Umat Islam menyambut “Madrasah” Ramadhan

Umat Islam menyambut “Madrasah” Ramadhan

Oleh: H. Intan Sumantri.

Koordinator Aliansi Umat Islam Tarakan (AUIT)

Ramadhan

Allah S.W.T menciptakan hari Jum’at sebagai hari istimewa dalam satu pekan. Demikian pula Allah S.W.T menjadikan bulan Ramadhan menjadi bulan yang istimewa diantara bulan-bulan yang lainnya. Hal ini menjadi sebuah kelebihan yang dimiliki oleh Umat Islam. karena dengan adanya 2 hal yang istimewa baik di tiap minggu maupun di tiap tahunnya, umat Islam bisa bermuhasabah (red: instrospeksi diri). Adakah kedzoliman kita kepada Sang Pencipta dengan mengurangi hak-hak Nya? Adakah kedzoliman kita terhadap diri kita sendiri dengan bermaksiat? Adakah pula kedzoliman kita kepada sesama manusia dengan mengurangi hak-hak mereka? Semua ini adalah waktu yang Allah S.W.T berikan kepada setiap individu muslim untuk mengingat perbuatannya yang telah lalu agar selalu menjadi yang terbaik dari hari ke hari.

Pergolakan Perjuangan Aqidah di Indonesia akhir-akhir ini menjadi semakin kuat. Hal ini dikarenakan ada seorang oknum dari salah satu pejabat negara yang dengan seenaknya melecehkan agama Islam terang-terangan dan dengan proses hukum yang sangat sulit dan panjang. Sehingga menambah “greget” bagi kalangan akademisi, aktivis dakwah, ustad maupun Ulama untuk mengambil andil dalam perjuangan Aqidah ini. Ditambah lagi dengan keadaan penegak hukum yang seakan-akan berada di pihak penista agama. Sehingga seakan akan, umat Islam lah dalang di sebalik huru hara dan kerusuhan yang terjadi di lokasi pusat pemerintahan Indonesia tersebut. Prahara ini mengakibatkan Umat Islam menjadi sensitif, mudah terprovokasi, mudah mengambil tindakan, yang terkadang tanpa komando dan perintah dari para Ulamanya di negeri ini. Oleh karena itu, dengan momen kedatangan bulan suci Ramadhan ini, maka sudah selayaknyalah Umat Islam kembali mengisi diri dengan pemahaman agama yang baik lewat “Madrasah” Ramadhan yang Insha Allah sebentar lagi akan mendatangi dan mengunjungi Umat Islam di seluruh dunia, tak ketinggalan juga di Indonesia khususnya yang sedang dilanda konflik Aqidah yang berkepanjangan.

Peran serta Para Da’i dan Ulama di dalam mengisi kajian di Bulan Ramadhan sangatlah penting. Sehingga dengan sepak terjang mereka, Bulan Ramadhan ini menjadi “Madrasah” yang dapat diartikan sebagai sekolah untuk mendidik jiwa dan raga setiap individu Muslim yang ingin mendapatkan keutamaan Ramadhan. Yang pada akhirnya, Ramadhan ini menjadi momen untuk meningkatkan pengetahuan Ruhiyah untuk menguatkan spiritual setiap individu Muslim, dan Ramadhan juga sebagai ajang menempa diri agar menjadi individu Muslim yang mantap Aqidah dan Tsaqafah Islamnya, sehingga menjadi masyarakat yang berperadaban yang maju dan jauh dari Radikalisme yang sering di tujukan kepada umat Islam oleh sekelompok manusia yang membenci Agama ini.

Dalam menghadapi bulan Ramadhan, Umat Islam haruslah memiliki planning yang jelas untuk mengisinya, sehingga bulan ini dapat termanfaatkan penuh untuk semua kebajikan dan kebaikan yang pada akhirnya menjadikan ketaqwaan sebagai tujuannya.  Oleh karena itu, penulis akan memberikan tips tips untuk menyambut Ramadhan yang penuh berkah ini.

Pertama: Setiap Muslim hendaklah berdoa memohon kepada Allah S.W.T agar diberikan kesempatan untuk bertemu dan merasakan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat wal afiat. Dengan sehat jasmani dan Ruhani maka kita bisa memanfaatkan bulan Ramadhan untuk melaksanakan ibadah secara maksimal, baik berpuasa, shalat, tilawah Al Qur’an, dan zikir. Anas bin Malik r.a berkata: Bahwasanya Rasulullah S.A.W apabila memasuki bulan Rajab selalu berdoa, “Ya Allah Berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan berkahilah umur kami di bulan Ramadhan. (H.R Ahmad & Tabrani).

Para Salaf Sholih selalu memohon kepada Allah selalu dipertemukan dengan bulan Ramadhan, dan selalu berdoa agar Allah menerima amalan mereka. Sebagaimana Rasulullah selalu berdoa apabila telah melihat hilal Ramadhan seperti yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi, dengan doa:

“Ya Allah, karuniakanlah kami bulan ini keamanan, keimanan, keselamatan, dan keislaman, Tuhanku dan Tuhan kalian Allah”.

Kedua: Setiap Muslim hendaklah memanjatkan rasa syukur kepada Allah atas karunia Ramadhan yang kembali diberikan kepada kita. Kesyukuran ini haruslah terus menerus dipanjatkan oleh setiap individu Muslim kapanpun dan dimanapun. Tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, akan tetapi pada bulan bulan setelahnya juga. Karena banyaknya karunia yang Allah berikan, maka semakin kita bersyukur, semakin ditambahlah keberkahan dalam hidup.

Imam an Nawawi dalam kitab Adzkar-nya berkata: “Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur, dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagunganNya”.

Dan diantara nikmat yang terbesar yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah nikmat dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan kepadaNya. Maka ketika Ramadhan telah tiba dan kita dalam kondisi sehat wal afiat, kita wajib bersyukur dengan memuji Allah sebagai bentuk syukur.

Ketiga: Setiap Muslim hendaklah bergembira dengan kedatangan bulan Ramadhan. Karena Rasulullah selalu memberikan kabar gembira bagi seluruh umat Islam ketika datang bulan Ramadhan. Hal ini sesuai dengan Sabdanya:

“Rasulullah S.A.W bersabda: Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka”. (H.R Ahmad).

Para Salaf Sholih sangat memperhatikan bulan Ramadhan, sehingga mereka sangat bergembira dengan datangnya bulan ini. Tidak ada kegembiraan yang paling besar selain kedatangan bulan Ramadhan ini.

Keempat: Setiap Muslim hendaklah merancang kegiatannya selama Ramadhan. Jangan sampai kesibukan dunia menjadi kendala bagi ibadah yang seharusnya dilakukan dengan khusu’ pada bulan Ramadhan. Ramadhan sangat singkat, dengan durasi 1 bulan terkadang 30, 29 ataupun 28 hari saja. Sehingga kalau disia-siakan maka setiap detiknya adalah penyesalan bagi kita di hari kiamat nanti. Karena apabila kita menggunakan setiap detiknya dengan amalan yang berharga, yang bisa membersihkan diri, dan mendekatkan kita kepada Allah, maka itu adalah sebuah keuntungan yang besar bagi setiap muslim.

Kelima: Setiap Muslim hendaklah mempersiapkan jiwa dan ruhiyahnya dengan bacaan yang mendukung proses tazkiyatun Nafs (pensucian diri) dengan menghadiri majlis Ramadhan, Mendengarkan Kultum Ramadhan di Masjid-masjid, maupun membeli buku bacaan yang berkaitan dengan membentengi Aqidah Islam, dan hal hal yang bisa membahayakan Aqidah serta hukum-hukum dan hikmah puasa.

Keenam: Setiap Muslim hendaklah menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran baru yang bersih dalam kehidupannya, bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Melaksanakan Sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah kepada Umatnya. Dan mempererat hubungan silaturrahim baik kepada keluarga, sahabat, maupun masyarakat sekitar lingkungan kita. Dengan itu kita berusaha menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi mereka. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Semoga Ramadhan yang akan kita jalani menjadi Ramadhan yang sukses dan mendapatkan predikat Taqwa. Semoga juga amalan kita di bulan Ramadhan tetap kita pertahankan hingga bulan bulan berikutnya. Sebelum penulis menyudahi tulisan ini, ada beberapa manfaat positif yang dapat dirasakan oleh seorang Muslim yang menjalankan ibadah Puasa. Hal ini menjadi rangkuman penutup artikel ini.

  1. Dengan berpuasa, akan melemahkan gejolak nafsu dan menjauhkan sifat sombong serta lalai yang dipicu oleh rasa kenyang.
  2. Dengan berpuasa, menjadikan hati lebih siap untuk berfikir dan berzikir.
  3. Dengan berpuasa, orang kaya dapat lebih menyadari kenikmatan Allah atas dirinya, memicu munculnya rasa syukur yang mendalam terhadap nikmat Allah S.W.T. hatinya akan mudah terpanggil untuk menolong orang yang membutuhkan bantuan.
  4. Dengan berpuasa, maka godaan setan, luapan emosi dan amarah akan menjadi sempit dan lemah akibat kurangnya suplai makanan ke pembuluh darah yang menjadi jalan bagi setan dalam tubuh manusia.
  5. Dan pada akhirnya dengan berpuasa, akan menyempurnakan kedekatan kita kepada Allah S.W.T dengan meninggalkan semua bentuk pelanggaran dan hal hal yang diharamkan oleh Allah setiap saat. Seperti keengganan untuk bergosip, berdusta, berbuat zalim, membunuh, mencuri, dan merusak kehormatan orang lain. Hal ini dikarenakan kurangnya tenaga pada diri karena sedang berpuasa.

Ramadhan merupakan karunia terbesar Allah S.W.T kepada hamba Nya. Marilah kita manfaatkan dengan bersungguh-sungguh menjalankan ibadah dan segala jenis ketaatan kepada Allah S.W.T. sehingga Ramadhan benar-benar menjadi “Madrasah” yang berhasil mencetak individu-individu Muslim yang beriman dan bertaqwa. Yang bisa bermanfaat bagi bangsa, negara, dan agama.

 

 

Jum’ah, 26 May 2017/ 29 Sha’ban 1438 H

Ma’had Daarul Ilmi

Muhammadiyah Boarding School Tarakan

Advertisements
| Leave a comment

Pertandingan Ketangkasan dalam perspektif Islam.

Pertandingan Ketangkasan dalam perspektif Islam.

Oleh: H. Intan Sumantri, (Komisi Fatwa MUI Tarakan).

Khutbah Jum’at, 31 Maret 2017.

Judi Bola

Agama Islam merupakan agama yang lengkap dan menyeluruh. Hal ini dibuktikan dengan adanya semua jenis aturan dalam setiap lini kehidupan manusia. Dari mulai manusia itu bangun dari tidurnya, kemudian melakukan aktivitasnya, sampai tidur lagi, semua ada norma dan tata tertib yang diatur oleh Allah S.W.T sebagai Pencipta Alam Semesta.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia bebas melakukan transaksi jual beli ataupun interaksi yang lainnya, selama tidak ada larangan dari syariat. Karena asas dari muamalah (hubungan manusia dengan manusia lain) adalah kebolehan (halal). Sehingga ruang lingkup muamalah ini luas. Akan tetapi ada beberapa jenis muamalah yang Allah haramkan kepada manusia. Hal ini dikarenakan muamalah ini bisa menimbulkan kezaliman dan hilangnya keadilan terhadap manusia. Yang imbasnya adalah terjadinya perselisihan dan permusuhan diantara manusia. Hal inilah yang di cegah oleh Allah, sehingga jenis transaksi ataupun interaksi ini diharamkan kepada manusia.

Allah S.W.T berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ [٢:٢١٩]

Artinya:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir. (Q.S Al Baqoroh: 219).

Ibnu Taimiyyah berkata: “Sesungguhnya kebanyakan hal yang dilarang oleh Al Qur’an dan Hadist dalam hal interaksi antar sesama manusia adalah semata-mata untuk mengekalkan keadilan terhadap manusia dan mencegah kezoliman terjadi diantara mereka, seperti mengambil harta dengan cara yang tidak benar, baik dengan jalan perjudian ataupun riba”.

Allah S.W.T juga mengisyaratkan bahwa meminum arak, perjudian dan mengundi nasib dengan panah merupakan perbuatan syaitan. Sebagaimana di dalam Al Qur’an.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ [٥:٩٠]

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (Q.S Al Maidah: 90).

Oleh karena itu ada beberapa jenis interaksi manusia yang diharamkan oleh syariat, sehingga setiap muslim wajib menjauhinya:

  1. Keharaman secara fisik benda.

Adapun transaksi yang diharamkan karena fisik barang yang dijual, dapat kita ambil contoh adalah jual beli barang ataupun benda yang najis (kotor). Seperti jual beli daging babi, jual beli daging anjing, jual beli bangkai dan semua hewan yang diharamkan untuk dimakan dan najis jika disentuh oleh seorang muslim.

  1. Keharaman karena adanya unsur kezoliman.

Kezoliman adalah hal yang dilarang dalam Islam, karena setiap transaksi yang terdapat unsur merugikan salah satu pihak, atau menyebabkan satu pihak tidak rela terhadap pihak yang lain, maka ini sudah termasuk unsur kezoliman, maka ini diharamkan oleh syariat, karena bisa menyebabkan permusuhan. Contohnya adalah Tadlis (menyembunyikan aib barang dagangan, dan menunjukkan kebaikannya saja), Mengurangi takaran dan timbangan, berpura-pura bokek jika ditagih utang, dan masih banyak lagi gambaran kezoliman dalam transaksi.

  1. Keharaman karena unsur ghoror.

Ghoror disini dapat diartikan sebagai sebuah transaksi yang mengandung “bahaya” bagi salah satu pihak yang bertransaksi, yang menyebabkan hilangnya harta salah satu pihak.

  1. Keharaman kerena unsur riba.

Riba merupakan hal yang diharamkan karena banyak menimbulkan kesulitan dikedua belah pihak, khususnya bagi pihak yang menjadi objek ataupun pihak kedua.

  1. Keharaman kerena unsur perjudian.

Dalam hal permainan ataupun pertandingan yang sering dilakukan oleh manusia, syariat juga mengatur tata tertib dan norma yang berlaku sehingga tidak melanggar batasan syariah yang ditetapkan yang dapat menimbulkan permusuhan dan perkelahian. Diantara kegiatan yang diharamkan adalah kegiatan yang memiliki unsur perjudian. Termasuk di dalamnya adalah mengadu nasib ataupun taruhan baik dengan uang ataupun barang.

Permainan ketangkasan atau juga dikenal dengan istilah pertandingan kompetisi, menurut “Keputusan Perkumpulan Ulama Fiqih sedunia” dalam Mu’tamarnya tahun 2003, menyebutkan, Pertandingan adalah Sebuah tindakan atau permainan yang berasas perlombaan diantara 2 orang atau lebih dengan sebuah tujuan yaitu kemenangan, baik dengan hadiah maupun tidak ada hadiah.

Jenis jenis Pertandingan menurut Fiqih Islam.

  1. Pertandingan yang diadakan tanpa ada hadiah.

Para Ulama sependapat bahwa semua pertandingan maupun perlombaan yang memiliki asas manfaat dibolehkan dalam Islam, akan tetapi apabila ada madhorot/kerusakan yang mungkin ditimbulkan paska ataupun sebelum pertandingan tersebut secara nyata, maka yang sedemikian diharamkan. Seperti pertandingan lari, balap sepeda, berenang dan jenis olahraga yang lainnya yang mendatangkan kesehatan pada badan manusia yang jauh dari unsur perjudian. Hal ini juga dikarenakan, pertandingan ini tidak ada hadiah ataupun hanya ingin mengisi waktu kosong dengan olahraga yang bermanfaat untuk kesehatan badan tanpa adanya harta (uang) yang harus dikeluarkan bagi peserta. Bahkan terkadang ini adalah hasil inisiatif peserta sendiri agar olahraga ini menjadi lebih seru dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan Hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهَا: أَنَّهَا كَانَتْ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ قَالَتْ: فَسَابَقْتُهُ فَسَبَقْتُهُ عَلَى رِجْلَيَّ، فَلَمَّا حَمَلْتُ الَّلحْمَ سَابَقْتُهُ فَسَبَقَنِي فَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: هَذِهِ بِتِلْكَ السَّبَقَةِ. (أخرجه أبو داود في سننه كتاب الجهاد، حديث رقم 2227).

Dari Aisyah r.a : Bahwasanya dia bersama Nabi s.a.w berlomba lari dengan Aisyah kemudian Aisyah menang, lalu ia (Aisyah) berkata: Nabi s.a.w berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi tatkala badanku gemuk, Nabi s.a.w mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau berkata: “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku dahulu”.

Hadist ini menjadi dasar diperbolehkannya Perlombaan atau pertandingan tanpa hadiah yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih.

  1. Pertandingan dengan Hadiah.

Adapun pertandingan dengan hadiah memiliki berbagai macam bentuk dan cara, rinciannya sebagai berikut:

  • Pertandingan/perlombaan dengan hadiah didapat dari kedua belah pihak.

Pelaksanaan perlombaan ini adalah setiap peserta membayar sejumlah harta atau uang, kemudian mereka bermain dan berlomba yang pada akhirnya akan keluar salah satu dari mereka menjadi pemenang, kemudian harta ataupun uang yang mereka kumpulkan tadi akan diberikan kepada orang ataupun kelompok yang menang. Ini mengakibatkan ada pihak yang untung dan ada pihak yang dirugikan. Pertandingan semacam ini masuk dalam kategori “Perjudian”.

  • Pertandingan/perlombaan dengan hadiah dari satu pihak.

Pelaksanaan pertandingan ini dilakukan secara insidentil. Sebagaimana apabila ada 2 orang yang baru bertemu. Kemudian orang pertama mengatakan kepada orang kedua: “Mari berlomba denganku, kalau kamu menang, maka bagimu hadiah ini, tapi apabila aku menang, maka kamu tidak mendapatkan hadiah apapun”. Perlombaan semacam ini diperbolehkan dalam syariat Islam. karena kalau diteliti dari segi maslahat dan kerugiannya, hanya ada dua hal bagi orang kedua yang diajak berlomba, menang mendapatkan hadiah, kalau tidak menang maka dia tidak merugi.

  • Hadiah dari perlombaan tersebut berasal dari pihak ketiga (sponsor).

Apabila ada sebuah perlombaan ataupun pertandingan ketangkasan. Dimana hadiah yang disediakan bukan dari peserta ataupun panitia penyelenggara, melainkan dari pihak ketiga (dalam hal ini sponsor) yang berasal dari sumbangan pemerintah, ataupun yayasan kebajikan, ataupun perusahaan besar di sebuah negara, maka jenis pertandingan ini dibolehkan dalam Islam sesuai dengan kesepakatan para Ulama. Contohnya yang sudah sering terjadi di negara Indonesia adalah : Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ), Pertandingan membuat makalah, dan Pertandingan membuat riset ilmiah yang bermanfaat. Maka jenis pertandingan seperti tersebut diatas diperbolehkan, dengan syarat hadiah disediakan oleh pihak ketiga sebagai bentuk sedekah ataupun pemberian kepada panitia penyelenggara. Dengan tujuan agar masyarakat berlomba-lomba dalam hal kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain.

Setelah kita memahami konsep pertandingan dalam perspektif Islam, marilah kita menelaah kembali disekitar kita, apakah masih ada pertandingan ketangkasan yang termasuk dalam kategori diatas. Agar kita tidak menjadi bagian dari perjudian yang terjadi baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

Sebagai kesimpulan dari pembahasan diatas, dapat kita ketahui bahwa Norma dan tata tertib perlombaan ketangkasan yang diperbolehkan dalam Islam adalah:

  1. Tujuan, cara dan pelaksanaan perlombaan tidak boleh melanggar syariat Islam, yaitu adanya unsur perjudian dan maksiat.
  2. Hadiah yang diberikan kepada pemenang tidak boleh berasal dari iuran peserta.
  3. Harus memiliki tujuan untuk membuat peserta berlomba dalam kebaikan dan bukan keburukan ataupun kemaksiatan.
  4. Dalam perlombaan tersebut tidak boleh menyebabkan peserta meninggalkan kewajiban (baik pribadi maupun agama), apalagi kewajiban beribadah, atau membuat pesertanya lupa diri ataupun lalai.

Karena Allah berpesan melalui lisan Rasulullah S.A.W:

قَالَ تَعَالَى فِي حَدِيْثِ  قُدْسِيْ: ” يَا عِبَادِيْ إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِيْ وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوْا”. (رواه مسلم في صحيحه، كتاب البر والصلة والآداب، حديث: 2577).

Artinya:

Allah berfirman dalam hadist Qudsi: Wahai Hambaku, aku mengharamkan kezoliman kepada diriku dan kujadikan zolim itu haram keatasmu, maka janganlah berbuat zolim. (H.R Muslim).

 

 

 

Jum’at, 31 Maret 2017.

Klinik Herbal El-Zahra Tarakan,

10.38PM.

 

 

 

 

| Leave a comment

“Memartabatkan Al Qur’an dalam konteks kehidupan”

Oleh: H. Intan Sumantri.  (Sekretaris MIUMI Kaltara, Anggota Komisi Fatwa MUI Tarakan)

al-quran

Umat Islam dalam perjalanan kehidupannya sejak zaman Muhammad diutus menjadi Rasulullah telah menghadapi berbagai macam cobaan. Baik itu yang bersifat cobaan fisik maupun cobaan mental dan segala jenis intimidasi dari para musuh Islam. Setelah wafatnya Rasulullah, estafet kepemimpinan Umat Islam berpindah kepada Khulafaur Rasyidun, yang dalam kepemimpinan Para Sahabat nabi ini, umat Islam juga tidak terlepas dari berbagai macam cobaan baik dari internal Islam maupun dari luar Islam.

Mekkah sebagai sentral kehidupan masyarakat arab pada masa itu. Karena disana setiap tahunnya diadakan Ibadah Haji dan segala jenis Ibadah yang berkaitan dengan ajaran Hanifiyyah Samhah yang dibawa oleh Abul Anbiya Nabi Ibrahim a.s. karena banyaknya manusia yang selalu mengunjungi Baitullah setiap tahunnya, maka Mekkah menjadi pusat kehidupan dan perekonomian arab pada masanya. Banyak pedagang dari luar Mekkah yang sengaja berkunjung dan berdiam diri di Mekkah semata-mata hanya untuk mencari nafkah dengan cara berdagang disana.

Al Qur’an diturunkan “Munajjaman” ataupun secara berangsung-angsur sesuai dengan kejadian yang menimpa Umat Islam pada masa itu. Rasulullah mendapatkan berbagai macam perintah dan larangan yang terkandung di dalam Al Qur’an yang disampaikan oleh Jibril a.s. sehingga otentisitas Al Qur’an adalah sebuah aksioma dalam ajaran Islam. Rasulullah dalam hal ini adalah sebagai Penyeru kepada Umat Islam di Mekkah, selalu berhati-hati dalam perbuatannya. Sampai diturunkannya Al Qur’an yang menyinggung atau menanggapi segala kejadian yang terjadi pada saat itu. Sehingga Rasulullah bisa menjawab semua kejadian itu berdasarkan wahyu Allah. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta’ala:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ،  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ.

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. Q.S An-Najm 3-4.

Ayat al Qur’an diatas jelas menegaskan bahwa Rasulullah tidak pernah berkata-kata dalam hal ini yang berkaitan dengan syariat Islam kecuali hanya dari kabar yang dibawa oleh Malaikat Jibril.

Generasi umat Islam terawal yaitu ketika Rasulullah baru saja mendapatkan wahyu yang pertama berupa surah al Alaq, merupakan generasi yang paling dan mudah diberikan nasehat. Hal ini dibuktikan dengan keislaman beberapa orang Sahabat yang dengan mudahnya mengimani kerasulan Muhammad bin Abdillah. Pada saat yang sama ada juga beberapa Sahabat yang masuk Islam karena mengetahui kabar dari Injil yang mengkabarkan akan datang Nabi terakhir sebagai penutup para Nabi dengan inisial Ahmad. Kemudian Sahabat ini mengetahui bahwa di Mekkah baru saja ada seorang manusia yang menyeru dengan sembunyi-sembunyi kepada masyarakat agar meninggalkan sesembahan mereka yang dulu yaitu berhala.

Sebut saja Salman Al Farisi, yang dengan mudahnya mengucapkan 2 kalimah syahadat karena ia merasa apa yang dikabarkan oleh Injil dan para pendeta Ahli kitab itu benar adanya. Kemudian disusul oleh para Sahabat yang lain. Dengan demikian bertambah banyaklah umat Islam di Mekkah pada awal periode kenabian. Sehingga hal ini menyebabkan para kafir Quraisy merasa tidak nyaman dengan kehadiran agama baru yang mengusik agama nenek moyang mereka.

Kemudian mulailah penyiksaan dan intimidasi terjadi di kalangan umat Islam Mekkah pada saat itu yang notabenenya adalah kaum minoritas. Hal ini semakin parah dengan adanya Abu Jahal dan Abu Lahab yang dengan terang-terang menentang Muhammad dan ajarannya. Sehingga turunlah wahyu dari Allah sebagai perintah untuk berhijrah.

Umat Islam selalu menaati Allah dan Rasulnya, sehingga berita apapun yang turun kepada Rasulullah mereka patuhi. Hal ini dibuktikan dengan ketaatan mereka ketika Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menghijrahkan Umat Islam Mekkah ke Habasyah demi mencari keselamatan. Dalam hal ini tidak hanya keselamatan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah menyelamatkan Aqidah Umat Islam minoritas Mekkah dari segala fitnah kaum kafir Quraisy yang menjadi penguasa disana.

Hingga suatu masa tibalah masanya Rasulullah untuk menghijrahkan Umat Islam ke sebuah kota yang bernama Yatsrib. Kota ini dikenal dengan penduduknya yang ramah. Bahkan mereka sendiri yang memohon kepada Rasulullah agar tinggal dan menetap disana. Hingga tibalah masanya Rasulullah dan umat Islam baik dari kaum Muhajirin dan Anshar bersatu padu menegakkan sebuah negara Islam pertama kali di dunia.

Disana Rasulullah membentuk sebuah pemerintahan dgn sistem pertahanan yang kuat, sistem ekonomi yang mapan dan sistem sosial yang beradab. Sehingga para musuh-musuh Islam baik dari kalangan Quraisy maupun Kabilah-kabilah di jazirah arab merasa takut dengan kebesaran dan keagungan sebuah negara Islam di Yasrib yang kemudian berganti nama menjadi Madinah Al Munawwarah.

Allah berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang dipersiapkan untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya….” (Q.S Al Anfal: 60).

Dari sinilah Madinah menjadi negara yang berwibawa, disegani dan ditakuti oleh para Musuh Islam. hal ini karena Rasulullah sebagai Pemimpin negara, selalu berpegang teguh dengan perintah Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril a.s. dan semua warga Madinah benar-benar menyerahkan kepercayaan mereka kepada Rasulullah sebagai pemimpin negara dan juga sebagai Utusan Allah.

Dari sinilah kemudian lahir Para Sahabat yang juga seorang Ahli Tafsir. Mereka adalah Khulafaur Rasyidun yang 4 yaitu Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, kemudian Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair. Yang mana dalam perjalanan kehidupan umat Islam beberapa Orang Sahabat telah melakukan perjalanan kebeberapa kota di Jazirah arab, dengan tujuan untuk mengajarkan Al Qur’an kepada penduduk kota tersebut.

Sehingga muncullah Madrasah ataupun sekolah yang diprakarsai oleh para Sahabat yang memiliki kompetensi di dalam Al Qur’an dan Ilmu Tafsir. Mereka adalah:

  • Ibnu Abbas terkenal dengan Madrasah Qur’an di Mekkah.
  • Ubai bin Ka’ab terkenal dengan Madrasah Qur’an di Madinah dan
  • Abdullah Ibnu Mas’ud terkenal dengan Madrasah Qur’an di Iraq.

Dari Juhud ataupun usaha para Sahabat inilah akhirnya Al Qur’an bisa tersebar luas dan menjadi panduan bagi seluruh Umat Islam di alam raya ini. Karena mereka bertiga inilah yang mengajarkan Al Qur’an kepada setiap orang yang ingin belajar dan kemudian ilmu tentang Al Qur’an itu di tularkan oleh para murid-muridnya kepada seluruh umat Islam dengan cara talaqi yang bersambung dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Berpegang teguh kepada Al Qur’an wajib hukum nya bagi setiap muslim, dan begitu juga dengan Hadist Nabawi yang menjadi sumber hukum ke-2 dalam syariat Islam setelah Al Qur’an. Hal ini adalah sebuah konsekuensi setiap individu muslim di seluruh jagad raya ini untuk memulyakan dan mentadabburi AL Qur’an. Al Qur’an menurut Istilah adalah Perkataan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, membacanya adalah Ibadah, yang diturunkan kepada umat manusia dengan cara tawatur (dari Jamaah kepada jamaah). Sehingga mustahil bahwa Al Qur’an ini ada kepalsuan ataupun ada kebohongan di dalamnya. Karena Allah Ta’ala telah menjamin otentisitas Al Qur’an hingga akhir zaman. Hal ini sesuai dengan Firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. (Q.S Al Hijr: 9).

Pemeliharaan Allah terhadap Al Qur’an ini dibuktikan dengan banyaknya manusia yang mudah manghafal Al Qur’an, dan banyaknya para Ulama yang menjaga kemurnian Al Qur’an ini dari berbagai macam penyimpangan dan pengeliruan. Sehingga kalau ada manusia yang mengatakan “Jangan Mau di Bohongin Pakai Al Qur’an” maka jika dia adalah seorang Muslim maka dia adalah fasik, adapun apabila yang mengatakan demikian adalah orang kafir, maka dia dapat digolongkan sebagai Kafir Harby.

Bagaimana cara kita memartabatkan Al Qur’an dalam kehidupan?

Ada beberapa tips yang perlu kita lakukan, karena semakin banyak kita berinteraksi dengan Al Qur’an maka semakin berkahlah waktu yang kita miliki. Diantara beberapa tips dalam memartabatkan Al Qur’an adalah:

Suatu kenikmatan besar jika Iman telah merasuk kedalam jiwa seseorang, kemudian merealisasikan di setiap segala aspek kehidupannya, oleh karena itu ketika Rasulullah  S.A.W ditanya tentang apa itu Iman ,maka beliau menjawab yang diantaranya adalah beriman dengan kitab-kitab Allah yaitu  Al-Qur’anul Karim, maka wajib bagi seorang muslim hendaknya beriman kepada Al-Qur’an, sebagaimana di dalam hadist, Rasulullah S.A.W bersabda:

قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

Rasulullah bersabda:

”Hendaknya Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk”  (HR.Muslim)

Allah Subhanahu wa ta’la berfirman  :

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ

“Maka kepada perkataan apakah sesudah Al Quraan ini mereka akan beriman?” (Qs.Al Mursalaat: 50).

Menurut tafsir Ibnu Katsir, jika mereka (orang-orang kafir) tidak juga beriman dengan al-Qur’an ini, lalu pada perkatan siapa (lagi) mereka akan beriman?

  1. Membaca, mengahafal dan Mentadabburinya.

Sebagaimana dalam pengertian Al Qur’an dalam istilah Syari’at diatas, membaca Al Qur’an adalah ibadah, hal ini jelas berbeda dengan membaca hadist ataupun kitab arab yang lainnya. Tidaklah dikatakan Alif, Lam, Mim itu satu lafaz, akan tetapi Alif mempunyai pahala tersendiri, Lam juga memiliki pahala dan Mim memiliki nilai pahala tersendiri. Itulah sebabnya kalau kita rajin membaca Al Qur’an, maka akan banyak pahala yang kita dapatkan, itu baru membaca, bagaimana jika kita menghafal dan paham makna kemudian mentadabburinya? Maka akan semakin besar pahala yang kita dapatkan.

عَنِ اْبنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُوْلُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفُ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ. (رواه الترمذي)

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-qur’an, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan. Kebaikan itu akan dilipat gandakan menjadi sepuluh kali lipat .Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim adalah satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf,  Lam satu huruf, Mim satu huruf”.  (H.R Tirmidzi).

Rasulullah S.A.W  juga bersabda:

إِنَّ الَّذِيْ لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنَ اْلقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ. (رواه الترمذي)

Sesungguhnya barang siapa yang dalam dirinya tiada bacaan Al Qur’an maka ia seperti halnya rumah yang roboh” (HR.Tirmidzi).

  1. Mempelajarinya dan Mengajarkannya.

Rasulullah  Salallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al quran dan mengajarkannya” (HR.Bukhari).

  1. Menaruh Perhatian Penuh terhadapnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Ustaimin Didalam (Kitabul ilmi) mengatakan:

“Maka sesungguhnya wajib bagi penuntut Ilmu agar semangat membaca Al-Qur’an, menghafalnya, memahaminya, dan mengamalkan isinya, karena sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah Tali Allah yang kuat dan menjadi Dasar semua ilmu. Generasi salaf dahulu memiliki semangat yang amat  tinggi dalam hal ini, sehingga sering di sebutkan  kisah-kisah mereka yang menakjubkan tentang tingginya semangat mereka terhadap Al-Qur’an. ..”

Menaruh perhatian penuh kepada Al Qur’an merupan implementasi dari memartabatkan Al Qur’an dalam kehidupan. Hal ini karena di dalam Al Qur’an terdapat hukum tentang kehidupan manusia. Sesuatu yang halal, haram, makruh, mubah, mandub, semuanya telah diatur dalam Al Qur’an. Jangan sampai kita menjadi manusia yang memilah milih dalil Al Qur’an. Yang sesuai dengan dirinya diambil dan yang tidak sesuai dengan dirinya ditinggalkan. Ini adalah ciri-ciri orang mnuafik sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur’an.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ.

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.

Inilah yang diperbuat oleh Bani Israil terhadap kitab suci mereka. Apa yang mereka senangi mereka ambil dan apa yang mereka tidak senangi mereka tinggalkan. Sehingga mereka mendapat kenistaan di dunia dan diakhirat mendapat siksa yang berat.

Maukah Umat Islam menjadi sebagaimana Bani Israil? Tentu kita menginginkan kehidupan yang diridhoi oleh Allah. Sehingga mengambil hukum di dalam Al Qur’an ataupun menerapkan hukum Al Qur’an dalam kehidupan adalah mutlak. Jangan sampai ketika kita setuju dengan meninggalkan makanan yang diharamkan seperti babi, celeng, darah, bangkai tetapi kita masih bergelut dengan riba bank maupun riba hutang. Kita setuju dengan perintah Ibadah Haji di Baitullah, tapi kita masih menunda-nunda bahkan meninggalkan sholat. Kita setuju dengan syariat Puasa Ramadhan, tapi terkadang kita masih meninggalkan puasa. Kita setuju dengan keharaman zina bahkan mendekat saja tidak boleh, tapi kita masih suka berkaraoke bersama teman-teman wanita yang tidak ada kaitan keluarga dengan kita. Bukankah ketika kita berkumpul dengan para wanita itu bisa menimbulkan fitnah bagi keluarga?.

Maka dengan itu, marilah kita bersama-sama memartabatkan Al Qur’an dengan cara berusaha mengikuti semua perintah dan menaati semua larangan, agar kita tidak termasuk kategori orang yang menistakan ayat-ayat Al Qur’an baik disengaja maupun tidak disengaja. Baik secara sadar maupun secara tidak sadar.

Karena pada hakikatnya. Ketika kita hanya mengambil setengah dari hukum Al Qur’an dan meninggalkan setengahnya, maka secara otomatis kita telah menistakan Al Qur’an, tapi hal ini banyak tidak disadari oleh Umat Islam.

Untuk itu, penulis mengajak para Jamaah sekalian bermuhasabah, agar semua aktifitas kita ini selalu kita perhatikan, apakah melanggar koridor syariat ataupun masih berjalan di dalam koridor ini. Apabila sudah berjalan di dalam koridor syari’at maka Alhamdulillah dan harus ditingkatkan, jika sudah keluar, maka marilah sama-sama kita bertaubat kepada Allah, agar kehidupan ini tidak sempit karena kesalahan yang kita perbuat.

 

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tarakan 10 Nopember 2016.

| Leave a comment

Al-Qur’an Menyatukan Umat Muslim Indonesia

Al-Maidah mempersatukan Umat

img-20161104-wa0016

Hari itu Jum’at 4 Nopember 2016, tepat pukul 12.00 pm, seluruh umat Islam berkumpul di Masjid dalam rangka melaksanakan sholat Jum’at berjamah. Sholat Jum’at adalah kewajiban yang wajib ditunaikan oleh setiap Muslim, Baligh, Laki-laki, Berakal sehat, serta mampu melaksanakannya tanpa ada udzur Syar’i yang bisa menggugurkan kewajiban tersebut.

Kewajiban ini sebenarnya telah disyariatkan di Mekah sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah tetapi tidak dapat dilaksanakan di Mekah karena Umat Islam saat itu masih lemah dan tidak mampu berkumpul untuk mendirikan Sholat Jum’at. Selain itu cobaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy juga menjadi ancaman bagi seluruh umat Islam Mekah dalam melaksanakan sholat berjama’ah pada masa itu. Adapun di Madinah sebelum Nabi saw berhijrah kesana telah ada seorang Sahabat yang mendirikan sholat Jum’at ini. Beliau adalah As’ad bin Zurarah ra, ini menurut riwayat Abu Daud dan diriwayat yang lain dari Ka’ab bin Malik.

Momen pertemuan Umat Islam di setiap hari Jum’at untuk bersama-sama berkumpul dan mendengarkan khutbah adalah sebuah momen yang cocok untuk men”Charge” lagi keilmuan dan ketaqwaan setiap individu muslim. Bagaimana tidak, dalam khutbah Jum’at terdapat dalam salah satu rukunnya adalah Wasiat Taqwa. Wasiat Taqwa inilah yang senantiasa dikumandangkan oleh Para Khatib Jum’at diseluruh masjid di negri kaum muslimin maupun di negri kuffar. Hal ini memandangkan manusia adalah “Makhluq yang mudah lalai dan lupa”, sehingga benar adanya dalam sebuah petuah mengatakan: “Al-Insaanu Mahallul Khoto’ Wannisyan” yang memiliki arti Manusia adalah tempatnya salah dan lupa.

Kalaulah seorang manusia berhajat ingin mengumpulkan rekan-rekan se-Aqidahnya untuk bersama-sama berkumpul dalam sebuah majlis, maka paling tidak, Sang Pemilik Hajat ini akan menyediakan hidangan. Minimal hidangan itu berupa air mineral, dan atau cemilan kecil sebagai teman dalam bersenda gurau ataupun sebagai pemecah kesunyian dalam penantian rekan-rekan yang lainnya. Tidak demikian halnya dengan Sholat Jum’at, tanpa adanya makanan, ataupun minuman yang disediakan, umat Islam berbondong-bondong mendatangi Masjid ketika bacaan Al Qur’an ataupun Tarhim dari sebuah Toa masjid telah dibunyikan.

Hal ini membuktikan, seruan Ilahi sangat berpengaruh dengan hadir tidaknya para Manusia ke dalam sebuah Majlis. Begitu juga dengan Ibadah Tahunan yang hanya bisa dilaksanakan setahun sekali yaitu pada bulan Dzulhijjah. Ibadah ini memerlukan kesiapan yang sangat matang. Baik dari segi kesiapan fisik, mental, bahkan finansial yang menjadi kunci utama terselenggaranya Ibadah ini. Akan tetapi, karena seruan ini dan perintah ini datangnya dari Tuhan Semesta Alam, maka manusia dalam hal ini Umat Islam, akan berusaha sedaya upaya untuk melaksanakannya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Hari itu Jum’at 4 Nopember 2016, tepatnya setelah sholat Jum’at, Umat Islam di kota Tarakan berkumpul bersama-sama untuk mengadakan AKSI DAMAI BELA AL-QUR’AN. Aksi ini adalah seruan dan atas prakarsa GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI) pusat, sebagai bentuk kepedulian Umat Islam terhadap Penista Agama Islam dalam hal ini adalah seorang pejabat Gubernur DKI Jakarta. GNPF MUI adalah Gerakan yang bersifat memaksa penegak hukum agar menegakkan supremasi hukum kepada seorang penista agama Islam. gerakan ini di pelopori oleh Habib Rizieq Syihab sebagai (Pembina GNPF MUI), KH. Bachtiar Nasir sebagai (Ketua GNPF MUI), KH. Misbahul Anam & KH. Muhammad Zaitun Rasmin (Waka GNPF).

Dalam seruan AKSI damai ini, Para Ulama dan Habaib di Jakarta menghimbau kepada Umat Islam seluruh Indonesia untuk bersama-sama melakukan AKSI DAMAI di wilayahnya masing-masing sebagai bukti dukungan Umat Islam se-Indonesia bagi penegakan hukum terhadap Tersangka Penista Surah Al Maidah ayat 51 yang notabenenya bukanlah orang yang beragama Islam, Aksi ini tepatnya dilaksanakan setelah Sholat Jum’at.

Umat Islam Kota Tarakan, yang terdiri dari gabungan beberapa Ormas Islam dan Majlis Pengajian, Maupun Ikatan Remaja Masjid dan Para Pemuda Islam yang terkumpul dalam Aliansi Umat Islam  Tarakan beserta Barisan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sepakat untuk melakukan Aksi Damai Bela Al Qur’an. Aksi ini diawali dari Sholat Jum’at secara berjama’ah di Masjid Agung Al-Ma’arif kemudian dilanjutkan dengan Long March menuju Kantor Polisi Resort Tarakan untuk bertemu dengan Kapolres Tarakan yang kemudian akan menyerahkan petisi tuntutan. Kemudian dilanjutkan dengan Orasi dan Ceramah Agama di Depan Halaman Grand Tarakan Mall (GTM).

Aksi ini dipimpin langsung oleh Koordinator Lapangan Al-Ustadz H. Intan Sumantri beserta rekannya Al Ustadz Muhammad Roem. Dalam Orasinya, Korlap menyatakan bahwa AKSI ini bukan hanya jawaban dari panggilan aksi damai dari Jakarta, akan tetapi juga sebagai jawaban dari beberapa isu lokal yang telah terjadi di tarakan yang berkaitan dengan SARA. Karena telah terjadi di negeri Paguntaka ini beberapa kasus Penistaan Agama Islam seperti Terompet Tahun baru yang berbahan cover Al Qur’an, kemudian Petasan yang dibungkus dengan kertas Al Qur’an dan yang terakhir adalah kasus pembuangan AL Qur’an di Jalan Hasanuddin kelurahan Karang Anyar Pantai Tarakan. Yang mana Pelakunya tidak tertangkap sejak melakukan aksinya di tahun 2015. Aparat dalam hal ini pihak kepolisian bertindak lamban dalam mengatasi kasus pembuangan Al Qur’an di sungai ini. Sehingga Majlis Ulama Indonesia Tarakan yang diketuai oleh H. Anas L dan sekjennya HM Ilham Noor langsung bergerak cepat membentuk TPF (Tim Pencari Fakta) dari kalangan Internal MUI Tarakan. Hal ini terjadi di tahun 2016 setelah mendapatkan info terdapat Al Qur’an yang hanyut di Sungai dan tempat yang sama pada hari Jum’at sekitar pukul 14.00 – 17.00. peristiwa tersebut terjadi di bulan Juli- Agustus 2016.

Dalam masa 2 minggu bekerja, TPF –Dengan Izin Allah- mendapatkan petunjuk dan ciri-ciri kendaraan dan fisik pelaku. Sehingga tidak sampai sebulan, kasus ini sudah menjumpai titik terang dgn tertangkapnya Pelaku di wilayah selumit oleh salah seorang anggota TPF yang kebetulan juga tinggal di desa yang sama.

Kembali kepada AKSI DAMAI BELA AL’QUR’AN, aksi ini berlangsung lancar dan damai, tidak ada kegiatan anarkisme dan bakar ban ataupun pengrusakan infrastruktur umum maupun milik negara. Para peserta Unjuk Rasa yang berjumlah tidak kurang dari 1500 orang terdiri dari para Ulama dan Asatidz serta kaum muslimin sekota Tarakan kemudian menyudahi aksi damai dengan Do’a dan kemudian kembali ke Masjid Al Ma’arif dengan berjalan kaki tertib. Tidak ada wajah kemarahan dan kebencian mereka terhadap aparat keamanan. Dan akhirnya selesai di halaman parkir Masjid Al Ma’arif selumit dengan dikumandangkannya Adzan Ashar.

fb_img_1478251478554

 

Posted in Intan's Notes | Leave a comment

Mas Kawin Dalam Perspektif Islam

dinar-dirham

Fitrah Manusia.

Allah S.W.T menciptakan manusia di dunia dengan sebuah tujuan. Tujuan ini tertuangkan dalam kitab suci Al Qur’an surah Al Baqoroh ayat 31 yang berisi pembicaraan Allah dengan Malaikat tentang penciptaan manusia. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Malaikat seakan akan terkejut ketika Allah ingin menjadikan manusia sebagai khalifah ataupun pemimpin di dunia. Karena manusia dalam pandangan Malaikat adalah ciptaan yang memiliki hawa nafsu. Sehingga dengan dijadikannya mereka sebagai khalifah, bisa saja terjadi kerusakan dan kehancuran di bumi. Hal ini tercermin dalam pertanyaan Malaikat kepada Allah S.W.T, “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Dalam hal ini Malaikat merasa bahwa dirinya yang selalu bertasbih dan memuji Allah serta mensucikan Nya, dan mereka merasa lebih berhak menjaga bumi. Tetapi Allah S.W.T lebih mengetahui segala sesuatu. Kemudian berdiamlah para Malaikat semua seraya bertasbih kepada Nya.

Manusia di lahirkan di dunia dengan fitrah yang Allah berikan. Fitrah manusia ini menjadikan mereka tetap eksis berada di dunia dari generasi ke generasi. Sehingga tujuan meramaikan bumi dengan manusia sebagai khalifah di dalamnya dapat terealisasi. Rasa cinta kasih antara sesama manusia, cinta kasih terhadap lawan jenis, merupakan naluri manusia sebagai makhluk ciptaan Allah agar bisa bertahan hidup. Akan tetapi naluri ini haruslah tersalurkan dengan cara yang benar sesuai aturan yang Allah S.W.T tetapkan. Sehingga akan berjalan dengan baiklah semua kehidupan manusia apabila mengikuti jalan yang telah Allah turunkan di dalam kitab suci Al Qur’an. Cara tersebut adalah dengan pernikahan.

Pengertian Nikah.

Nikah menurut bahasa bersatu dan saling menguatkan. Sedangkan Menurut istilah ada beberapa pendapat ulama:

  • Ibnu Qudamah berkata: Nikah menurut istilah adalah lafaz akad nikah.
  • Ibnu Abidin berkata: Nikah adalah bertemunya lazaf Ijab oleh seseorang dan Qobul dari orang yang lain.
  • Berkata Syeikh Ali Hasbullah: Nikah adalah persetujuan antara kedua orang (laki-laki dan perempuan) untuk menghalalkan hubungan antara keduanya dan mengharap ridho Allah S.W.T agar memberikan mereka keturunan dengan jalan yang dibenarkan oleh Islam.

Hukum menikah.

Ulama berbeda pendapat mengenai hukum pernikahan sesuai dengan keadaannya. Dan para Ulama Fiqh berpendapat sesungguhnya pernikahan itu menyandang 5 hukum: Wajib, Sunnah, Mubah, Haram, dan Makruh. Untuk mengetahui mengapa pernikahan bisa menjadi 5 hukum yang berbeda, maka perlu kita kaji sbb:

  1. Hukumnya Wajib bagi seorang Muslim yang sudah baligh dan mampu melaksanakan pernikahan baik secara Jasmani maupun Harta. Kalau tidak menikah kemungkinan besar akan terjatuh ke dalam jurang kemaksiatan.
  2. Hukumnya Sunnah Muakkadah bagi seorang Muslim yang mampu menikah dan mampu menjaga dirinya dari kemaksiatan. Kalaupun tidak segera menikah, dia tidak akan terjerumus kedalam jurang kemaksiatan.
  3. Hukumnya Mubah jika seorang Muslim mampu menikah tapi belum ingin menikah, dikarenakan masih memiliki impian yang belum tercapai.
  4. Hukumnya Haram jika seseorang itu lemah baik fisik maupun keuangannya, dan jika menikah akan membahayakan pasangannya.
  5. Hukumnya Makruh jika seseorang itu memiliki cacat fisik khususnya yang berkaitan dengan organ reproduksi dan susah dalam mencari nafkah (faqir miskin), atau sebab lain seperti tua, sakit, atau lemah fisik dikarenakan lanjut usia.

Saad bin Abi Waqosh berkata: Rasulullah pernah melarang Utsman bin Maz’un utk bertabattul (meninggalkan pernikahan). Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan adalah suatu fitrah manusia. Kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Said bin Jubair dia berkata: berkata kepadaku Ibnu Abbas: “Apakah engkau sudah menikah”? Maka aku jawab: “tidak”, maka ia berkata: “menikahlah”, Karena sebaik-baik umat adalah orang yang memiliki banyak istri.

Dan dari Abu Ayyub Al Anshori r.a ia berkata: Bersabda Rasulullah saw: “Ada 4 hal yang menjadi sunnahku : Sifat Malu, Berparfum, bersugi (bersiwak), dan menikah”. (H.R Tirmidzi).

Adat pernikahan.

Di Indonesia pada umumnya, pernikahan sangatlah sakral. Hal ini dapat dibuktikan dengan terlibatnya budaya setiap wilayah dalam acara pernikahan. Dari Sabang sampai Merauke kesemua wilayah ini memiliki tata cara yang berbeda dalam acara pernikahan. Meskipun akad nikah harus sesuai dengan hukum Islam, bahkan di hadiri oleh petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) setempat, akan tetapi rentetan acara setelah akad nikah ini selalu berbeda beda mengikut adat istiadat tempat diadakannya resepsi pernikahan tersebut.

Sehingga tata cara akad nikah ini akan berbeda di setiap daerah, hal ini dikarenakan intervensi adat yang sangat kuat dengan ritual pernikahan tersebut. Akan halnya Mahar ataupun Harta yang wajib diberikan oleh Mempelai pria kepada Mempelai wanita. Mahar inipun berbeda-beda disetiap wilayah. Sesuai dengan kebiasaan dan adat yang terdapat dalam wilayah tersebut. Mengenai hal ini, maka kita akan melihat bagaimana Islam menempatkan mahar sebagai pemberian sang suami kepada Istrinya yang sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Mahar dalam Islam.

Mahar berasal daripada perkataan Arab. Di dalam al-Quran istilah mahar disebut dengan al-sadaq, al-saduqah, al-nihlah, al-ajr, al-faridah dan al-‘aqd. Menurut istilah syara’ mahar ialah suatu pemberian yang wajib diberikan oleh suami kepada isteri dengan sebab pernikahan. Terdapat banyak dalil yang mewajibkan mahar kepada isteri antaranya firman Allah dalam surah al-Nisa’ ayat 4 :

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”.

Pemberian mahar suami sebagai lambang kesungguhan suami terhadap istri. Selain itu hal tersebut mencerminkan kasih sayang dan kesediaan suami hidup bersama istri serta sanggup berkorban demi kesejahteraan rumah tangga dan keluarga. Mahar juga merupakan penghormatan seorang suami terhadap isteri.

Memberi mahar kepada istri hukumnya wajib. Menurut Imam Abu Hanifah, istri berhak mendapat mahar apabila akad nikahnya sah. Manakala dalam mazhab Syafi’e, diwajibkan mahar bukan disebabkan akad nikah yang sah saja tetapi juga dengan adanya persetubuhan. Sekiranya akad nikah tersebut fasid (tidak sah), suami tidak wajib memberi mahar kepada istri melainkan setelah berlakunya persetubuhan.

Kejadian Terdahulu tentang Mahar Pernikahan.

Ada banyak kejadian yang telah terjadi di zaman Rasulullah mengenai Mahar dalam pernikahan. Diantaranya:

  1. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam kitab Shohihnya. Bahwasanya ada seorang wanita dari Bani Fazaroh menikah dengan Mahar sandal. Kemudian Rasulullah bertanya padanya, “apakah kamu rela dengan sandal ini sebagai maharnya?” kemudian wanita itu menjawab. “Ya”. Maka Rasulullah pun membiarkannya.
  2. Dalam Sunan An Nasa’i bahwasanya Abu Thalhah ingin menikahi Ummu Sulaim, kemudian Ummu Sulaim berkata: “Demi Allah wahai Abu Thalhah, aku adalah seorang wanita Muslimah dan engkau adalah pria kafir, kalau kau ingin menikahiku, maka masuk Islamlah terlebih dahulu, maka itu adalah sebagai maharku”. Kemudian Abu Thalhah masuk Islam. dan itulah mahar termahal dalam Islam. yaitu keislaman Abu Thalhah. Kemudian Tsabit berkata: “kami tidak mendapati sebaik-baik dan semulia wanita di hadapan Allah S.W.T selain Ummu Sulaim”. Maka menikahlah mereka berdua, dan memperoleh banyak keturunan.
  3. Kisah pernikahan Abduurahman Bin Auf dengan mahar 5 Dirham perak, dan Nabi meng-iyakannya.

Dengan kejadian diatas dapat kita simpulkan bahwasanya Sunnah Nabawiyyah meringankan Mahar. Dan tidak menjadikan mahar sebagai penghambat pernikahan.

Mahar saat ini.

Rakyat Indonesia pada umumnya dan Umat Islam pada khususnya, berpandangan bahwasanya barang siapa yang bisa membayar atau mengangkat mahar pernikahannya dengan harga setinggi-tingginya maka menjadi manusia yang mulia di dunia. Padahal terkadang acara pernikahan yang begitu mewah dengan uang “Panai” (mahar) yang tinggi terkadang kandas di tengah jalan. Hal ini karena tren dan zaman sekarang ini, apabila seseorang bisa melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain maka dia akan dianggap sebagai  “The Maestro” di dunia pernikahan. Begitu juga kalau uang panai mencapa 1 milyar ataupun 100 milyar sekalipun, pasti akan menjadi perbincangan di khalayak ramai maupun di media sosial. Inilah tren yang marak saat ini.

Bagaimana kadar mahar yang paling baik menurut Islam?

 Islam tidak menetapkan kadar serta batas maksimal dan minimal dalam menentukan mahar bagi seorang wanita. Mahar tersebut bergantung kepada uruf iaitu keadaan dan suasana suatu tempat dan masyarakat. Sungguh pun demikian, Islam menganjurkan agar kita mengambil jalan tengah yaitu tidak meletakkan mahar terlalu tinggi dan tidak pula terlalu rendah. Hal ini sesuai dengan anjuran Rasulullah S.A.W agar mempermudahkan mahar sebagaimana dalam sabdanya :

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَؤُوْنَةً.

“Kebanyakan perempuan yang berkah perkahwinannya ialah yang mudah perbelanjaan maharnya”.

Dalam hadis diatas Rasulullah tidak mengatakan “yang murah perbelanjaan maharnya” akan tetapi Rasulullah menggunakan kata “mudah”. Ini dapat dimaknai secara fleksibel oleh setiap muslim. Bahwa yang mudah itu tidak selalunya murah.

Mungkin bagi seorang anak mentri, mahar senilai 100 juta rupiah itu mudah, lain halnya seorang mahasiswa yang nyambi kerja, kalau di bebankan dengan Mahar sebesar 10 juta rupiah, maka akan terasa berat baginya. Sehingga tolak ukur mudah disini mengikuti kebiasaan dan kekuatan seorang laki-laki yang ingin menikah.

Kesimpulan

Mahar adalah hak istri yang diberikan oleh suami dengan hati yang tulus ikhlas tanpa mengharapkan balasan sebagai pernyataan kasih sayang dan tanggung jawab suami atas kesejahteraan rumah tangga. Hal ini  bertujuan untuk menggembirakan dan menyenangkan hati istri agar istri merasa dihargai dan bersedia untuk menjalani kehidupan bersama suami. Oleh karena itu mahar ini haruslah sesuai dengan kemampuan sang suami dan juga keredaan sang istri. Karena keberhasilan dalam berumah tangga bukanlah dinilai dari seberapa besar mahar yang diberikan, akan tetapi bagaimana keluarga itu menggapai ridho Ilahi dengan mengisi setiap rutinitas keluarga itu dengan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia dan tentunya yang berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala juga.

 

H. Intan Sumantri, B.Irkh.

Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Ilmi, MBS Tarakan.

| Leave a comment

Khutbah Idul Adha 1437 H. Masjid Al Isti’la’ RSUD Tarakan Oleh: H. Intan Sumantri, B.Irkh.

idul-qurbanالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَ أَصِيْلاً

لآإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

لآإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزاَبَ وَحْدَهُ
لآإِلَهَ إِلَّا اللهُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ. اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ اَلَّذِىْ هَداَنَا وَأَنْعَمَنَا بِالإِسْلاَمِ وَأَمَرَنَا بِالْجِهَادِ وَنَوَّرَ قُلُوْبَنَا بِالْكِتَابِ الْمُنِيْرِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلَّذِىْ بَلَغَ الرِّسَالَةِ وَأَدَّى اْلأَمَانَةِ وَنَصَحَ اْلأُمَّةِ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ هَذاَ النَّبِيِّ اْلكَرِيْمِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الله وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.

 

Ma’asyiral Muslimin wa Zumrotal Mukminin Rahimakumulloh!

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur.

Terutama marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang bisa diterima manusia. Tidak semua manusia mendapatkannya, alhamdulillah kita termasuk yang mendapatkannya. Itulah ni’mat Iman dan Islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, lurus, benar, bermakna serta selamat di dunia maupun akhirat.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’afiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu Ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan.

Amien, amien ya rabbal ‘alamin.

Selanjutnya khotib mengajak Jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Allah melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan melalui ucapan sholawat dan salam-sejahtera kita kepada manusia pilihan yang mengajarkan kita hakikat Iman dan Islam.

Imamul Muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan Qoidul Mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya Nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah Ta’ala, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah Ta’ala layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

71 Tahun perjalanan Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Berbagai macam permasalahan telah dihadapi oleh negeri ini. Hal ini menjadikan kita sadar bahwa mengisi kemerdekaan merupakan perjuangan panjang yang tiada akhir bagi penduduk bangsa ini. Bangsa yang dikaruniai berbagai macam sumber daya alam yang melimpah, berbagai macam sumber daya manusia yang kompeten, tetapi ternyata tidak cukup untuk membenahi kerusakan moral di seluruh lini kehidupan. Hal ini menjadikan kita yakin seyakin-yakinnya, bahwa untuk menjadi suatu negara dgn Gelar “Baldatun Tooyibatun wa Robbun Ghofur” tidak cukup dengan mempersiapkan SDM dan SDA yang berkesinambungan. Hal ini menuntut kita untuk mencari keberkahan-keberkahan yang turun dari langit. Yang dengan keberkahan itu bisa menjadikan negeri ini aman, tentram, damai, selamat, dan sentosa.

Disinilah pentingnya kaderisasi para pemimpin Islam yang bisa memperjuangkan Agama ini dalam framework negara Indonesia. Karena apabila umat Islam tidak memiliki pemimpin Muslim dikalangan mereka, maka dengan mudahnya agama ini akan di nistakan dengan berbagai macam permasalahan yang sejatinya bertujuan untuk menyingkirkan syari’at dari tatanan Undang Undang yang telah dijalankan di negeri ini.

Keprihatinan kita sebagai rakyat Indonesia dengan pemberitaan yang tidak adil dan dipandang menyudutkan umat Islam di Indonesia, yang notabenenya kita sebagai Umat Islam adalah umat Mayoritas di negeri ini tetapi minoritas dalam perlindungan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penolakan terhadap peraturan daerah dan Undang undang yang bertujuan melindungi umat Islam. ditambah lagi pemberitaan yang disiarkan langsung oleh Media Sekuler di Indonesia yang menjadikan Muslim dan Islam adalah biang kerok dari semua masalah yang timbul di Indonesia.

Sebagai contoh yang baru saja terjadi di Banten pada bulan Ramadhan lalu, Perda yang melarang para pedagang kuliner untuk berdagang di pagi dan siang hari bulan ramadhan. Hal ini bertujuan untuk menghormati umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Perda ini juga tidak seenaknya melarang para pedagang kuliner untuk berdagang. Tetapi tetap memberikan ruang kepada mereka untuk menjual berbagai macam makanannya menjelang magrib sampai saat sahur tiba. Dan ada beberapa tempat yang diperbolehkan mereka untuk berjualan makanan dipagi dan siang hari seperti di Wilayah Rumah sakit, Terminal maupun stasiun. Yang disana terdapat keringanan bagi umat Islam untuk tidak berpuasa karena sakit ataupun dalam keadaan musafir.

Akan tetapi apa yang diberitakan oleh media sangat bertolak belakang dengan kebijakan perda yang telah ada. Media menjadi sarana untuk memperlihatkan ketidak toleran Islam terhadap orang yang tidak berpuasa. Dengan mengangkat Slogan “Kebebasan” dan “Hak Asasi Manusia”, media menyiarkan berbagai macam pola fikir yang justru salah dan menyesatkan. Bagaimana tidak, jika ada seorang Muslim yang sedang beribadah menjalankan Puasa Ramadhan kemudian disuruh untuk menghormati orang yang tidak berpuasa. Berbagai macam logika sesat yang dilaungkan oleh Media Sekuler tanah air dengan slogan Hak Asasi Manusia untuk menjalankan Ibadah atau tidak. Kalau kita berfikir tentang Hak Asasi, maka manakah yang lebih perlu di penuhi, Hak Asasi Manusia atau Hak Asasi Allah….?

Hal ini menjadikan masyarakat awam bingung. Akhirnya muncullah stetmen negatif terhadap syariat Islam yang telah terundangkan di Indonesia. Sehingga sontak kejadian ini memicu pencabutan 1000 perda syariah di seluruh Indonesia oleh Bapak Presiden kita.

Keprihatinan rakyat Indonesia pada umumnya dan Umat Islam pada khususnya tidak hanya berhenti sampai disitu, berbagai tayangan infotainment ataupun hiburan yang sudah merambah di setiap sudut kehidupan generasi muda Indonesia. Yang disadari ataupun tidak disadari telah mendarah daging dan menjadi tren kehidupan anak bangsa. Siaran TV, Sosial Media, ataupun Surat Kabar yang mengusung Tren kehidupan barat juga sudah menjadi santapan generasi muda setiap harinya. Hal ini juga menjadi dilema bagi generasi muda bangsa ini untuk “Move on” dari kehidupan Jahiliyyah kepada kehidupan Islami.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

Tarakan sebagai kota Transit para pedagang maupun pelancong dari dalam maupun luar negri, menjadi kota kecil yang ramai penduduk dan sangat kondusif untuk menjadi tempat tinggal ataupun mencari nafkah. Berbagai macam suku berkumpul di kota ini, berbagai adat istiadat yang mewarnai wilayah ini, juga berbagai macam agama yang berdiri tegak di kota ini.

Akan tetapi yang sangat disayangkan adalah sensitifitas para penduduk kota ini yang dinilai cukup tinggi apabila ada isu yang terkait dengan SARA (Suku, Agama dan Ras). Hal ini menjadikan kota kita tercinta ini sangat mudah terjadi konflik, khususnya konflik kesukuan maupun agama. Maka kita sebagai seorang Muslim yang baik, jangan mudah terpancing oleh hasutan-hasutan maupun provokasi yang sering bergentayangan di Media Sosial, yang bertujuan mengobarkan api kerusuhan antar suku maupun antar umat beragama. Kita sebagai Umat Islam adalah umat yang satu. Tidak ada perbedaan suku, warna kulit, pekerjaan, tingkatan kasta kehidupan, maupun derajat yang lainnya di hadapan Allah Ta’ala. Hal ini sesuai dengan Firman Allah Ta’ala dalam surah Al Hujurat: 13.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [٤٩:١٣].

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Sehingga ketika kita yang terkumpul di masjid ini dengan berlatar belakang suku yang berbeda-beda. Kita tetap akan bersatu dalam naungan bendera keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Ta’ala. Seperti halnya ketika seorang Imam telah berdiri untuk mengimami sholat, ketika Imam itu berkata “Sawwu Sufufakum” Luruskan dan Rapatkan barisan, maka semua jamaah, baik muda ataupun tua, pejabat maupun rakyat biasa, kaya maupun miskin, akan bersama-sama mengikuti dan taat dengan perintah Imam tersebut. Begitulah seorang muslim yang berjamaah.

 

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

Ada sebuah peristiwa yang meresahkan umat Islam maupun Non Muslim di Tarakan akhir-akhir ini. Peritiwa itu telah terjadi di Tahun 2015 lalu, tetapi tidak berhasil diungkap oleh pihak yang berwajib. Sehingga peristiwa itu terjadi lagi di tahun ini, tepatnya di Bulan Juli hingga Agustus 2016. Peritiwa itu adalah pembuangan Mushaf Al Qur’an secara bersangsur-angsur oleh seseorang yang tidak dikenal. Belum diketahui motif pembuangan Al Qur’an ini. Akan tetapi berkat kerjasama Masyarakat dan Pihak yang berwajib, akhirnya kasus ini bisa diselesaikan dan oknum yang membuang Al Qur’an itu telah diamankan oleh pihak yang berwajib.

Disini perlu kita pahami, bahwa ketika ada salah satu agama dilecehkan atau dinistakan, tidak hanya penganut agama tersebut yang merasa resah, penganut agama lainpun resah, karena takut akan terjadi kesalahfahaman antara umat beragama sehingga menjadi konflik internal antar oknum maupun konflik eksternal agama yang tiada habisnya. Tapi, kita patut bersyukur, dengan Rahmat dan Hidayah Allah serta kerja keras beberapa orang yang peduli terhadap agama ini, pelaku bisa cepat didapatkan dan kemudian masuk kedalam proses hukum positif di Indonesia.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَ للهِ الْحَمْدُ.

Jamaah sholat Iedul Adha, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah.

Dengan datangnya hari ini 10 Dzulhijjah ini,  marilah kita merenungi kembali syariat Allah yang berupa “Udhiyyah” yang telah di syariatkan di tahun 2 Hijriyah. Tahun tersebut adalah tahun di mana disyari’atkannya shalat ‘iedain (Idul Fithri dan Idul Adha), juga tahun disyari’atkannya zakat maal (harta benda).

Tak diragukan lagi, udhiyah adalah ibadah pada Allah dan pendekatan diri pada-Nya, juga dalam rangka mengikuti ajaran Nabi kita Muhammad S.A.W. Kaum muslimin sesudah beliau pun melestarikan ibadah mulia ini. Tidak ragu lagi ibadah ini adalah bagian dari syari’at Islam. Hukumnya adalah sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) menurut mayoritas Ulama.

Ada beberapa hikmah yang perlu kita ketahui dari Syariat Idul Qurban ini diantaranya:

  1. Dengan berkurban, maka kita dapat Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
  2. Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –kholilullah (kekasih Allah)- as. yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
  3. Agar setiap Mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan.
  4. Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban. Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia.

Demikian khutbah Idul Adha kita kali ini, Akhirnya marilah kita berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah menerima amal ibadah kita, terutama rangkaian ibadah di bulan Dzulhijjah ini, mengampuni segala dosa kita. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang yang bertaqwa serta mencatat kita sebagai calon-calon penghuni surga. Marilah kita juga berdo’a semoga hasil baik yang kita petik dari ibadah puasa arafah, shalat ied dan kurban yang kita lakukan diterima di sisi Allah, amin yaaa Rabbal ‘alamin.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا، اَللَّهُمَّ وَفِّقْهُمْ لِمَا فِيْهِ صَلَاحُهُمْ وَصَلَاحُ اْلإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِمَهَامِهِمْ كَمَا أَمَرْتَهُمْ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَبْعِدْ عَنْهُمْ بِطَانَةَ السُّوْءِ وَالْمُفْسِدِيْنَ وَقَرِّبْ إِلَيْهِمْ أَهْلَ الْخَيْرِ وَالنَّاصِحِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ.

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَعِنْهُمْ عَلَى طَاعَتِكَ وَاهْدِهِمْ سَوَاءَ السَّبِيْلِ، اَللَّهُمَّ جَنِّبْهُمْ الْفِتَنَ مَاظَهَرَ مِنْهَا وَمَابَطَنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْ مَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِهُدَاكَ وَاجْعَلْ عَمَلَهُ فِيْ رِضَاكَ، وَارْزُقْهُ الْبِطَانَةَ الصَّالِحَةَ النَاصِحَةَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Posted in Intan's Notes, Islamization | Leave a comment

Idul Fitri Sebagai Titik Awal Perjuangan, bukan sebagai Ritual Tahunan semata

Islamic Centre Samarinda

 

Umat Islam adalah umat yang istimewa dibandingkan umat manusia yang lainnya di muka bumi ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya suatu bulan dalam satu tahun hijriah (Tahun Islam) yang diistimewakan baik oleh penduduk bumi maupun penduduk langit. Bulan itu adalah Bulan Ramadhan. Bulan ini dikatakan sebagai bulan istimewa yang didalamnya diturunkan Kitab Suci umat Islam. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqoroh: 185.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)”.

Bulan ini diistimewakan dengan adanya Malam Lailatul Qodar. Bulan ini diistimewakan dengan dilipatgandakan semua amal perbuatan. Bulan ini diistimewakan dengan dibelenggunya setan-setan dan ditutupnya pintu neraka selama sebulan penuh.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh Berkah, Rahmat dan Ampunan bagi semua masyarakat Muslim di dunia. Bulan ini sebagai ajang untuk mendidik setiap individu Muslim agar mereka terbiasa menahan hawa nafsunya. Bulan ini juga sebagai ajang mendidik rohani agar patuh dan taat terhadap perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya. Bulan ini bukanlah bulan penyiksaan terhadap jasad manusia sebagai mana dikatakan oleh golongan yang membenci Islam. mereka mengatakan, setiap Muslim harus menahan lapar dan dahaga di siang hari, sedangkan pada malam harinya mereka diperintahkan untuk mengurangi tidurnya seraya menghidupkan malam – malam itu untuk melaksanakan ritual ibadah malam. Begitu menyiksa jasad dan rohani, padahal semua itu dilakukan hanya untuk menyambut hari raya. (begitulah pandangan mereka yang tidak memahami Islam secara keseluruhan).

Ibarat sebuah mesin yang hidup terus menerus sepanjang waktu, tubuh kita juga perlu beristirahat. Organ pencernaan kita juga perlu di istirahatkan dari mengolah makanan yang berat secara terus menerus. Kalaulah sebuah mesin yang kita gunakan untuk membantu pekerjaan kita sehari-hari ini harus ada jam beristirahat ataupun memerlukan sistem pendingin yang memadai, agar mesin tersebut tidak “overheat”, maka begitu juga dengan sistem pencernaan dalam tubuh manusia. Organ tubuh manusia yang Allah Ta’ala ciptakan memang tidak memerlukan waktu untuk beristirahat. Selama nyawa sebagai pendorong utama masih melekat di dalam jasad, maka selama itulah jasad akan berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau dikaitkan dengan Dalil Naqly, maka betullah Sabda Rasulullah S.A.W yang mengatakan:

“Berpuasalah Niscaya engkau akan sehat”.

Walaupun hadist ini adalah hadist lemah yang telah disebutkan oleh beberapa Ulama Ahli Hadist seperti Hafizd Al-Iraqi dalam kitabnya “Mughni an Hamlil Asfar”, Imam Al-Munawi didalam kitabnya “At-Taisir”, begitu juga dengan Imam Uqoily dalam kitabnya “Ad-dhu’afa”, dan yang termasyhur adalah pendapat Syeikh Al-Albani yang mengatakan hadist ini lemah dalam kitabnya “Silsilah Dhu’afa’. Walaupun pada prinsipnya hadist lemah memang tidak dapat dijadikan pegangan, tetapi ada sebagian ulama yang membolehkan berpegang kepada hadist lemah untuk Fadhilat Amal (keutamaan amal perbuatan).

Dari penjelasan ini, maka dengan berpuasa bisa meningkatkan kesehatan kita. Ada juga pengalaman beberapa individu muslim yang mempunyai penyakit tahunan “Maag” yang sering kambuh apabila terlambat makan dan atau termakan makanan yang pedas ataupun asam. Akan tetapi di bulan puasa Ramadhan, penyakit itu tidak kambuh bahkan telah hilang dengan berjalannya bulan puasa sebulan penuh.

Begitu istimewanya bulan Ramadhan, sehingga para Salaf-Assholih terdahulu begitu senang dan bergembira apabila telah datang bulan Ramadhan, bahkan sebelum kedatangan bulan suci ini mereka selalu berdoa agar Allah S.W.T mempertemukan mereka dengan bulan suci ini. Terlebih ketika sudah memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, mereka memperbanyak doa mereka seraya berkata “Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Doa ini berulang-ulang mereka panjatkan dengan harapan mereka bisa menemui Ramadhan di tahun tersebut dalam keadaan sehat wal-afiat.

Ibnu Rajab Al-Hanbali pernah menceritakan bagaimana persepsi sebagian ulama salaf mengenai Ramadhan, Beliau berkata dalam kitab karangannya “Lathaif Al-Ma’arif”.

“Puasalah selama anda didunia! Jadikanlah hari rayamu adalah kematian. Seluruh waktu di dunia adalah bulan puasa bagi orang yang bertaqwa. Mereka berpuasa di dalamnya dari berbagai syahwat serta hal yang diharamkan. Ketika maut datang menjemput, maka berakhirlah masa puasa mereka, lalu mereka mengawali hari raya idul fitri mereka”.

Perkataan Ibnu Rajab yang dinukilkan dalan kitab Lathaif tersebut sungguh membangkitkan kesadaran pada diri kita. Bila pada umumnya orang-orang menganggap bahwa Puasa Ramadhan dan Idul Fitri adalah ibadah tahunan, justru Ulama Salaf menganggap lebih esensial, bahwasanya kehidupan di dunia ini pada dasarnya adalah berpuasa. Dalam arti kata, mereka menahan diri mereka dari berbagai syahwat, maksiat, dan segala perbuatan yang diharamkan sepanjang kehidupan mereka di dunia. Masa berbuka mereka adalah pada saat hari raya yaitu ketika ajal telah tiba menuju kehidupan kedua yang lebih haqiqi.

Dari persepsi diatas, maka kita perlu berfikir sejenak, kira-kita Ramadhan kita sekarang ini sudah sejauh mana kualitasnya? Masing masing individu tentu bisa mengukurnya. Jangan sampai kesalah-fahaman kita dalam memahami bulan Ramadhan ini malah menjerumuskan kita kepada pandangan bahwa Ramadhan dan Syawal (bulan puasa dan hari raya Idul Fitri) hanya sebagai momen tahunan saja, tanpa bisa meninggalkan bekas di dalam Jasmani ataupun Rohani kita untuk bekal menghadapi 11 bulan berikutnya.

Mereka (Para Salaf) sebagaimana riwayat tadi, tidak pernah membeda-bedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan yang lainnya, dalam artian mereka tetap beramal secara maksimal baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Sebagai contoh kecil, kalau kita jeli membaca perintah puasa di bulan Ramadhan, dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, maka harus diingat bahwa goal terakhirnya adalah “Agar kalian Bertaqwa”. Nah, taqwa ini, tentu saja senantiasa terus diupayakan sepanjang kehidupan manusia muslim. Maka, Ramadhan justru dijadikan momentum untuk menularkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dalamnya kepada bulan-bulan lainnya.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi didalam kitab “Nida’ur Rayyan” menceritakan ada seorang Budak perempuan (Hamba Sahaya) yang dijual oleh seorang Salaf. Waktu itu, Tuan barunya lagi sibuk menyiapkan makanan, minuman dan lain sebagainya untuk menyambut Ramadhan. Kemudian Budak itu pun berkomentar:

“Kalian tidak berpuasa, melainkan saat Ramadhan. Dahulu, aku bersama Tuanku yang semua waktunya adalah Ramadhan. Kembalikanlah aku kepadanya!”

Dari sepenggal kisah diatas, kita dapat memahami bahwa bagi mereka (para Salaf), Ramadhan adalah sepanjang usia, sehingga tidak ada bulan lain yang sia-sia. Sehingga seorang budak wanita yang telah berpindah tuan pun tidak rela bila tuannya yang baru tidak melakukan kebaikan sebagaimana tuannya yang terdahulu. Ini merupakan suatu sikap yang telah mendarah daging menjadi karakter dalam diri hamba sahaya perempuan tadi. Dia terbiasa berpuasa dan melakukan amal kebajikan bersama tuannya yang terdahulu. Sehingga dia merasa tidak rela bila tuannya yang baru saja membelinya dari tuannya yang lama, ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Walaupun tanpa kita sadari, Ramadhan akan, sedang beranjak dan meninggalkan kita. Tapi sebagai seorang Muslim yang ideal, sebaiknya kita mengambil pelajaran dengan datangnya Bulan Ramadhan ini untuk dijadikan landasan dan pegangan kita menghadapi ujian kehidupan di 11 bulan yang akan datang. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dengan berakhirnya Ramadhan di tahun 1437 Hijriah Tahun ini, diantaranya:

  1. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk menempa diri, melatih jiwa dan raga untuk senantiasa berbuat kebaikan. Baik dalam hal hubungan kita dengan Tuhan Allah Ta’ala, maupun dengan Hubungan kita dengan sesama Manusia.

  2. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran kita terhadap segala sesuatu yang kita hadapi. Baik dalam ruang lingkup pekerjaan maupun dalam beribadah. Dalam hal pekerjaan misalnya, seorang muslim haruslah bersabar ketika panas terik matahari, dengan keringat bercucuran, mereka harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya dengan harus menahan lapar dan dahaga. Sedangkan dalam ruang lingkup ibadah, umat Muslim harus bersabar dengan berkurangnya waktu istirahat mereka pada malam hari yang kemudian sebagian waktu istirahat itu digunakan untuk bermunajat kepada Allah S.W.T.

  3. Dengan telah berakhirnya “Madrasah Ramadhan” tahun ini, semoga kita mendapatkan predikat “Ketaqwaan” yaitu dengan cara memaksimalkan bulan-bulan setelah Ramadhan dengan amalam-amalan sebagaimana kita lakukan di bulan Ramadhan dengan Istiqamah.

  4. Besar harapan kita sebagai umat Muslim Dunia, agar Allah S.W.T mempertemukan kita dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Karena sampai detik ini, tidak ada “Garansi” bagi setiap Individu Muslim akan bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Kita hanya bisa berdoa dan berdoa seraya memohon kepada Allah agar masih dipanjangkan umur ini, diberikan kesehatan, diberikan rezeki sehingga bisa bertemu dan menikmati Indahnya Ramadhan di tahun berikutnya.

Sebagai penutup dan kesimpulan, penulis ingin mengajak kepada seluruh umat Islam baik yang berada di Tarakan maupun di Wilayah Kaltara, agar bersama sama menjadikan hadirnya bulan Syawal ini, sebagai awal meraih ketaqwaan, sebagai awal perjuangan melawan segala jenis kemaksiatan, sebagai awal mula menjadi Individu Muslim yang taat dan patuh terhadap peraturan, baik peraturan yang dibuat oleh Manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri, terlebih ketaatan kepada peraturan dan rambu-rambu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pedoman kehidupan di dunia ini. Bulan Syawal telah hadir di hadapan kita, waktu terus berjalan, maka kehidupan umat Muslim pun harus berubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana Rasulullah S.A.W pernah bersabda:

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemaren, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama seperti hari kemaren, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari yang kemaren, maka dia termasuk orang yang terlaknat” (H.R. Hakim).

Salam Idul Fitri 1437 H, Taqobbalallah Minna Wa Minkum.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Griya Sehat Jawi El-Zahra, 30 Ramadhan 1437 H.

 

Posted in Islamization, Motivation | Leave a comment