Kalimat K.H. Hasan Abdullah Sahal (Senin,18 April 2011)

(Pidato ini disampaikan oleh K.H. Hasan Abdullah Sahal pada malam serah terima amanat Koordinator Gerakan Pramuka. Saya rekam dan saya tulis ulang, karena saya anggap menarik, sangat menarik, maka saya sampaikan kepada teman-teman, semoga ada manfaatnya). Baca yang pelan, ikuti gaya bicara Ust Hasan ketika beliau berpidato, terasa enak dibaca. selamat membaca ya…

 

Manusia ingat dunia lupa akherat adalah sumber bencana, manusia berusaha tanpa berdoa adalah bencana, manusia berdoa tanpa berusaha adalah bencana. Yang di atas tidak merasa kalau di atas, tidak mau bertanggungjawab atas amanatnya. Yang di bawah juga tidak mau tahu kapan taat dan kapan tidak taat. Disinilah sumber bencana “Karena adanya kekosongan, al ajwaf-jawfa’, keropos, memikirkan materi ndak memikirkan moral, orang memikirkan moral tidak memikirkan materi, akhirnya kekosongan”. Alam rusak karena manusia, manusia tidak menempatkan dirinya sebagai makhluk yang akan memimpin alam. Nabi kita, Nabi kita itu rahmatan lil’alaminwa maa arsalnaaka illaa rahmatan lil’aalamiin, wa nunazzilu minal Qur’ani maa huwa syifaa’un wa rahmatun. Rahmah, untuk supaya kerahmatanlil’alaminnya Nabi kita Muhammad, untuk menjadi fungsinya al Qur’an sebagai syifa’ dan rahmah perlu hidayah, dan Islam itu lah yang namanya hidayah.

Bagaimana alam di sekitar ini tetap abadi, tetap terjaga, tetap bermanfaat?. Semua itu untuk manusia, di dalam beribadah kepada Allah, “Lakum”. Di dalam al Qur’an itu “khalaqo lakum maa fissamaawaati wal ardh” “ja’ala lakumul ardho”, lakum, “alladzii ja’ala lakumul ardho firoosyan wassamaa_a binaa_an”, lakum. Kamu kalau bertanya “hai kebo, hai wedus, hai kadal, kodok, kamu diciptakan untuk apa?”. Mereka akan menjawab “untukmu wahai manusia”. Bertanya kepada nyamuk “Kamu nyamuk diciptakan di dunia untuk apa?”. Mereka akan menjawab“untukmu manusia”. Apalagi tumbuh-tumbuhan, untukmu. Tetapi manusia diciptakan “liya’buduni” untuk menyembah Allah.

Sumber bencana karena apa? “Karena meninggalkan fungsi”. Jadi, mengapa terjadi bencana disana-sini? “Karena adanya kehilangan atau perpindahan atau kerusakan fungsi”. Manusia cape’ jadi manusia, binatang pengen jadi manusia juga nggak bisa, laki-laki bosan jadi laki-laki, perempuan juga bosan jadi perempuan, payah. Monyet-monyet itu sekarang itu pada protes, karena apa? Karena manusia ganti nama, kalau jadi pacaran mereka cinta monyet. Marah mereka, mbok cinta manusia kenapa cintanya koq cinta monyet?.

Kebo itu juga marah, hehehe, teruskan sendiri. Mereka pengen ganti nama, karena apa? Karena namanya sudah dikorup oleh manusia, dicopet oleh manusia, kenapa nama saya dipake? Mbok cintanya “cinta kirik (anak anjing)” gitu, koq nama saya yang dipake?. Kebo, kerbau juga marah, itu di atap kita ada cicak, mbok namanya “kumpul cicak” kenapa nggak itu?, kumpul tanpa akad nikah itu. Marah, kecewa mereka.

Laki-laki bosan jadi laki-laki, pakai giwang, pakai anting-anting, pakai kalung, tinggal kasih lonceng aja itu. Perempuan capeee’ jadi perempuan, pengen jadi laki-laki. Cape’ bosan jadi perempuan, ulah tingkahnya itu, hehehe, teruskan sendiri. Gajah cape, di Lampung itu gajah pakai jilbab, warnanya hijau, dihiasi, di atasnya itu ada makhluk ndak pakai baju, yang tertutup auratnya hanya tinggal seperempat atau sepersepuluh dari badannya. Bingung, ini manusianya mana binatangnya mana? Itu di Lampung, manusia cape berpakaian. Betul? Ya Allah…

Sumber bencana, la hawla wa la quwwata illa billah. Kita yang bertanggungjawab mengembalikan manusia kepada kemanusiaan yang sempurna. Kamu jadi santri harus bisa macam-macam termasuk pramuka, renang dan lain-lain. Kamu kalau ada berada di sungai di danau, naik sampan, meskipun kamu pinter bahasa arab, pinter bahasa inggris, matematika 9, fisikanya 9, tapi nggak bisa berenang, kalau terguling apa yang terjadi? Hah? Bahasa arabmu itu ghoiru musta’mal ketika itu.“SOMBONGNYA MANUSIA KARENA BISANYA, LUPA BERAPA YANG TIDAK DIBISAI”. Itulah makanya, disinilah banyak kekosongan akhirnya banyak tidak beres, sumber bencana.

Kita jangan menyalahkan orang lain. Yang harus disalahkan adalah diri kita sendiri. Sekarang di Indonesia, terjadi bencana. Dulu waktu Tsunami di Aceh, apa komentar orang? “itu gara-gara Aceh banyak maksiat, karena disana banyak bid’ah, banyak khurofat, atau mau keluar dari Indonesia, akhirnya diterjang oleh Tsunami”, yang ngomong itu kira-kira orang Jawa itu. Habis itu ganti Jawa Barat kena Tsunami, banjir lagi. Apa kata orang Jawa Tengah? “ooo, itu gara-gara banyak maksiat, disitu banyak molimo, disitu banyak syirik, banyak orang yang berbuat maksiat, makanya dapat adzab dari Allah”, seakan-akan dia orang yang sholeh. Habis itu kena lagi, ganti Jogja yang kena gempa, apa kata orang lain? “wah itu gara-gara banyak syirik, disana banyak bid’ah, banyak orang yang maksiat, banyak orang yang kumpul kebo, pasti itu dapat adzab dari Allah”, yang ngomong itu seakan-akan orang sholeh. Jalan lagi, Jawa Timur lumpur Lapindo. Apa katanya? “gara-gara maksiat”. Seakan-akan orang hanya tinggal menyalahkan orang lain, seakan-akan dirinya yang paling sholeh. Ini termasuk sumber bencana. Apa sumber bencana? “Karena merasa dirinya itu sholeh, seakan-akan dirinya itu paling takut, kemudian menyalahkan orang lain”.

 

Celakanya, waktu ada Tsunami itu ada selebriti atau artis yang ngomong “Ini peringatan dari tuhan supaya orang-orang jangan sombong, yang sombong itu adalah orang yang suka mengkritik artis-artis”. Padahal Ulama’ kemarin mengatakan “Kita mendapat bencana karena banyak zina, banyak maksiat, banyak mengumbar aurat, banyak hubungan yang tidak beres, dan sebagainya dan sebagainya”, yang dimaksudkan adalah kaum artis. Besok pagi baru artis ada yang ngomong, “gara-gara maksiat”, apa maksiatnya? “Itu lho orang-orang yang menjelek-jelekkan artis”. Ini yang menjadi sumber bencana “Menyalahkan orang lain, membela diri tidak pada tempatnya”.

 

Maka, “MARI KITA ISI HIDUP INI DENGAN YANG BERMANFAAT, JADILAH MANUSIA YANG BERMANFAAT, JANGAN HANYA PANDAI MEMANFAATKAN DAN JANGAN SAMPAI HANYA DIMANFAATKAN”.

 

Pesan saya kepada kalian, sama halnya saya berpesan kepada anak kandung saya sendiri meskipun bukan saya yang mengandung, “JANGAN SAMPAI KAMU TIDAK MEMPUNYAI KEUNGGULAN YANG DIANDALKAN”. Keunggulan yang baik-baik, bukan seperti: keunggulan saya adalah ngebut di jalanan, nongkrong di tepi jalan, dan sebagainya diteruskan sendirilah. “BERSYUKURLAH KAMU MENJADI SANTRI”.

Semoga ini bermanfaat bagi kita semua. Kyai-kyai kita, guru-guru kita selalu mengharapkan dan mendoakan kita menjadi orang yang alim dan sholeh, mempunyai peradaban sendiri, merubah keadaan yang kacau ini menjadi baik. Dalam bahasa Ustadz Syukri “Kita punya peradaban sendiri, kita ini perang peradaban dengan orang luar (non muslim), maka pandai-pandailah kamu mempantas-pantaskan dirimu sebagai santri, sebagai ustadz, sebagai alumni Gontor. Pantas pola fikirnya, sikapnya dan tingkah lakunya”.

Ditulis oleh: Syamsul Effendi

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Motivation. Bookmark the permalink.

3 Responses to Kalimat K.H. Hasan Abdullah Sahal (Senin,18 April 2011)

  1. Terimaksih dan jazakumullah ya..sebagai bahan disertasi saya…..

  2. Pingback: Mencari Islam yang sebenarnya | Fahmi Agustian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s