Sebuah Renungan untuk Kotaku Tercinta “Bumi Paguntaka”

Hari ini langit cerah diikuti mendung di sore hari.

Kemudian Rintik-rintik hujan menyertai datangnya adzan Ashar.

Hati sedih bercampur gelisah menyelimuti.

Suatu keadaan yang damai telah berubah.

Suatu tatanan kehidupan yang harmonis telah terusik.

Suatu kebaikan telah tertutupi keburukan.

Suatu ketenangan telah berubah menjadi kericuhan.

Negri yang ku kenal sebagai Negri yang Aman dan Damai.

Dimana rakyatnya selalu hidup dalam ketenangan.

Tapi suatu ketika,…

Semua telah berubah.

Kota yang ku kenal sebagai Pelabuhan Samudra.

Kota yang ku kenal sebagai Ladang Minyak yang melimpah-ruah.

Kota yang ku kenal sebagai Pintu Gerbang perdagangan dunia.

Kota yang ku kenal sebagai  “Bumi Paguntaka”.

Kota yang membesarkanku sampai bisa berdikari dan mandiri.

Mengapa harus ada Pertikaian…?

Mengapa harus ada Perseturuan…?

Mengapa harus ada korban yang berjatuhan…?

Mengapa harus ada yang dikorbankan…?

Mengapa…?

Mengapa…?

Dan Mengapa…?

Ingatlah Wahai Manusia, kehidupan di dunia ini hanya sementara.

Jangan sampai karena “Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga”.

Jangan biarkan keinginan individu menjadi keinginan berjamaah.

Jangan mudah untuk mengikuti apa yang kita tidak tahu asalnya.

Karena mengikuti tanpa mengetahui asas bagaikan…

“2 keledai yang membawa beban”

Yang satu membawa Garam, dan yang satu lagi membawa Karang.

Tidak tahu apa yang di bawa, dan tidak tahu kemana mau dibawa.

Jadilah Manusia yang bisa menghargai ciptaan Nya.

Karena Manusia diciptakan bukan untuk saling menyalahkan.

Walaupun Manusia adalah tempat Salah dan Lupa.

Bukan berarti Manusia akan selalu salah dan lupa.

Saling mengingatkan dan saling membenarkan adalah jawabannya.

Dunia hanya ada 2 pilihan, Hidup Mulia atau Mati Syahid.

Bukan karena Hidup Mulia kita harus menyingkirkan selain kita.

Bukan karena Mati Syahid kita harus berjuang mempertahankan hidup.

Tapi hiduplah berdampingan dengan Aman dan Damai.

Karena pada dasarnya kita semua adalah Bersaudara.

Dan Al Quran diturunkan sebagai   “Rahmatan Lil Alamin”.

Hentikanlah Perseturuan, Hiduplah dengan aman dan damai.

Karena Kemuliaanmu adalah pada Kedamaianmu.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Intan's Notes. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sebuah Renungan untuk Kotaku Tercinta “Bumi Paguntaka”

  1. InsyaAllah fil Jannah kulluna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s