Ramadhan Kareem

Puasa Ramadhan wajib hukumnya bagi : Seorang muslim, berakal, baligh, mampu berpuasa, dan tidak sedang haid atau nifas. Sedangkan anak kecil disuruh untuk berpuasa jika ia mampu agar menjadi terbiasa.

Masuknya bulan Ramadhan dapat diketahui melalui salah satu dari dua hal :

  • Melihat Hilal bulan Ramadhan dengan kesaksian seorang muslim yang adil dan mukallaf (yang telah dibebani hukum) walaupun yang bersaksi itu seorang wanita.
  • Menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban sebanyak 30 hari. Kewajiban Puasa Ramadhan dimulai dari terbitnya fajar Shodiq sampai terbenamnya matahari. Dalam melaksanakan puasa wajib dan diharuskan berniat sebelum fajar.

Hal-hal yang membatalkan puasa :

  • Berhubungan badan pada kemaluan wanita, orang yang melanggarnya wajib mengqhodo’ dan membayar kafarah (denda), yaitu memerdekakan budak, jika tidak menemukan, maka berpuasa selama 2 bulan berturut-turut, jika tidak mampu maka memberi makan 60 orang miskin. Jika tidak mampu juga, maka lepaslah kewajibannya.
  • Keluarnya nutfah (mani) karena berciuman, bersentuhan atau onani. Adapun jika keluarnya mani itu karena bermimpi maka tidak batal puasanya.
  • Makan dan minum dengan sengaja, jika karena lupa maka puasanya tetap sah.
  • Mengeluarkan darah dari tubuh dengan cara Hijamah (berbekam) atau donor darah. Adapun darah yang sedikit keluarnya untuk pemeriksaan laboratorium, atau keluarnya tanpa disengaja seperti luka atau mimisan tidaklah merusak puasa.
  • Muntah dengan cara disengaja. Jika ada debu yang terbang dan masuk ke kerongkongan, atau ketika berkumur-kumur (Istinsyaq) ada air yang masuk ke tenggorokan atau berkhayal hingga keluar mani, atau bermimpi basah, atau keluar darah/muntah dengan tidak disengaja, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa.

Bila seseorang yang makan karena mengira saat itu sudah malam kemudian ia sadar bahwa saat itu masih siang, maka ia wajib mengqhodo’ puasanya. Adapun orang yang makan pada malam hari sedang ia ragu dengan terbitnya fajar, maka tidak batal puasanya. Jika seseorang makan pada siang hari dan ia ragu apakah matahari telah terbenam, maka ia wajib mengqhodo’ puasanya.

Hukum orang yang tidak berpuasa : Haram hukumnya tidak berpuasa pada bulan Ramadhan bagi orang yang tidak memiliki udzur. Adapun wanita yang sedang haid atau nifas, atau orang yang dibutuhkan untuk tidak berpuasa guna menyelamatkan jiwa seseorang, diharuskan untuk tidak berpuasa. Disunahkan bagi seorang musafir yang diperbolehkan untuk mengqhosor sholat untuk tidak berpuasa jika puasa tersebut memberatkannya. Begitu juga bagi orang yang sakit yang khawatir akan bahaya karena berpuasa. Diperbolehkan tidak berpuasa bagi orang mukmin yang menempuh perjalanan pada siang harinya, juga bagi wanita hamil atau sedang menyusui jika keduanya khawatir akan keselamatan diri dan bayinya, dan kesemuanya wajib mengqhodo’ saja. Namun apabila wanita hamil dan yang sedang menyusui tidak berpuasa karena khawatir keselamatan anaknya saja maka selain qhodo’ harus memberi makan seorang miskin untuk setiap hari keduanya tidak berpuasa.

Siapa yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua atau sakit yang tidak ada harapan kesembuhannya, maka ia memberi makan 1 orang miskin untuk setiap hari dimana ia tidak berpuasa dan tidak perlu mengqhodo’ puasanya.

Orang yang mengakhirkan qhodo’ puasanya karena adanya udzur hingga datang Ramadhan tahun berikutnya, maka ia hanya berkewajiban untuk mengqhodo’ saja, namun jika hal tersebut terjadi tidak karena udzur, disamping mangqhodo’ ia harus memberi makan 1 orang miskin untuk setiap hari yang ia tidak berpuasa. Bagi orang yang meninggalkan qhodo puasa Ramadhan karena suatu udzur, kemudian meninggal dunia, maka ia tidak berkewajiban apa-apa, namun jika hal tersebut tidak karena udzur, maka diberikan makan 1 orang miskin untuk setiap harinya dan disunatkan bagi keluarga dekatnya berpuasa untuk menggantikan puasa qhodo’ Ramadhan yang ditinggalkan, atau puasa nazar yang belum sempat ia tunaikan, juga disunatkan melaksanakan nazar ketaatannya kepada Allah.

Siapa saja yang tidak berpuasa karena adanya udzur, kemudian udzur tersebut hilang pada siang hari bulan Ramadhan, begitu juga jika seorang kafir masuk islam, atau seorang wanita suci dari haidnya, atau orang yang sembuh dari sakit, atau seorang musafir kembali, atau seorang anak kecil mulai baligh, atau orang gila kembali waras pada siang hari bulan Ramadhan sedangkan ketika itu mereka tidak berpuasa, mereka wajib mengqhodo’nya meskipun mereka melaksanakan puasa sisa waktu hari tersebut. Bagi orang yang diperbolehkan meninggalkan puasa Ramadhan tidak boleh berpuasa apapun selain puasa Ramadhan.

Beberapa hal yang perlu kita ketahui :

  • Siapa saja yang berhadas besar seperti junub, haid atau nifas jika keduanya telah suci sebelum fajar, mereka semua diperbolehkan menunda mandi hingga selesai adzan subuh, dan mendahulukan makan sahur, dan puasanya tetap sah.
  • Seorang wanita boleh menggunakan obat penunda datang bulan pada bulan Ramadhan dengan tujuan agar ia dapat ikut serta beribadah bersama kaum muslimin yang lainnya jika hal tersebut tidak berbahaya baginya.
  • Seorang yang sedang berpuasa boleh menelan air ludahnya atau dahak yang ada dalam kerongkongannya.
  • Nabi Muhammad S.A.W bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا اْلإِفْطَارَ وَأَخَّرُوْا السُّحُورَ . -رواه أحمد

“Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan makan sahur” (HR. Ahmad).

Dan Sabda beliau :

لَا يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لِأَنَّ اْليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَ. –رواه أبو دادود

“Agama ini senantiasa berjaya selama manusia menyegerakan berbuka ; karena orang-orang Yahudi dan Nasrani menunda-nundanya” (HR Abu Daud).

  • Disunahkan berdoa ketika akan berbuka, sebagaimana sabda Nabi Muhammad S.A.W :

إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً لَا تُرَدُّ . -رواه ابن ماجة

“Sesungguhnya seseorang yang berpuasa ketika ia berbuka mempunyai doa yang tidak ditolak” (HR Ibnu Majah).

Diantara doa yang disyari’atkan untuk dibaca ketika berbuka adalah apa yang diucapkan Nabi Muhammad S.A.W :

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ اِنْ شَاءَ اللهُ. –رواه أبو داود

“Telah hilang dahaga, dan urat-urat telah basah, dan semoga mendapatkan pahala Insya Allah” (HR Abu Daud).

  • Disunahkan berbuka dengan Ruthab (Kurma Basah), jika tidak ada maka dengan Tamar (Kurma Kering), dan jika tidak ada maka hendaklah berbuka dengan air.
  • Seseorang yang sedang berpuasa hendaknya tidak memakai celak, obat tetes mata atau telinga, untuk menghindari masalah yang dipertentangkan.
  • Wajib hukumnya bagi orang yang berpuasa untuk meninggalkan Ghibah (membicarakan orang lain), tindakan adu domba, perbuatan dusta dan yang semisalnya. Apabila ia dicaci maki atau dicerca oleh orang lain, maka hendaklah ia berkata : “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”. Dengan menjaga lidah dan anggota tubuh lainnya dari perbuatan dosa berarti ia telah menjaga puasanya. Diriwayatkan Bahwa Nabi S.A.W bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَاْلعَمَلُ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي اَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ. -رواه أحمد

“Siapa saja tidak meninggalkan perkataan bohong atau melakukan perkataan bohong tersebut, maka Allah tidak memerlukan ia meninggalkan makan dan minumnya” (HR Ahmad).

  • Disunahkan bagi orang yang diundang jamuan makan sedangkan ia sedang berpuasa untuk mendoakan orang yang telah mengundangnya, dan jika ia tidak sedang berpuasa maka hendaklah ia memenuhi undangan tersebut.
  • Lailatul Qodr adalah malam yang paling mulia sepanjang tahun. Malam tersebut khusus didapatkan pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, dan besar kemungkinannya jatuh pada malam ke-27. Perbuatan shaleh yang dilakukan pada malam tersebut lebih baik daripada perbuatan shaleh yang dilakukan selama seribu bulan.

Lailatul Qadr memilik tanda-tanda yaitu : Pada pagi harinya matahari terbit dengan warna keputih-putihan dan tidak begitu bercahaya, dan cuacanya sedang, kadang-kadang seorang muslim mendapatkannya tanpa ia ketahui. Jadi sudah seharusnya ia berusaha segiat mungkin dalam beribadah pada bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari terakhir pada bulan ramadhan, dan berusaha jangan sampai malam-malam itu berlalu begitu saja tanpa melaksanakan sholat. Apabila telah selesai melaksanakan sholat tarawih berjama’ah, maka hendaklah ia bergegas pergi sampai imam selesai melaksanakan shalat tarawih secara sempurna, supaya ia mendapatkan keutamaan shalat malam.

  • I’tikaf yaitu berdiamnya seorang muslim yang berakal didalam masjid untuk melakukan keta’atan. Bagi seseorang yang melaksanakan I’tikaf disyartkan bersih dari hadas besar, dan tidak boleh keluar dari tempat i’tikafnya kecuali untuk hal yang tidak dapat ia hindari, seperti makan, buang hajat dan mandi wajib. I’tikaf nya menjadi batal jika ia keluar dari masjid tanpa ada keperluan apa-apa, atau melakukan hubungan intim.

I’tikaf disunahkan untuk dilakukan sepanjang waktu, lebih ditekankan pada bulan Ramadhan, dan lebih ditekankan lagi pada 10 malam yang terakhir pada bulan Ramadhan.

Waktu paling minim untuk melakukan I’tikaf adalah satu jam, dan disunahkan untuk tidak kurang sehari semalam. Seorang wanita tidak boleh I’tikaf kecuali atas seidzin suaminya. Disunahkan bagi orang yang sedang beri’tikaf untuk menyibukkan diri dengan ibadah dan ketaatan, tidak banyak mengobrol dan meninggalkan sesuatu yang bukan urusannya.

About intanelwahdy

Graduate of International Islamic University Malaysia B.A In Islamic Studies. Member of Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia Branch Kaltara Member of Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia Tarakan
This entry was posted in Intan's Notes. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s