musyrik, dan islam telah melarang pernikahanku denganmu”. Kemudian Abu Thalhah menjanjikan untuk memberikan emas dan perak kepada Ummu Sulaim, tetapi Ummu Sulaim tidak langsung menerimanya, kecuali dengan syarat Abu Thalhah mau masuk Islam dan menjadi pemuda muslim yang beriman. Kemudian Abu Thalhah berfikir, dan dia masuk islam di hadapan Rasulullah S.A.W, dan kemudian menikahlah dia dengan Ummu Sulaim. Inilah wanita yang memperoleh mahar termahal di dunia yaitu masuk islamnya Abu Thalhah dan sebagian harta milik Abu Thalhah di berikan kepadanya.
  2. SHALEH. Pilihlah seorang pemuda yang shaleh. Karena tidak semua pemuda muslim itu shaleh. Dan juga anak biasanya pasti akan menyerupai ayahnya. Rasulullah S.A.W bersabda: “Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah (suci), maka orang tuanya yang akan menjadikannya yahudi, majusi atau nasrani..”. Apabila seorang ayah adalah pemuda yang shaleh, maka anaknya juga Insha Allah akan menjadi shaleh. Lalu bagaimana cara mengetahui bahwa seorang pemuda adalah pemuda yang shaleh? Tanyalah apa pendidikannya? Siapa yang telah mendidiknya? Siapa yang mengajarinya adab sopan santun? Ketahuilah tentang keluarganya dan dimana dia dibesarkan? Tidak cukup sekiranya menilai seseorang itu hanya dari shalat atau puasanya. Kadang ada juga orang tua yang ketika datang seorang pemuda melamar anaknya, ia menanyakan, apakah kamu shalat wahai pemuda? Ya paman. Kemudian langsung memutuskan bahwa anak ini shaleh. Menilai dari shalat adalah baik tapi bukan segalanya. Ada sebuah kisah, sebuah keluarga yang kaya yang memiliki seorang anak wanita. Kemudian ayahnya duduk bersama ibunya untuk memikirkan siapakah yang layak menjadi suami dari anak semata wayangnya. Dan ditengah perbincangan tersebut, adalah seorang pemuda yang ingin mencuri dari rumah itu, dan ketika itu dia telah memanjat tembok rumah. Kemudian dia mendengarkan apa yang diperbincangkan oleh keluarga tersebut. Kemudian ayah wanita itu berkata: “Kita tidak memiliki seseorang yang akan mewarisi kekayaan kita. Kecuali setelah kita menikahkan anak kita kepada seorang pemuda yang shaleh”, kemudian Ibunya berkata: “Itu adalah hal yang bagus”. Lalu ayahnya berkata: “Bagaimana cara mendapatkan seorang pemuda yang shaleh?”. Itu hal yang mudah. Besok, pergilah kemasjid, perhatikan pemuda yang datang ke masjid paling awal dan yang keluar paling terakhir, perhatikanlah siapa yang melakukan hal itu sampai beberapa hari, itulah pemuda yang shaleh. Kemudian ayahnya pergi untuk melihat siapakah pemuda yang berbuat demikian. Tapi hal ini tidak sepenuhnya benar. Dan disisi lain, kesempatan ini digunakan oleh pemuda yang ingin mencuri tadi, karena dia juga belum menikah. Maka esoknya pemuda tersebut pergi ke masjid setiap kali waktu shalat. Menjadi paling awal datang dan paling akhir keluar. Hal itu berlangsung selama tiga hari. Selama itu tuan rumah tersebut memperhatikannya. Maka pada hari ketiga ia menegur pemuda itu. Kemudian orang tua itu berkata: “Wahai pemuda, aku sedang mencarikan calon suami untuk anak wanitaku, dan aku telah melihatmu selama 3 hari ini, sholat 5 waktu berjamaah di masjid ini, dan kau menjadi orang yang pertama datang ke masjid dan orang yang paling terakhir keluar. Dan aku melihatmu sholat dangan khusyu’”. Kemudian pemuda itu berkata: “Wahai Paman, janganlah engkau mengira aku hanya mengerjakan sholat, aku juga berpuasa senin dan kamis”. Demikian pemuda itu mengatakan dengan bangga. Mendengar penuturan pemuda tersebut, orang tua itu mengatakan, “Aku kagum dengan shalatmu, tetapi puasa yang kamu sebutkan membuatku ragu…kenapa kamu mengabarkan kepadaku sedangkan aku tidak menanyakannya..?” Jadi shalat dan puasa bukan merupakan tolok ukur keshalehan seorang pemuda. Dan banyak lagi orang yang sholat dan berpuasa tetapi dalam pergaulan sehari-hari mereka kurang baik. Perhatikanlah kembali siapa yang telah mendidik pemuda ini, dimana dia dibesarkan, bagaimana keadaan keluarganya, siapa temannya.
  3. MEMILIKI BEKAL MATERI. Seorang pemuda harus memilik bekal materi. Apabila ada seorang pemuda yang datang kepada muslimah untuk menikahinya, tetapi dia tidak memiliki rumah, sama ada itu rumah sewa ataupun rumahnya sendiri, dia tidak memiliki penghasilan tetap, dia tidak memiliki tempat tinggal. Ketika ditanya oleh calon mertuanya: “Bagaimana kamu mau menikahi anakku, sedangkan kamu tidak memiliki apa-apa?” Kemudian pemuda itu menjawab: “Allah akan mengirimkan kepadaku harta”. Allah tidak akan memberikan rizki tanpa ada usaha, seorang lelaki harus memiliki penghasilan bulanan untuk memenuhi keperluan kehidupannya. Akan tetapi pemuda ini tidak memiliki apapun, dia masih menjadi seorang pelajar, tetapi dengan keindahan perkataannya, dia telah banyak menjanjikan calon istrinya dengan perkataan yang baik-baik, kemudian wanita tersebut terperangkap dengan janji-janji manisnya, sehingga mereka terbang dalam mimpi-mimpi itu. Dan yang menjadi syarat dalam pernikahan untuk seorang pemuda adalah memberi nafkah kepada istrinya. Nabi S.A.W bersabda: ” Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah mampu, maka menikahlah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa belum mampu maka berpuasalah, sebab ia akan dapat mengendalikanmu “. Dan yang dimaksud dengan mampu disini adalah memiliki bekal materi. Walaupun anda telah sampai 25 tahun, tetapi tidak memiliki bekal materi, maka bersabarlah dengan berpuasa, sampai datang kepadamu kemudahan dari Allah S.W.T untuk menikah. Dan bagi para wanita juga jangan khawatir, karena Allah akan menjadikan setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dikisahkan ada seorang sahabat wanita yang bernama Fatimah Bin Qais pernah meminta pendapat Rasulullah saw ketika ia dilamar oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm. Rasulullah memberi tahu bahwa Mu’awiyah adalah pemuda yang miskin, sedangkan Abu Jahm adalah seorang yang suka memukul istrinya. Kemudian beliau menyarankan supaya Fatimah menikah dengan Usamah. Karena dia pemuda shaleh dan memiliki harta. Maka Fatimah binti Qais menikah dengan Usamah.
  4. NASAB/KETURUNAN. Diwajibkan kepada calon suami harus memiliki garis keturunan yang baik, jangan sampai meridhoi kepada seorang pemuda yang datang dan ingin menikahimu padahal kamu belum mengetahui silsilah keluarganya. Wahai para muslimah, maka jika ada yang datang melamar maka pilihlah pemuda yang memiliki keturunan yang jelas dan berasal dari keluarga yang baik dan mulia. Tingkat kemuliaan dalam agama adalah diukur dari ketakwaan. Janganlah menerima pemuda yang datang melalui pintu belakang. Cara yang benar untuk ditempuh oleh pemuda adalah dengan datang bersama keluarga menemui orang tua muslimah untuk mengkhitbah. Jadi muslimah perlu berhati-hati sekiranya ada pemuda yang mengajak untuk menemui seorang ustad untuk melakukan akad nikah dengan hanya menghadirkan temannya sebagai saksi.
  5. KETAMPANAN. Pemuda yang akan menjadi pendamping hidup wanita muslimah hendaknya memiliki wajah yang menyenangkan ketika dilihat. Tidak mungkin dapat hidup bahagia seandainya seorang istri takut melihat wajah suaminya. Oleh karena itu ketika proses berkenalan antara kedua calon diperbolehkan untuk saling melihat wajah, supaya keduanya ridho dengan keadaan pasangannya.

Umar bin Khatab ra pernah berkata, “Janganlah kamu paksa anakmu untuk menikah dengan laki-laki yang berwajah jelek. Karena seorang muslimah juga menginginkan pasangan yang memiliki wajah sepadan”.

Sebelum menutup penyampaian ini ada tiga hal yang perlu untuk para wanita muslimah:

Pertama, Jangan menikah kecuali anda dan keluarga ridho. Jika anda ridho namun keluarga anda tidak atau keluarga ridho sedangkan anda tidak, maka jangan lakukan.

Kedua, Carilah pada calon suami anda tentang agama dan akhlaknya, kemudian barulah cari hal-hal yang lain.

Ketiga, Janganlah tertipu dengan rayuan seorang pemuda, yang menjauhkan anda dari keluarga anda dan membawa anda pergi. Ketahuilah, bahwa ia adalah serigala yang ingin memangsa dan kemudian akan mencampakkan diri anda. Karena sesungguhnya Allah S.W.T menyuruh kita untuk mendatangi rumah dari pintu-pintunya. Maka apabila ada seorang pemuda yang datang ingin mengkhitbah wanita, maka dia haruslah datang kepada orang tua wanita tersebut, kemudian datang bersama keluarganya dengan tata cara yang baik.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Islamization. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kriteria memilih Calon Suami

  1. Dewi says:

    Maaf, saya mau bertanya. Saya sudah menjalin hubungan serius dengan seorang pemuda. Namun belakangan saya baru tahu kalau orang tua dan keluarganya tidak pernah sholat. Hanya beliau saja yang rajin sholat. Orang tua saya tidak setuju karena alasan keluarganya yang tidak pernah sholat tersebut. Apa yang harus saya lakukan, ustadz? saya tidak tega meninggalkan beliau…

  2. Pulau Tidung says:

    Saya haturkan banyak terima kasih buat tulisannya yang berisi hal penting dan banyak menuliskan hal tema religi sebagai manusia biasa yang banyak dosa jujur saja saya perlu wajib terus belajar banyak mengenai ajaran Islam disebabkan karena merasa fakir dan kurang dan perlu informasi bermanfaat dari artikel-artikel. hormati saya Kudrta di Pulau Kecil=

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s