Menyongsong 25 Tahun…

Pagi ini alarm subuh di handphone berdering dengan nada khasnya.

Adzan dari Musholla As-Siddiq pun berkumandang dengan lantangnya.

Tapi mata ini sangat berat untuk membuka, seakan-akan ada batu yang beratnya berpuluh kilo berada tepat di atas kelopak mata.

Dan akhirnya setelah gangguan setan itu pergi, bangkitlah seorang pemuda dari tilam birunya yang empuk.

Dengan keadaan yang setengah sadar, dia melirik ke jam dinding yang bergambarkan “Twin Tower” tepat diatas katilnya.

Beberapa menit kemudian berderinglah “HP Nokia” dengan kerasnya, menandakan bahwa seorang teman  telah siap untuk mengajaknya pergi ke suatu tempat wisata.

Karena pada hari sebelumnya, pemuda ini telah membuat “Appointment” bersama 3 orang kawan satu kuliahnya, yang kesemuanya adalah Pemuda yang juga selalu taat pada perintah Agamanya.

Dia bergegas mengangkat HPnya, dan mengatakan :  “OK, Aku akan bersiap-siap, beri aku 10 menit”.

Kemudian setelah waktu berjalan sekitar 8 menit, mulailah pemuda itu keluar dari kamar menyusuri tangga, dari lantai 4, dia turun dengan membawa “Helmet” dan “Tas ransel Eiger”nya.

Kemudian dia berjalan bersama 3 orang temannya menuju terminal bus dengan menggunakan motor.

Hanya selang beberapa menit kedatangannya di “Stesen Bus”, Bus Persiaran (Baca : Bis Pariwisata) yang sejatinya akan membawa mereka ke “Tempat Wisata” yang berada di dataran tinggi itu telah pergi meninggalkan mereka.

Dengan rasa kecewa dan terpaksa, mereka harus menggocek sedikit Ringgit untuk dapat pergi pada kloter selanjutnya.

Setelah menunggu sekitar 45 menit, tibalah bus kedua dengan tujuan tempat wisata tersebut, dengan segera, 4 pemuda itu langsung bergegas memasuki bus yang berwarna merah hati dengan gambar bangunan yang berwarna-warni dan tulisan “20° Celcius” yang berarti bahwa suhu di tempat wisata itu berkisar antara 20 derajat celcius kebawah.

Dengan berbekal sedikit makanan ringan , mereka menikmati perjalanan dan hiburan yang ada di tempat wisata tersebut, dan tanpa terasa waktu telah beranjak senja, itu tandanya mereka harus segera menuruni bukit yang berjarak  kurang lebih 3,4 km untuk sampai ke pemberhentian bus di bawah.

Dengan mengendarai sebuah “Gondola” yang digantung pada tali seling yang terbuat dari baja, mereka menikmati keindahan hutan hujan tropis yang berada di bawah mereka.

Dan akhirnya sampailah para pemuda tadi di tempat pemberhentian Bus yang akan membawa mereka pulang ke tempat belajar mereka.

Setelah selesai menunaikan ibadah Sholat Magrib, mereka bersama-sama meninggalkan tempat wisata itu dengan menumpang pada bus merah hati sebagaimana yang mereka tumpangi pada pagi harinya.

Alunan musik dari Handphone masing-masing dari pemuda itu menemani mereka mengarungi perjalanan menuju tempat belajar mereka.

Hari ini adalah saksi bisu atas genapnya umur dari salah seorang dari 4 pemuda itu, yang mana akan selalu terkenang dan takkan pernah terlupakan.

Dan semoga dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh 4 Sekawan itu, mereka bisa bermanfaat untuk Agama, Negara, dan Keluarganya kelak di suatu masa nanti…

As-Siddiq F4.5c

12:18 am

International Islamic University Malaysia

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Intan's Notes. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s