Idul Fitri Sebagai Titik Awal Perjuangan, bukan sebagai Ritual Tahunan semata

Islamic Centre Samarinda

 

Umat Islam adalah umat yang istimewa dibandingkan umat manusia yang lainnya di muka bumi ini. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya suatu bulan dalam satu tahun hijriah (Tahun Islam) yang diistimewakan baik oleh penduduk bumi maupun penduduk langit. Bulan itu adalah Bulan Ramadhan. Bulan ini dikatakan sebagai bulan istimewa yang didalamnya diturunkan Kitab Suci umat Islam. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqoroh: 185.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil)”.

Bulan ini diistimewakan dengan adanya Malam Lailatul Qodar. Bulan ini diistimewakan dengan dilipatgandakan semua amal perbuatan. Bulan ini diistimewakan dengan dibelenggunya setan-setan dan ditutupnya pintu neraka selama sebulan penuh.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh Berkah, Rahmat dan Ampunan bagi semua masyarakat Muslim di dunia. Bulan ini sebagai ajang untuk mendidik setiap individu Muslim agar mereka terbiasa menahan hawa nafsunya. Bulan ini juga sebagai ajang mendidik rohani agar patuh dan taat terhadap perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya. Bulan ini bukanlah bulan penyiksaan terhadap jasad manusia sebagai mana dikatakan oleh golongan yang membenci Islam. mereka mengatakan, setiap Muslim harus menahan lapar dan dahaga di siang hari, sedangkan pada malam harinya mereka diperintahkan untuk mengurangi tidurnya seraya menghidupkan malam – malam itu untuk melaksanakan ritual ibadah malam. Begitu menyiksa jasad dan rohani, padahal semua itu dilakukan hanya untuk menyambut hari raya. (begitulah pandangan mereka yang tidak memahami Islam secara keseluruhan).

Ibarat sebuah mesin yang hidup terus menerus sepanjang waktu, tubuh kita juga perlu beristirahat. Organ pencernaan kita juga perlu di istirahatkan dari mengolah makanan yang berat secara terus menerus. Kalaulah sebuah mesin yang kita gunakan untuk membantu pekerjaan kita sehari-hari ini harus ada jam beristirahat ataupun memerlukan sistem pendingin yang memadai, agar mesin tersebut tidak “overheat”, maka begitu juga dengan sistem pencernaan dalam tubuh manusia. Organ tubuh manusia yang Allah Ta’ala ciptakan memang tidak memerlukan waktu untuk beristirahat. Selama nyawa sebagai pendorong utama masih melekat di dalam jasad, maka selama itulah jasad akan berfungsi sebagaimana mestinya. Kalau dikaitkan dengan Dalil Naqly, maka betullah Sabda Rasulullah S.A.W yang mengatakan:

“Berpuasalah Niscaya engkau akan sehat”.

Walaupun hadist ini adalah hadist lemah yang telah disebutkan oleh beberapa Ulama Ahli Hadist seperti Hafizd Al-Iraqi dalam kitabnya “Mughni an Hamlil Asfar”, Imam Al-Munawi didalam kitabnya “At-Taisir”, begitu juga dengan Imam Uqoily dalam kitabnya “Ad-dhu’afa”, dan yang termasyhur adalah pendapat Syeikh Al-Albani yang mengatakan hadist ini lemah dalam kitabnya “Silsilah Dhu’afa’. Walaupun pada prinsipnya hadist lemah memang tidak dapat dijadikan pegangan, tetapi ada sebagian ulama yang membolehkan berpegang kepada hadist lemah untuk Fadhilat Amal (keutamaan amal perbuatan).

Dari penjelasan ini, maka dengan berpuasa bisa meningkatkan kesehatan kita. Ada juga pengalaman beberapa individu muslim yang mempunyai penyakit tahunan “Maag” yang sering kambuh apabila terlambat makan dan atau termakan makanan yang pedas ataupun asam. Akan tetapi di bulan puasa Ramadhan, penyakit itu tidak kambuh bahkan telah hilang dengan berjalannya bulan puasa sebulan penuh.

Begitu istimewanya bulan Ramadhan, sehingga para Salaf-Assholih terdahulu begitu senang dan bergembira apabila telah datang bulan Ramadhan, bahkan sebelum kedatangan bulan suci ini mereka selalu berdoa agar Allah S.W.T mempertemukan mereka dengan bulan suci ini. Terlebih ketika sudah memasuki bulan Rajab dan Sya’ban, mereka memperbanyak doa mereka seraya berkata “Ya Allah Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Doa ini berulang-ulang mereka panjatkan dengan harapan mereka bisa menemui Ramadhan di tahun tersebut dalam keadaan sehat wal-afiat.

Ibnu Rajab Al-Hanbali pernah menceritakan bagaimana persepsi sebagian ulama salaf mengenai Ramadhan, Beliau berkata dalam kitab karangannya “Lathaif Al-Ma’arif”.

“Puasalah selama anda didunia! Jadikanlah hari rayamu adalah kematian. Seluruh waktu di dunia adalah bulan puasa bagi orang yang bertaqwa. Mereka berpuasa di dalamnya dari berbagai syahwat serta hal yang diharamkan. Ketika maut datang menjemput, maka berakhirlah masa puasa mereka, lalu mereka mengawali hari raya idul fitri mereka”.

Perkataan Ibnu Rajab yang dinukilkan dalan kitab Lathaif tersebut sungguh membangkitkan kesadaran pada diri kita. Bila pada umumnya orang-orang menganggap bahwa Puasa Ramadhan dan Idul Fitri adalah ibadah tahunan, justru Ulama Salaf menganggap lebih esensial, bahwasanya kehidupan di dunia ini pada dasarnya adalah berpuasa. Dalam arti kata, mereka menahan diri mereka dari berbagai syahwat, maksiat, dan segala perbuatan yang diharamkan sepanjang kehidupan mereka di dunia. Masa berbuka mereka adalah pada saat hari raya yaitu ketika ajal telah tiba menuju kehidupan kedua yang lebih haqiqi.

Dari persepsi diatas, maka kita perlu berfikir sejenak, kira-kita Ramadhan kita sekarang ini sudah sejauh mana kualitasnya? Masing masing individu tentu bisa mengukurnya. Jangan sampai kesalah-fahaman kita dalam memahami bulan Ramadhan ini malah menjerumuskan kita kepada pandangan bahwa Ramadhan dan Syawal (bulan puasa dan hari raya Idul Fitri) hanya sebagai momen tahunan saja, tanpa bisa meninggalkan bekas di dalam Jasmani ataupun Rohani kita untuk bekal menghadapi 11 bulan berikutnya.

Mereka (Para Salaf) sebagaimana riwayat tadi, tidak pernah membeda-bedakan antara bulan Ramadhan dengan bulan yang lainnya, dalam artian mereka tetap beramal secara maksimal baik di dalam maupun di luar Ramadhan. Sebagai contoh kecil, kalau kita jeli membaca perintah puasa di bulan Ramadhan, dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, maka harus diingat bahwa goal terakhirnya adalah “Agar kalian Bertaqwa”. Nah, taqwa ini, tentu saja senantiasa terus diupayakan sepanjang kehidupan manusia muslim. Maka, Ramadhan justru dijadikan momentum untuk menularkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan di dalamnya kepada bulan-bulan lainnya.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi didalam kitab “Nida’ur Rayyan” menceritakan ada seorang Budak perempuan (Hamba Sahaya) yang dijual oleh seorang Salaf. Waktu itu, Tuan barunya lagi sibuk menyiapkan makanan, minuman dan lain sebagainya untuk menyambut Ramadhan. Kemudian Budak itu pun berkomentar:

“Kalian tidak berpuasa, melainkan saat Ramadhan. Dahulu, aku bersama Tuanku yang semua waktunya adalah Ramadhan. Kembalikanlah aku kepadanya!”

Dari sepenggal kisah diatas, kita dapat memahami bahwa bagi mereka (para Salaf), Ramadhan adalah sepanjang usia, sehingga tidak ada bulan lain yang sia-sia. Sehingga seorang budak wanita yang telah berpindah tuan pun tidak rela bila tuannya yang baru tidak melakukan kebaikan sebagaimana tuannya yang terdahulu. Ini merupakan suatu sikap yang telah mendarah daging menjadi karakter dalam diri hamba sahaya perempuan tadi. Dia terbiasa berpuasa dan melakukan amal kebajikan bersama tuannya yang terdahulu. Sehingga dia merasa tidak rela bila tuannya yang baru saja membelinya dari tuannya yang lama, ternyata memiliki kebiasaan yang berbeda bahkan mungkin lebih buruk dari sebelumnya.

Walaupun tanpa kita sadari, Ramadhan akan, sedang beranjak dan meninggalkan kita. Tapi sebagai seorang Muslim yang ideal, sebaiknya kita mengambil pelajaran dengan datangnya Bulan Ramadhan ini untuk dijadikan landasan dan pegangan kita menghadapi ujian kehidupan di 11 bulan yang akan datang. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dengan berakhirnya Ramadhan di tahun 1437 Hijriah Tahun ini, diantaranya:

  1. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk menempa diri, melatih jiwa dan raga untuk senantiasa berbuat kebaikan. Baik dalam hal hubungan kita dengan Tuhan Allah Ta’ala, maupun dengan Hubungan kita dengan sesama Manusia.

  2. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk melatih kesabaran kita terhadap segala sesuatu yang kita hadapi. Baik dalam ruang lingkup pekerjaan maupun dalam beribadah. Dalam hal pekerjaan misalnya, seorang muslim haruslah bersabar ketika panas terik matahari, dengan keringat bercucuran, mereka harus bekerja memenuhi kebutuhan keluarganya dengan harus menahan lapar dan dahaga. Sedangkan dalam ruang lingkup ibadah, umat Muslim harus bersabar dengan berkurangnya waktu istirahat mereka pada malam hari yang kemudian sebagian waktu istirahat itu digunakan untuk bermunajat kepada Allah S.W.T.

  3. Dengan telah berakhirnya “Madrasah Ramadhan” tahun ini, semoga kita mendapatkan predikat “Ketaqwaan” yaitu dengan cara memaksimalkan bulan-bulan setelah Ramadhan dengan amalam-amalan sebagaimana kita lakukan di bulan Ramadhan dengan Istiqamah.

  4. Besar harapan kita sebagai umat Muslim Dunia, agar Allah S.W.T mempertemukan kita dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Karena sampai detik ini, tidak ada “Garansi” bagi setiap Individu Muslim akan bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya. Kita hanya bisa berdoa dan berdoa seraya memohon kepada Allah agar masih dipanjangkan umur ini, diberikan kesehatan, diberikan rezeki sehingga bisa bertemu dan menikmati Indahnya Ramadhan di tahun berikutnya.

Sebagai penutup dan kesimpulan, penulis ingin mengajak kepada seluruh umat Islam baik yang berada di Tarakan maupun di Wilayah Kaltara, agar bersama sama menjadikan hadirnya bulan Syawal ini, sebagai awal meraih ketaqwaan, sebagai awal perjuangan melawan segala jenis kemaksiatan, sebagai awal mula menjadi Individu Muslim yang taat dan patuh terhadap peraturan, baik peraturan yang dibuat oleh Manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri, terlebih ketaatan kepada peraturan dan rambu-rambu Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pedoman kehidupan di dunia ini. Bulan Syawal telah hadir di hadapan kita, waktu terus berjalan, maka kehidupan umat Muslim pun harus berubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Sebagaimana Rasulullah S.A.W pernah bersabda:

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemaren, maka ia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama seperti hari kemaren, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari yang kemaren, maka dia termasuk orang yang terlaknat” (H.R. Hakim).

Salam Idul Fitri 1437 H, Taqobbalallah Minna Wa Minkum.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Griya Sehat Jawi El-Zahra, 30 Ramadhan 1437 H.

 

Posted in Islamization, Motivation | Leave a comment

Menunda-nunda membayar hutang, Bagaimana Islam menyikapinya?

Oleh: H. Intan Sumantri309827_235817166469157_230986226952251_715190_105872290_n

Islam datang ke bumi ini sebagai penyempurna ajaran yang telah ada sebelumnya. Beberapa ajaran Tauhid yang telah dibawa oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad S.A.W semuanya berisi perintah untuk menyembah Allah dan menjauhi semua sesembahan selain-Nya. Seperti ajaran Hanifiyyah Samhah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail Alaihimassalam, kemudian ajaran Nabi Daud Alaihissalam dalam kitab Zaburnya, Taurat yang di wahyukan kepada Nabi Musa Alaihissalam, dan Turunnya Injil kepada Nabi Isa Alaihissalam. Semua kitab-kitab yang turun dari langit beserta Nabi yang membawanya ini berisikan ajaran untuk mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan yang terakhir turunlah Alqur’an dari Baitul Izzah di langit kepada Nabi terakhir pembawa risalah terlengkap dan menyeluruh. Hal ini menyebabkan terhapusnya semua ajaran pada kitab-kitab terdahulu (Zabur, Taurat,Injil) karena semua syari’at tersebut telah disempurnakan dan dilengkapkan dan disesuaikan dengan keadaan zaman. Sehingga Alqur’an menjadi kitab suci terakhir yang turun dari langit dan akan selalu sesuai dengan keadaan di bumi ini hingga akhir zaman kelak.

Sejak wafatnya Rasulullah S.A.W, umat Islam telah memiliki sumber-sumber rujukan hukum yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Sumber hukum Islam itu terdapat dalam Alqur’an, Al Hadist An-Nabawi, Ijma’ Shohabah (Kesepakatan Para Sahabat terdahulu), dan ditambah lagi dengan perkembangan Ilmu Fiqih Islam yang selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman dalam menyelesaikan semua masalah yang timbul di era modern yang tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah dan Sahabat terdahulu.

Hal ini menjadikan Islam sebagai ajaran yang selalu Up-to-date, sehingga semua permasalahan baru dalam umat ini mengenai hukum suatu perbuatan yang tidak pernah ada pada masa terdahulu selalu mendapatkan jawaban yang berlandaskan Alqur’an dan Hadist Nabawi. Hal ini disebabkan karena Ilmu fiqih dan Ulama fiqih selalu ber’ijtihad (mencari hukum) terhadap semua permasalahan yang muncul yang tidak ditemukan jawabannya dalam Alqur’an dan Hadist secara zahir. Sehingga terdapat fleksibilitas dalam agama ini dan selalu ada jalan keluar setiap masalah yang dihadapi oleh umat Islam dengan bantuan Ilmu Fiqih dan para Fuqoha’ di seluruh dunia. Sehingga mereka (Fuqoha’, red: Ulama Fiqih) selalu mengadakan pertemuan setiap beberapa tahun sekali di negara-negara umat Islam untuk membincangkan suatu permasalahan baru yang belum ditemukan jawabannya pada masa terdahulu. Pertemuan tahunan ini kemudian disebut dengan Ma’maj Al Fiqh Al-Islami (pertemuan para Ulama Fiqih sedunia).
Pada artikel edisi ini, penulis akan membahas mengenai hutang. Karena hal ini sangat penting untuk diketahui oleh orang-orang awam. Sehingga setiap individu dari kita tidak mudah atau memudah-mudahkan untuk berhutang kecuali ada niat untuk membayar atau melunasinya.

Pengertian Hutang.

Hutang dalam bahasa arab berasal dari kata “Daana – Yadiinu” yang berarti sesuatu yang tidak ada. Ada juga istilah lain yaitu “Qaradho – Yaqridhu” yang sering diartikan pinjaman. Sedangkan menurut Istilah para Ulama Fiqih, hutang dapat diartikan “sesuatu yang menjadi tanggungan”. Menjadi tanggungan maksudnya adalah ketika seseorang mempunyai hutang kepada orang lain, secara moral dia telah memiliki tanggungan untuk melunasinya. Sebagaimana apabila ada orang yang meminjam uang orang lain, kemudian dia menggunakan uang itu, maka dia berkewajiban mengembalikan kepada pemiliknya semula. Walaupun uang yang dikembalikan bukanlah uang yang dipergunakannya, akan tetapi nilainya harus sama.

Ajaran Islam memberi keluasan kepada manusia dalam kegiatan transaksi jual beli mereka dengan mensyariatkan hutang. Hal ini karena keadaan kehidupan manusia yang selalu berubah-ubah. Terkadang manusia mudah untuk mendapatkan harta, terkadang juga susah dalam mencari harta. Ada yang kaya dan ada juga yang miskin. Ada yang suka membantu dan ada juga yang memerlukan bantuan. Dua hal ini selalu berpasangan. Ditambah lagi tujuan Allah dalam menciptakan transaksi jual beli diantara manusia adalah untuk mempermudah mereka dalam mencari maslahat dalam kehidupannya. Inilah yang menjadikan hutang diperbolehkan dalam syari’at Islam, bahkan diatur dengan beberapa syarat dan ketentuan.

Beberapa syarat dan ketentuan itu adalah adanya uang atau harta yang akan dihutang, adanya niat dari penghutang untuk membayar, adanya saksi dalam hutang piutang, adanya kedua belah pihak yang ingin tolong menolong, adanya kerelaan antara kedua belah pihak dalam akad hutang piutang.

Hal ini sebagaimana tertulis dalam Alqur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertransaksi tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”. (Q.S Albaqoroh: 282).
Makna ayat “bertransaksi secara tidak tunai” merupakan bahasa lain dari membeli dengan pembayaran yang dikemudiankan ataupun berhutang.

Adapun dalam hadist yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shohih Bukhari. Dari Aisyah radhiyallahu anha ia berkata:
“Bahwasanya Nabi Muhammad pernah membeli makanan dari seorang pedagang yahudi kemudian menunda pembayarannya dengan waktu yang disepakati bersama, kemudian Rasulullah memberi orang yahudi itu baju besi sebagai jaminannya”.

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata: Nabi S.A.W bersabda:
“Barang siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud akan membayar ataupun menggantinya, maka Allah akan mempermudahnya, dan barang siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud ingin merusaknya, maka Allah akan membinasakannya”. (H.R Bukhari no. 2387).

Dalam urusan hutang, Islam memerintahkan kepada setiap individu muslim untuk segera melunasi hutang, jika individu tersebut mampu melunasinya dan tidak boleh menunda-nunda pembayaran. Hal ini sesuai dengan Firman Allah.
“Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya” (Q.S. Albaqarah: 283).

Menunda membayar hutang.

Diantara beberapa kasus yang terjadi di masyarakat dalam bab hutang adalah tidak adanya konsekuensi dalam janji yang diberikan oleh penghutang kepada orang yang dihutangi. Sehingga terkadang akan menimbulkan masalah antara kedua belah pihak. Hal ini terjadi karena janji yang tidak ditepati oleh penghutang (kapan akan melunasi hutangnya). Dalam pembahasan fiqih terdapat istilah “Almumatolah wat taflis alkaidi” yang diartikan sebagai menunda-nunda untuk membayar hutang dan berpura-pura menjadi muflis (bokek).

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: “Orang kaya yang menunda membayar hutang adalah suatu kezaliman”. (H.R Bukhari).

Maksud dari hadist tersebut adalah apabila seorang yang mampu untuk membayar hutangnya kemudian dia menunda-nunda pembayarannya tanpa alasan yang tepat, maka itu termasuk perbuatan zalim. Dalam Hadist ini terdapat isyarat pengharaman untuk menunda membayar hutang setelah sampai waktu yang ditentukan untuk membayar. Karena sudah menjadi kewajiban setiap individu yang berhutang untuk menyegerakan membayar hutang jika dia telah memiliki kelapangan dalam harta dan uangnya. Dan tidak diperbolehkan baginya untuk mengakhirkan pembayaran sedangkan dia mampu membayarnya. Ketika seorang yang berhutang mengakhirkan pelunasan hutangnya, sedangkan dia sudah mampu membayarnya, maka ini sudah disebut suatu kezaliman bahkan bisa mendapatkan hukuman dari perbuatannya itu. Dan Islam telah memerintahkan kepada setiap individu muslim untuk menyegerakan melunasi tanggungan dan menjalankan amanah yang diembannya dan memberi hak-hak orang lain yang ada padanya.

Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (Q.S An-Nisa: 58).

Jika memang telah terbukti oleh orang yang memberikan hutang bahwa si penghutang ini telah mampu membayar hutang akan tetapi dia tidak ingin membayarnya malah kemudian menyembunyikan hartanya dari orang lain. Maka sudah menjadi hak bagi orang yang memberi hutang untuk melaporkan hal ini kejalan hukum. Dalam hal ini Islam memiliki seorang ahli hukum yang dimanakan Qadi (red: Hakim), yang berada di mahkamah Islam. kemudian Qadi ini akan mengambil tindakan yang tepat bagi para penghutang yang tidak berniat melunasi hutangnya.

Maka ada beberapa uqubah (hukuman) yang akan diberikan kepada penghutang karena perbuatannya:

1. Qadi (hakim) akan memenjarakan si penghutang sampai dia bisa melunasi hutangnya. Apabila hakim mendapati harta benda si penghutang yang berupa aset rumah ataupun perabotan rumah yang berharga, maka hakim boleh memerintahkan bawahannya untuk menjual aset berharga tersebut dengan tanpa seizin pemiliknya, untuk melunasi hutang-hutangnya. Baik hal ini dikarenakaan si penghutang sengaja menunda membayar hutang ataupun karena dia berpura-pura bokek. Hal ini sebagaimana telah terjadi pada zaman Rasulullah dimana Ali pernah menjual harta Mu’az untuk melunasi hutangnya Mu’az.

2. Kemudian Hakim juga boleh menjadikannya tersangka yang dicari (wanted). Dengan menulis nama dan memajang fotonya di tempat-tempat umum keramaian manusia. Dan menuliskan bahwa orang tersebut susah melunasi hutang jika berhutang. Hal ini bukan termasuk ghibah yang diharamkan ataupun menyebar aib orang lain di depan umum, karena yang melakukannya adalah mahkamah dalam hal ini hakim sebagai penegak hukum. Sehingga masyarakat akan berhati-hati jika melakukan transaksi jual beli atau keuangan dengan orang yang disebutkan tadi.

3. Kemudian untuk hukuman yang terakhir ini adalah dengan memberikan si penghutang denda yang uangnya tidak diberikan kepada pemilik uang akan tetapi diberikan kepada negara yang selanjutnya dipergunakan untuk maslahat umat dan negara. Setelah di denda, si penghutang tetap wajib melunasi hutangnya kepada orang yang dia hutangi. Hal ini menjadikan dia harus membayar lebih dari hutang yang seharusnya dia bayarkan. Karena yang pertama dia harus melunasi hutang dan yang kedua dia harus membayar denda kepada negara atas perbuatannya menunda membayar hutang. Ini dapat dijadikan pelajaran berharga baginya, sehingga tidak akan mengulanginya lagi di lain waktu.
inilah hukuman bagi orang yang menunda membayar hutang dan berpura-pura miskin, agar tidak ditagih ataupun terhindar dari pemilik uang.

Selain memberikan hukuman, Islam juga memberikan solusi kepada orang yang belum bisa melunasi hutang, yaitu sbb:

1. Islam membolehkan si penghutang meminta tambahan waktu untuk melunasi hutangnya. Hal ini juga akan melatih dan menumbuhkan rasa kasih mengasihani antara kedua belah pihak.

2. Islam membolehkan si penghutang mencicil hutangnya dengan tanpa ada tambahan. Jika dia berhutang 2 juta rupiah, kemudian si penghutang hanya mampu mencicil 500 ribu perbulannya, maka di perbolehkan dengan tidak ada tambahan dari jumlah uang yang dipinjamnya. Jika pinjam 2 juta maka harus kembali 2 juta dengan 4 kali cicilan sebesar 500 ribu perbulannya. Hal ini karena tambahan dalam hutang juga disebut dengan riba yang diharamkan dalam Islam.

3. Islam memberikan solusi kepada si penghutang untuk bekerja di tempat orang yang dihutanginya, dengan perjanjian gajinya yang akan dialokasikan untuk membayar hutang.

4. Cara terakhir jika si penghutang sudah tidak mampu melunasi hutangnya. Maka hal ini akan dikembalikan kepada si pemberi hutang. Apakah si pemberi hutang mengikhlaskan begitu saja dengan pertimbangan kesempitan yang dihadapi oleh penghutang, atau memberi keringanan kepada penghutang untuk membayar setengah dari hutangnya saja. Dan jika si pemberi hutang mengikhlaskan piutangnya, maka dia akan mendapatkan pahala karena telah membantu sahabatnya yang dalam kesempitan.

Oleh karena itu, maka setipa individu muslim haruslah berhati-hati dengan hutang piutang, sehingga tidak mudah jatuh dalam pertengkaran yang bisa mengakibatkan terputusnya jalinan ukhuwwah sesama muslim. Dan alangkah indahnya hidup dunia ini, walaupun sederhana tapi terbebas dari hutang. Dan alangkah buruknya jika manusia bergaya hidup mewah, tetapi memiliki hutang dimana-mana. Sehingga setiap ingin keluar atau bepergian, ia takut bertemu dengan orang yang meminjamkan dia harta atau uang. Hidup sederhana tanpa hutang lebih indah dari hidup mewah bergelimang hutang. Dan yang lebih mulia lagi adalah kekayaan dan kemewahan yang di dapat bukan dari hasil hutang, tetapi hasil keringat sendiri. Sehingga seorang mukmin yang kuat dan kaya lebih bermanfaat bagi saudaranya dibandingkan seorang mukmin yang lemah dan miskin. Karena kemiskinan itu selalu mendekatkan kita kepada kekufuran (kafir).

Wallahu A’lam Bisshowab.

Tarakan 21 April 2016
Klinik Herbal El-Zahra Tarakan.

Posted in Islamization | Leave a comment

Umat Islam dan Perayaan Tahun Baru Masehi

fikirzikir1

Sebagaimana kita ketahui, umat Islam Indonesia pada saat ini sudah terhanyut oleh budaya-budaya kafir yang merasuki mereka melalui media, infotainment dan segala bentuk acara televisi yang sedikit banyak telah mengikis Aqidah Islam. Contohnya saja, dalam perayaan Tahun Baru masehi yang sebentar lagi akan berlangsung di kota kota besar di Indonesia. Perayaan pergantian tahun ini selalu di laksanakan dengan berbagai kegiatan yang berbau “maksiat” dan terkesan “hura-hura” dan “huru-hara”.

Kalau ditanya atau dilihat KTP para pemuda pemudi yang ikut merayakan tahun baru, kebanyakan dari mereka adalah Islam. Hal ini tentu saja membuat kita sebagai umat Islam prihatin. Betapa tidak, mengapa perayaan Tahun baru masehi begitu menggelegar dibandingkan dengan pergantian tahun hijriah. Seakan akan kita sebagai umat Islam telah kehilangan identitas sebagai seorang muslim.

Menurut hemat penulis. Ini adalah akibat perang pemikiran (Ghozwul Fikr) yang telah menyerang umat Islam dari segala penjuru. Sehingga masyarakat muslim terjebak dalam masalah seremonial tahun baru Masehi. Seakan-akan momen pergantian Tahun ini adalah ajang untuk berhura hura dan berbagi kasih dengan pasangan masing masing. Padahal hal ini justru menjerumuskan mereka kepada jurang kenistaan yang tidak akan berakhir.

Untuk merubah “mind set” berhura hura dalam malam tahun baru, diperlukan peran dan kesungguhan dari para tokoh masyarakat dan agama. Sebagaimana Islam tidak memberikan peluang bagi setiap muslim berbeda dalam masalah aqidah. Aqidah mereka harus 1, yaitu Islam. Segala jenis perbuatan dan perayaan yang berjalan tidak sesuai dengan aqidah Islam, maka akan tertolak. Sebagaimana Sayyidah Aishah R.A mengabarkan, hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari & Muslim, Rasulullah S.A.W bersabda:

“Barang siapa membuat sesuatu yang baru yang tidak pernah ada sebelumnya, maka ia akan tertolak”

Dalam hal ini perayaan pergantian tahun adalah sesuatu yang tidak ada di dalam agama Islam, dan kemudian ditegaskan lagi dalam sebuah hadist marfu’ dari Abi Umamah Al Bahily, Rasulullah bersabda:

 “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia dari golongan mereka”.

Dari hadist diatas kita mengetahui bahwa mengikuti perayaan tahun baru adalah mengikuti orang-orang nasrani, maka mengikuti orang nasrani sama seperti menjadi nasrani.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengisi kekosongan dalam Tahun baru, diantaranya:

Pertama, Mengucapkan rasa syukur kepada Allah S.W.T yang telah memberikan rahmat dan hidayah kepada Bangsa Indonesia, utamanya umat Islam sepanjang tahun ini.

Kedua, Muhasabah (Introspeksi). Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh manusia beramal baik dan melanggar aturan Allah S.W.T.

Ketiga, Mu’atabah (Membersihkan diri). Selama setahun berbagai macam peristiwa bahagia, menyedihkan, kehidupan atau kematian. Sangat penting agar kita betul betul mengaku bahwa kita sebagai makhluqnya yang serba terbatas dan lemah.

Keempat, Muroqobah (supervisi). Bangsa Indonesia, utamanya umat Islam kedepannya harus obtimis, jangan berputus asa meski berbagai cobaan atau masalah mendera bangsa Indonesia.

Daripada bengong sambil berfikir atau menghayal terhadap hal-hal yang tidak berfaedah, maka kita sebagai muslim sejati sebaiknya mengisi malam pergantian tahun dengan banyak berzikir dan berdoa untuk kebaikan kita, keluarga dan umat Islam khususnya untuk kebaikan kita di tahun berikutnya.

Wallahu A’lam Bisshowab.

Paguntaka City, 31 December 2014.

H. Intan Sumantri Sholeh B.Irkh.

| Leave a comment

Rasulullah dan Ta’addud Zaujah (Poligami)

Rasulullah dan Poligami.

Sebahagian orang barat yang mendengar dari pernyataan para orientalis bahwasanya Rasulullah S.A.W tidak mengikuti Dalil yang tertera dalam Al Qur’an dalam hal poligami. Ketika Beliau (Rasulullah) membolehkan dirinya sendiri untuk menikahi wanita lebih dari 4 orang. Dan kemudian para tokoh orientalis menuduh Rasulullah S.A.W bahwasanya Beliau adalah Hipersex (Wal Iyadzu Billah) sebagaimana yang telah diperbuat oleh raja-raja pada zaman dahulu yang telah melanggar peraturan dalam menikah dengan wanita (yaitu menikah dengan banyak wanita, selir dll).

Dan untuk menjawab subhat yang telah dituduhkan oleh para orientalis ini, kita harus memahami beberapa hal, diantaranya sebagai berikut:

  • Bahwasanya Rasulullah S.A.W  tidak membolehkan pada dirinya apa-apa yang telah Beliau haramkan kepada kaum muslimin, akan tetapi Rasulullah S.A.W menikah dengan semua Istri-istrinya ketika dalil tentang ta’addud (poligami) tidak dibataskan pada 4 orang istri saja, atau sebelum turunnya ayat Alqur’an mengenai poligami yang di batasi kepada 4 orang istri saja, karena ayat Al Quran mengenai pembatasan poligami dengan 4 orang istri diturunkan di akhir tahun ke-8 Hijrah atau 3 tahun sebelum wafatnya Rasulullah S.A.W.
  • Kemudian Rasulullah S.A.W tidak mentalaq (menceraikan) istri-istrinya setelah turunnya ayat pembatasan poligami ini yang telah membatasi poligami hanya dengan 4 orang istri, karena disini terdapat “khususiyyah” (pengkhususan) dari Allah S.W.T kepada Rasulullah S.A.W agar Rasul tidak menceraikan Istri-istrinya bukan karena Allah S.W.T membolehkan Beliau untuk berpoligami lebih dari 4 orang istri, tapi di karenakan ketidakbolehan bagi seorang muslim untuk menikahi Istri Rasulullah S.A.W. Hal ini tidak boleh disamakan dengan kasus istri-istri yang telah diceraikan atau meninggal suaminya dan kemudian boleh dinikahi oleh orang lain. Dan seandainya Rasulullah S.A.W menceraikan salah satu dari istri-istrinya, maka akan jatuhlah derajat istri Rasul di hadapan kaum muslimin, karena cerai itu adalah perkara  halal yang dibenci oleh Allah S.W.T. dikarenakan untuk menjaga kesucian dan wibawa para istri-istri Rasulullah S.A.W, maka Allah S.W.T menghalalkan Rasulullah S.A.W untuk tidak menceraikan Istri-istrinya untuk menjaga wibawa dan kehormatan para Istri Rasulullah juga, sehingga mereka menjadi Ummahat Mu’minin (Ibu dari orang-orang Mu’min). Hal ini sesuai dengan Al Qur’an:

وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا أَن تَنكِحُوا أَزْوَاجَهُ مِن بَعْدِهِ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذَٰلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمًا.(الأحزاب: 53)

“Kalian sama sekali tidak dibenarkan menyakiti hati Nabi dan–sebagai penghormatan kepada Nabi dan istri-istrinya–kalian tidak diperbolehkan mengawini istri- istrinya sesudah ia wafat. Sesungguhnya dalam pandangan Allah tindakan demikian itu merupakan dosa yang besar”.

  • Bahwasanya Rasulullah S.A.W tidak menikah dikarenakan syahwat ataupun keperluan seksual, seperti yang dituduhkan oleh musuh-musuh Islam yang tidak memahami makna pernikahan kecuali dengan ukuran kenikmatan dan kesenangan. Akan tetapi Rasulullah S.A.W menikah adalah untuk menenangkan hati orang disekelilingnya dari berbagai Kabilah (golongan) dengan cara ikatan kekeluargaan yang dibina dengan cara pernikahan. Dan dari segi lain bahwasanya Istri-istri Rasulullah S.A.W adalah Ibu dari orang-orang Mu’min dan sebagai guru-guru dari wanita-wanita Muslimah dalam perkara agama, dan dikhususkan lagi sebagai guru dalam menjelaskan hukum-hakam yang Rasulullah S.A.W tidak menjelaskannya di hadapan para Muslimah, hal ini dikarenakan ada beberapa hal yang wanita malu bertanya kepada Rasulullah S.A.W, kemudian mereka bertanya kepada Istri-istri Rasul sebagai perwakilan dari Rasulullah S.A.W untuk menjawab berbagai permasalahan wanita menurut pandangan Islam.  Dan sememangnya Istri-istri Rasul adalah wanita yang menjadi rujukan fatwa, pesan dan nasehat, yang mana mereka merujuk kepada Rasulullah S.A.W mengenai hukum-hakam yang berkaitan dengan wanita dan kehidupannya.
  • Dan perlu kita ketahui bahwasanya Istri-istri Rasulullah S.A.W, ketika Rasul menikahi mereka, mereka telah mencapai umur yang boleh dikatakan tua, dan mereka semuanya adalah istri-istri yang diceraikan oleh suaminya disebabkan berbagai macam perkara, kecuali Sayyidah Aishah, Hanya Aishah lah yang Rasulullah S.A.W  menikahinya dan dia masih perawan kecil.
  • Ini adalah sedikit penjelasan tentang sejarah Rasulullah menikah dengan Istri-istri Beliau:

a). Rasulullah S.A.W menikah dengan Siti Khadijah ketika Khadijah berumur 40 tahun, dan Rasulullah S.A.W ketika itu berumur 25 tahun. Dan pernikahan itu bertahan selama 28 tahun tanpa adanya Rasul menikah dengan wanita lain.  Dan setelah wafatnya Siti Khadijah, kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Aishah Binti Abu Bakar.

b). Kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Saudah binti Zam’ah setelah ditinggal meninggal oleh suaminya, yang telah berjuang di jalan Islam demi menegakkan Kalimah Allah yang berhijrah ke Habashah, kemudian orang-orang muslim tidak mau menikah dengannya karena Saudah kurang menarik(cantik) dan telah berumur. Rasulullah S.A.W menikahinya sebagai permisalan kepada kaum muslimin bahwasanya harta dan kecantikan itu bukanlah segalanya dalam diri wanita. Akan tetapi akhlak dan agama adalah hal yang terpenting dalam memilih seorang Istri.

c). Demikian pula ketika Rasulullah S.A.W menikah dengan Hafsah Binti Umar Ibn Khattab, setelah ditinggal meninggal suaminya. Ketika itu ayah Hafsah telah menawarkan dirinya kepada Abu Bakar kemudian ia enggan, kemudian ditawarkan lagi kepada Uthman Bin Affan, kemudian ia enggan juga, kemudian datanglah Umar kepada Nabi menceritakan kesedihan Hafsah ketika ditinggal meninggal oleh suaminya. Dan Hafsah merupakan wanita yang tidak terlalu cantik, sehingga Abu Bakar dan Usman tidak menerimanya, kemudian Rasulullah menerimanya sebagai tanda penghormatan dari kepandaiannya dan sebagai penyambung tali silaturrahim yang kuat antara Rasulullah S.A.W dan Umar Bin Khattab. Dan telah diriwayatkan oleh para ahli sejarah bahwasanya Umar telah berkata kepada anaknya Hafsah: “Sesungguhnya aku mengetahui, bahwa Rasulullah menikah denganmu dikarenakan penghormatannya padaku, karena dirimu sama sekali tidak menarik hatii Rasulullah S.A.W .

d). Kemudian Rasulullah S.A.W  menikah dengan Zainab Binti Khuzaimah yang telah ditinggal meninggal (syahid) oleh suaminya  pada perang Uhud. Dan Zainab ketika itu telah sampai pada kedewasaannya dan kasih sayangnya kepada orang-orang miskin, sehingga dia dijuluki sebagai Ibu dari orang-orang miskin.

e). Kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Ummu Salamah Hindun Binti Abi Umayah yang telah ditinggal meninggal syahid oleh suaminya dalam perang uhud dan ketika itu Ummu Salamah adalah orang miskin yang memiliki banyak anak dan tidak ada seorangpun yang menafkahinya. Kemudian Rasulullah menikahinya dan mencukupkan rezekinya dan menafkahi anak-anaknya.

f). Kemudian Rasulullah S.A.W menikah dengan Ummu Habibah binti Abi Sufyan yang telah berhijrah dengan suaminya ke Habashah kemudian diceraikan oleh suaminya dan bermukim di Habashah tanpa ada keluarga dan takut untuk kembali kepada keluarganya terutama kepada Ayahnya sendiri, dikarenakan ayahnya adalah musuh bebuyutan muslim pada masa itu sebelum dia masuk Islam. Kemudian Rasulullah S.A.W menikahinya sehingga menyebabkan bergantinya kebencian menjadi kecintaan antara Rasulullah dan Abu Sufyan yang menyebabkan islamnya Abu Sufyan.

 Sebagai Kesimpulan.

Rasulullah S.A.W tidak pernah melanggar perintah Allah yang diturunkan kepada umat Muslim dengan pembatasan poligami hanya kepada 4 orang istri saja.  Yang mana Rasulullah menikah lebih dari 4 istri sebelum turunnya ayat tentang Ta’addud Zaujah (Poligami) dan pada masa itu tidak dibataskan berapa jumlah istri dalam poligami. Dan hal itu adalah Mubah(boleh).

Berkaitan dengan Rasulullah S.A.W menceraikan salah satu istrinya dan kemudian tidak boleh dinikahi oleh muslim yang lain, dengan adanya dalil pengharaman untuk menikah dengan Ummahat Mu’minin, sebagaimana tujuan dari pernikahan Rasulullah adalah untuk melembutkan hati orang-orang arab disekelilingnya dengan cara pernikahan. Dan hal ini sangat bertentangan dengan tuduhan para orientalis yang menuduh Rasulullah S.A.W menikah karena mencintai banyak wanita dan pemenuhan nafsu seksual, kalau memang demikian, maka Rasulullah S.A.W  akan menikah dengan gadis-gadis yang masih perawan, bukan dengan janda.

Semua istri-istri Rasulullah kecuali Aishah, mereka semuanya adalah janda yang ditinggal meninggal suaminya dan manusia enggan untuk menikahi mereka disebabkan umur yang lanjut dan miskinnya mereka. Maka kemudian Rasulullah S.A.W memberikan contoh dengan menikahi janda-janda itu. Dan juga sebagai pelajaran kepada kita semua, bahwasanya Nasab (keturunan), Harta, dan kecantikan, bukan saja sebagai pengukur wanita dalam pernikahan, akan tetapi akhlak yang baik dan agama yang sempurna pada wanita itulah yang menjadi tolok ukur menikahi wanita.  Oleh karena itu Rasulullah meninggalkan kepada kita Ummahat Mu’minin (Ibu dari Orang-orang mu’min) sebagai Pengajar, Murobby, Penasehat, yang mana dari rumah merekalah adanya halaqoh-halaqoh yang mengajarkan akhlak dan mengajarkan wanita-wanita muslimah perkara agama Islam dan tata cara mengurus keluarga, agar menjadi masyarakat Islam yang benar.

Intan Sumantri Sholeh, Assidiq F3.5c

International Islamic University Malaysia.

27/12/2012       4:35pm.

Posted in Islamization | 3 Comments

Ramadhan Aku Datang…

Ramadhan Aku Datang….

Alhamdulillah wa Syukurillah, Wala haula wala quwwata Illa billah, Amma Ba’ad.

Tanpa terasa  kita telah sampai pada pertengahan bulan Sya’ban, bulan yang dimana Rasulullah S.A.W banyak berpuasa dibandingkan bulan-bulan lainnya selain bulan Ramadhan, di bulan ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin Aisyah radhiyallahu ‘Anha. Bahwasanya tidak pernah Nabi Muhammad  S.A.W itu  berpuasa di suatu bulan yang lebih banyak daripada bulan Sya’ban, dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa: Nabi S.A.W selalu berpuasa dalam bulan Sya’ban, kecuali sedikit sekali yang tidak (yakni sebagian besar dalam bulan ini Beliau gunakan untuk berpuasa. Berdasarkan hadist diatas, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa sebelum kedatangan bulan suci Ramadhan, telah ada anjuran dari Sunnah-sunnah yang Nabi kerjakan agar umat Islam meniru, sebagai rasa  gembira dalam menyambut datangnya Bulan suci Ramadhan.

Bulan suci Ramadhan, dimana di dalamnya Allah banyak menurunkan Berkah, Rahmat, dan Ampunan. Bulan ini terbagi menjadi 3 bagian, 10  malam pertama Allah menurunkan Rahmat, kemudian 10 malam berikutnya Allah menurunkan Ampunan dan 10 malam yang terakhir adalah pembebasan dari Api Neraka. Sebagai umat Islam, kita harus mengetahui  hakikat kehidupan kita di dunia. Kalau dalam istilah orang-orang tua dulu, “Dunia ini adalah tempat numpang “NGOMBE” yang artinya “Dunia hanya sekedar tempat  minum untuk persiapan perjalanan jauh dan kekal di Akhirat nanti”. Maka daripada itu, kesempatan untuk berbuat kebaikan janganlah kita sia-siakan, karena setelah kehidupan di dunia akan ada kehidupan di Akhirat yang lebih kekal. Kita hendaklah berlomba-lomba dalam  berbuat kebaikan (Fastabiqul-Khairat) seraya memohon ampunan kepada Allah S.W.T atas dosa-dosa  yang telah kita perbuat dan  mencari keridhoaan Ilahi selama hidup di  dunia. Salah satunya adalah dengan menjalankan Ibadah Puasa. Banyak hadist yang menerangkan keutamaan Puasa. Seperti Hadist yang diriwayatkan  oleh Abu Hurairah.

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قال: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ. وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بفطره وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ. متفق عليه وهذا لفظ رواية البخاري.

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: Allah Azza Wa Jalla berfirman (dalam Hadist Qudsy): “Semua amal perbuatan Anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya. Puasa adalah perisai (dari kemaksiatan serta siksa neraka). Maka apabila seseorang diantara kalian sedang berpuasa, janganlah dia berbiacara kotor dan jangan pula bertengkar. Apabila ia dimaki oleh seseorang atau diajak bermusuhan maka hendaklah ia berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa” Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di dalam genggaman kekuasaanNya. Sungguh bau dari mulut seseorang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Seseorang yang berpuasa  itu mempunyai 2 kegembiraan, dan ia dapat merasakan kesenangannya, yaitu ketika berbuka ia bergembira, dan apabila telah bertemu dengan Tuhannya maka iapun bergembira dengan adanya balasan puasanya. (H.R Bukhari Muslim dengan Lafaz riwayat Imam Bukhari).

  • Dan diantara keutamaan orang yang berpuasa semata-mata Ikhlas karena Allah Ta’ala adalah Allah akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari Neraka sejauh perjalanan 70 tahun. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al Khudry r.a.

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ عَبْدٍ يِصُوْمُ يِوْمًا فِي سَبِيْلِ اللهِ إِلَّا بَاعَدَ اللهُ بِذلِكَ الْيَوْمَ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً. )متفق  عليه(.

Dari Abu  Sa’id  Al-Khudry r.a ia berkata: Rasulullah S.A.W bersabda: “Tiada seorang hamba pun yang berpuasa sehari di jalan Allah (semata-mata karena taat dan mencari Ridho Allah), kecuali Allah akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari Neraka sejauh perjalanan 70 tahun. (Muttafaq Alaih).

Dan masih banyak lagi Hadist-hadist yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadhan dan amal baik di dalamnya. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dari Nabi S.A.W bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena di dorong  oleh keimanan dan mengharap keridhoan Allah, maka dosa-dosanya akan terdahulu diampuni”(Muttafaq Alaih)

  • Dan di dalam mengerjakan ibadah puasa, umat Islam disunnahkan untuk bersahur, karena dalam sahur itu ada keberkahan. Sebagaimana sabda Rasulullah S.AW:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَسَحَّرُوْا، فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ (متفق عليه).

Dari Anas r.a ia berkata; Rasulullah S.A.W bersabda: “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu ada keberkahan ” (H.R Bukhari & Muslim).

Dan yang membedakan antara puasanya umat Islam dan puasa umat-umat terdahulu )Ahlul Kitab( adalah adanya makan sahur. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Amr Bin Al Ash r.a.

وَعَنْ عَمْرُو بْنِ العَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِياَمِ أَهْلِ الكِتَاِب، أَكْلَةُ السَّجَرِ (رواه مسلم).

Dari Amr Bin Al-Ash r.a bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: “Diantara pembeda antara puasa kita (umat Islam) dengan puasanya kaum Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) ialah adanya makan Sahur” (H.R Muslim).

Dari sini pahamlah kita pentingnya makan sahur bagi orang yang berniat puasa untuk keesokan harinya. Walaupun sahur adalah amalan sunnah, tidak pantas apabila seorang Muslim meninggalkannya, kemudian keesokan harinya membatalkan puasanya dengan alasan tidak terbangun sahur, maka untuk mengelakkan kejadian seperti ini, sahur adalah hal yang utama dilakukan bagi seorang Muslim yang berniat menjalankan puasa pada pagi harinya ataupun pada 1 bulan penuh.

Dalam ajaran Islam hukum puasa dibagi menjadi 2, ada puasa yang hukumnya wajib seperti Puasa Ramadhan, dan ada juga puasa yang hukumnya sunnah seperti Puasa Muharram, Sya’ban, puasa Arofah, Puasa enam hari pada bulan Syawal, dan masih banyak lagi amalan-amalan puasa sunnah yang diterangkan dari berbagai hadist Shahih.

  • Setelah kita mengetahui begitu pentingnya seorang yang berpuasa untuk bersahur, maka menyegerakan untuk berbuka apabila telah tiba waktu magrib adalah hal yang sama pentingnya dengan bersahur. Seperti di jelaskan dalam hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim.

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا الفِطْرَ (متفق عليه).

Dari Sahl bin Sa’ad r.a bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: “Tiada henti-hentinya orang-orang itu memperoleh kebaikan, selama mereka suka menyegerakan berbuka puasa” (Muttafaq Alaih).

Dan kemudian Allah S.W.T juga berfirman dalam hadist Qudsy.

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:  قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: أَحَبُّ عِبَادِيْ إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا.( رواه الترميذي، وقال: حديث حسن).

Dari Abu Hurairah r.a, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Yang paling aku cintai diantara hamba-hamba-Ku ialah yang lebih menyegerakan berbukanya. (Riwayat Imam Tirmidzi dan hadist adalah Hadist Hasan).

Dan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi S.A.W bersabda: “Jika salah seorang diantara kamu berbuka, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Tetapi apabila tidak menemukan kurma, maka hendaklah ia berbuka dengan air, karena sesungguhnya air itu suci”. (Abu Daud & Tirmidzi, Hadist Hasan Shahih).

  • Dan diantara Fadhilah ataupun keutamaan puasa Ramadhan adalah ketika seorang Muslim memberi makan untuk buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia memperoleh pahala seperti pahala puasanya orang yang berbuka tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala orang tersebut.

Suatu ketika Rasulullah datang ke rumah Ummu Umarah r.a, lalu ia (Ummu Umarah) menghidangkan makanan kepada Beliau. Beliau pun bersabda: “Makanlah! Lalu Ummu Umarah berkata: Aku sedang berpuasa ya Rasulullah. Kemudian Rasulullah bersabda: Sesungguhnya orang yang berpuasa itu dimohonkan kerahmatan  oleh para Malaikat, bila ada orang yang makan makanan di tempatnya, hingga mereka  selesai”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah pernah datang ke rumah Sa’ad bin Ubadah r.a, lalu Sa’ad menyuguhkan roti dan minyak, kemudian Beliau S.A.W makan. Setelah selesai Beliau membaca doa (yang artinya): Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian, orang-orang  yang berbakti telah memakan makanan kalian dan para Malaikat memohonkan kerahmatan untuk kalian.

Oleh Karena itu berbahagialah kita sebagai Umat Islam yang memiliki kelebihan dari umat-umat sebelumnya. Umat yang di turunkan ke bumi sebagai “Khairu Ummah” yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari perbuatan keji dan munkar, dan beriman kepada Allah S.W.T tentunya.

Wallahu A’lamu Bisshowab……

Intan El Wahdy

Vice President 1 IRKHS ‘ Student Society

As-Siddiq F 3.5c.

International  Islamic University Malaysia.

Posted in Islamization | Leave a comment

SURVEY OF ISLAMIC HISTORY & CIVILIZATION (ARABIC) HIST 2530A


الدراسة في مدخل التاريخ والحضارة الإسلامية

 التاريخ

لماذا لا بد علينا ان ندرس التاريخ ؟

كيف كتب العلماء التاريخ ؟ 

التعريف لغة: – مصدر من أَرَّخَ، يُؤَرِّخُ، تَأْرِيْخًا، بلغة قيس وهو اللفظ المشهور لدى العرب.

              – يقال أن كلمة “التاريخ” من وَرَّخَ بلغة بني تميم.

              – يقال أن لفظ التاريخ تعريب من كلمة فارسية وهو لكلمة “ماهزوز” ومعناها الأيام والشهور.

              – يقال أن كلمة التاريخ مشتقة من “ياريخ” ومعناه القمر باللغة العبرية (لغة بني إسرائيل).

 التاريخ اصطلاحا: الزمان والحقبة ولم نعرف التقويم الهجري إلا بعد أن أدخلها أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله عنه.

                      وعلى هذا الأساس، أصبح علم التاريخ عند العرب والمسلمين فناً يبحث فيه عن وقائع الزمن من حيث

                      التعيين والتأكيد. في العصور الأولى من العصر الإسلامي، لم يستعمله العرب كثيرا كلمة “التاريخ”، لكن

                      يستخدم كلمة “الأخبار أو الخبر” مثلا لابن قتيبة كتاب “عيون الأخبار”.

أهمية دراسة التاريخ:

1. التاريخ يعين على معرفة المتعاصرين من الناس حيث تتشابه الأسماء والاشتراك فيها.

2. التاريخ يساعدنا على معرفة الناسخ والمنسوخ والمتقدم والمتأخر من الأحكام الشرعية.

3. التاريخ يعين على معرفة رواة الأحاديث النبوية من حيث:

          ا- اللقاء مع المشايخ.

          ب- الرحلة في طلب العلم.

          ت- الهيئة في طلب العلم.

          ث- سنة وفاته.

          ج- حالة الراوي من جهة الصدق والعدالة.

4. التاريخ يعين على معرفة حال الأمم والشعوب من حيث:

          ا- القوة والضعف.

          ب- العلم والجهل.

          ت- النشاط والركود.

5. التاريخ فيه عظات وعبر وآيات ودلائل، قوله تعالى:” قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ” – الأنعام: 11

6. التاريخ يبرز القدوات الصالحة التي دخلت التاريخ من أوسع أبوابه وتركت لنا صفحات بيضاء لا ننسى على مرّ الأيام

    والشهور والسنوات مثل الرسول صلى الله عليه وسلم، والخلفاء الراشدين، والصحابة رضوان الله عليهم.

7. التاريخ فيه استلهام للمستقبل على ضوء السنن الربانية.

8. التاريخ فيه شحذ للهمم وبعث للروح من جديد وتنافس في الخيرات والصلاح والعطاء. قوله تعالى: “فاستبقوا الخيرات”.

9. التاريخ الإسلامي فيه صورة حية للواقع الذي طُبِّق فيه الإسلام فنقتبس من التاريخ الجوانب الإيجابية ونحاول أن نجتنب من

    الأجانب السلبية.

10. ومن الأهم دراسة التاريخ هو معرفة أخطاء السابقين والحذر من الوقوع مرة أخرى. وقد جاء عن أبي هريرة عن النبي صلى

      الله عليه وسلم: “لا يُلْدغُ المؤمن من جهر مرتين”.

تطور الدراسات التاريخية

1) التاريخ في العصر الجاهلي:

إذا أردنا أن نعرف التاريخ في العصر الجاهلي، فعلينا أن نرجع إلى عرب الجنوب (بلاد اليمن)، وعرب الشمال (الحجاز). فبلاد اليمن كانت مركزا للحضارة العربية القديمة تركت لنا أثرا تاريخيا مثل النقوش السبئية والنقوش المعينية والنقوش الحميرية. بينما العرب الشمال فيسودها نظام قبلي حيث يفتخر بالأنساب . قام علم التاريخ في بداية الأمر على أسس من الروايات الشفهية في بلاد اليمن والحجاز. الدراسات التاريخية في العصر الجاهلي لم تصل إلى درجة النضوج، وذلك للأسباب:

          ا- الروايات الشفهية والمحفوظة بالذاكرة.

          ب- الحروب القبلية بين قبيلة وأخرى.

          ت- عدم توفر المواد للكتابة.

          ث- انتشار الأمية بين العرب.

          ج- البيئة الصخراوية الواسعة.

ورغم ذلك، إذا أردنا أن نعرف التاريخ في تلك المرحلة، علينا أن نرجع إلى الكتب الآتية:

          ا- الأغاني لابن فرج الأصفهاني.

          ب- العقد الفريد لابن عبدُ رَبُّهُ.

          ت- كتاب الأصنام لهشام بن محمد الكلبي.

          ث- عيون الأخبار لابن قتيبة.

في هذا العصر، لا يوجد منهج التأريخي منظم.

2) التاريخ في عصر الرسول والصحابة رضوان الله عليهم أجمعين (11ه- 35ه)

لا شك، أن ظهور الدعوة الإسلامية في مكة المكرمة لها كبير الأثر في إيجاد علم التاريخ عند العرب المسلمين. وبإمكاننا أن نقول أن بداية التأليف العلمي في التاريخ باللغة العربية ترتبط ارتباطا وثيقا بحياة الرسول صلى الله عليه وسلم كما ترتبط أيضا بحياة الصحابة رضي الله عنهم. أما المصدر الأساسي في دراسة التاريخ هو القرآن الكريم والحديث النبوي. نجد في القرآن أخبار الأمم السابقة وبالإضافة إلى قصص الأنبياء والمرسلين ولم تنتشر الكتابة التاريخية في مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى خارج المدينة المنورة إلا في القرن الثاني الهجري ومع بداية القرن الثالث الهجري ظهرت مجموعة من كتب الحديث.

ومما لا شك أن أعمال المحدثين الأوائل خُطَّة مُمَهَّدَة لمولد علم التاريخ عند العرب المسلمين. ومن الطبيعي أن تكون نشأة علم التاريخ والعلوم الإسلامية الأخرى في المدينة المنورة، لأنها مركز وعاصمة للدولة الإسلامية الأولى والسنة النبوية. ومن العلماء والمؤرخين الذين أرخوا حياة رسول الله:

          ا- عروة بن زبير بن العوام. كان فقيهًا ومحدثًا ومؤرخًا. كتب عن الحوادث خاصة في عهد رسول الله صلى الله عليه

             وسلم. يعتبر أقدام النصوص التاريخية عند المسلمين.

          ب- آبّان بن عثمان بن عفان. هو من فقهاء المدينة المنورة. كتب عن مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم، ويستند

               على الحديث النبوي. عاش وتوفي آبّان في عهد الخليفة الوليد بن عبد الملك.

          ت- شُرحْبيل بن حسنة. هو مهاجر من مكة إلى المدينة المنورة، سجّل في كتاباته التاريخية أسماء الصحابة الذين اشتركوا

               في غزوتيْ بدر وأحد.

          ث- عاصم بن عمر بن القتادة، عبد الله بن أبي بكر بن حزم.

 هؤلاء العلماء والمؤرخون من المدينة المنورة (دار السنة). ومما لا شك أن هذه خطوة من الخطوات الأولى للانتقال في  الدراسات التاريخية من حالة الروايات الشفهية إلى حالة الكتابة والتسجيل.

3) التاريخ في العصر الأموي (41ه- 132ه)

التأليف التاريخي عند العرب المسلمين حينذاك كانت وثيقة الصلة بالقرآن الكريم والأحاديث النبوية، ونحن علمنا كان العرب يحفظون الروايات التاريخية. إن طبيعة علم التاريخ لا يختلف كثيرا بطبيعة علم الحديث. فالمحدثون يهتمون بروايات الأحاديث النبوية التي تقرر الأحكام الشرعية والخلقية بينما المؤرخون يهتمون بسرد الأحداث والوقائع التاريخية والسرايا والغزوات في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم وكانت المدينة هي مدرسة أولى للعلوم الإسلامية والعربية والدراسات التاريخية بوصفها “دار السنة النبوية” حيث عاش فيها مصطفى عليه الصلاة والسلام وأصحابه رضي الله عنهم أجمعين. ومن المؤرخين الذين عاشوا في العصر الأموي وتخصص في كتابة مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم:

          ا- محمد بن مسلم الزهري القرشي المدني. هو تلميذ عروة بن الزبير بن العوام. كان ينتقل من الحجاز ودمشق. اشتهر

             بسعة معارفه لأنه تتلمّذ على شيوخه من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم بالمدينة المنورة. ألّف الزهري كتابا

             عن القبائل العربية الشمالية وكتابا عن سيرة سيد المرسلين صلى الله عليه وسلم. اهتم في كتاباته: الفترة المكية من

             حياته صلى الله عليه وسلم- الهجرة إلى المدينة المنورة- مغازي الرسول- فتح مكة. ذكر الزهري أيضا بعض

             السفارات التي بعثها رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى خارج المدينة لتبليغ الدعوة الإسلامية. وتحدث أيضا الوفود

             التي قدمت إلى المدينة المنورة لإعلان إسلامهم والولاء لرسول الله صلى الله عليه وسلم. تكلم الزهري في هذا الكتاب

             عن مرض الرسول وانتقاله إلى جوار الرب العالمين. اهتم الزهري في كتاباته التسلسل التاريخية في حوادث السيرة

             حيث أعطى التواريخ التي حدثت في أيام رسول الله مثل غزوة البدر وأحد وغيرهما.

          ب- محمد بن إسحاق. ولد في المدينة المنورة ثم رحل إلى البغداد واتصل بجعفار المنصور. ألف ابن إسحاق كتابه في

               المغازي وقسّم إلى ثلاثة أقسام.

                   القسم الأول: يسمى بالمبتداء. تكلم فيه عن الرسالات السموية قبل الإسلام.

                   القسم الثاني: يسمى بالمبعث. كتب عن سيرة الرسول وهو في مكّة المكرمة.

                   القسم الثالث: تكلم عن مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم.

               ولابن إسحاق مآخذ (الأخطاء غير مقصودة):

                   1. اعتمد على القصص الشعبية.

                   2. اعتمد على روايات الصحابة الذين دخلوا الإسلام حديثا.

                   3. اعتمد على بعض الروايات الإسرائيليات.

                   4. اعتمد على الأشعار العربية.

                   5. اعتمد على وهب ابن منبِّه. كان يهوديًّا ثم أسلم.

              كانت في البداية انتقادات لكتابه ابن إسحاق، ولكنها لقيت عناية خاصة بعد أن هذّب ونقّح ابن هشام كتابات

             ابن إسحاق لأن حذف بعض الروايات الضعيفة وخاصة بالقسم الأول. وظهر بعد ذلك نظرة جديدة وجيدة وسمي

             الكتاب فيما بعد “تهذيب سيرة ابن هشام”.

          ت- محمد بن عمر الواقدي. كان من أهل المدينة المنورة وعاش في عهد الخليفة المأمون بن هارون الرشيد والخليل. لم

              يكن مؤرخا فحسب بل كان مفسرًا ومحدثًا وفقيهًا. ألّف الواقدي كتبا في التاريخ مثل “التاريخ الكبير” في السيرة

              النبوية، وكتاب “الطبقات” في صفات الصحابة، وعدد من الرسائل العلمية، مثل الرسالة تتكلم عن أخبار مكّة

              المكرمة، وبيعة سقيفة بني ساعدة، وسيرة أبي بكر رضي الله عنه والمرتدّون، ثم موقعتيْ الجمال والصفين، وفتوحات

              العراق والشام، وضرب الدراهم والدنانير. ولم تصل إلينا كتب الواقدي إلا المقتطفات في كتب المتأخرين. ولا شك

              أن هذه النقلة من روايات الحديث النبوي إلى كتابة وتسجيل الكتابة التاريخية.

4) التاريخ في الدولة العباسية (132ه- 656ه)

تتميز هذا العصر بظهور التخصص في التاريخ والكتابة في تاريخ العام. ومما يلاحظ أن النزعة التاريخية عند العرب المسلمين في هذا العصر قد نضجت واكتملت، وذلك راجع الأفكار التالية:

          ا- وجود الدواوين في هذا العصر مثل ديوان الخراج، ديوان المظالم والجند والبريد.

          ب- نشاط حركات الترجمة من اللغات الأجنبية مثل اللغة الهندية واليونانية واللاتينية إلى اللغة العربية.

          ت- تشجيع الخلفاء وولاة الأمر في إجراء البحوث العلمية والتعليم والكتب العربية والإسلامية.

          ث- سهولة الانتقال بين العالم الإسلامي.

          ج- قيام العلماء والمؤرخين بالرحلات العلمية وتأليف الكتب الدينية.

          ح- منهج التوفيق من المواد المستمدة من القرآن الكريم والأحاديث النبوية وإدماجها في رواية تاريخية سليمة متماسكة.

ومن المؤرخين والعلماء الذين ظهروا من هذا العصر:

          ا- ابن قتيبة الدَّيْنَوَري, هو أبو محمد عبد الله بن مسلم بن قتيبة وهو من المؤرخين ومن علماء النحو واللغة والنقد

             والأدب والعلوم الإسلامية الأخرى. ومن بعض كتيبه في التاريخ:

                   1. كتاب “المعارف” وهو مختصر في التاريخ الخلفية والرسل والعرب في الجاهلية والسيرة النبوية وغزوات الرسول

                       وأخبار الصحابة والتابعين والعرب والعجم.

                   2. كتاب “الإمامة والسياسة” وهو بحث في موضوع الخلافة وتاريخها وشروطها وتطورها من عصرَيْ الأمين

                       والمأمون.

                   3. كتاب “عيون الأخبار”: تطرأ في هذا الكتاب عن السلطان والحرب والعلاقة بين العلم والعلماء. استعمل

                       ابن قتيبة في هذا الكتاب اصطلاح “كتاب” بدلا الفصل والباب.

          ب- اليعقوبي وهو أحمد بن أبي يعقوب بن واضح الشهير باليعقوب. ألّف اليعقوبي كتاب “البلدان” فيه جغرافي العالم

               الإسلامي. والكتاب الثاني في التاريخ “تاريخ اليعقوبي”. وقد طبع هذا الكتاب في النجف الأشرف بالعراق وهو

               مكان مقدس لدى الشيعة، ويقال أن اليعقوبي أنه يميل إلى المذهب الشيعي. تكلم في الكتاب عن سكان شمال

               شبه الجزيرة العربية، وسكان الصين، وسكان شبه القارة الهندية. اليعقوبي رحّالة ومؤرخا حيث طاف وأجاب العالم

               الإسلامي. وهذا الكتاب يعتبر موسوعة تاريخية.

          ت- الطبري وهو أبو جعفر محمد بن جرير الطبري. نسبة إلى طبرستان بإيران. رحل الطبري إلى مصر والشام والعراق في

               سبيل الحصول على العلوم الإسلامية والتلقي بمشايخ هذا البلاد. وفي مصر اشتهر كتابه في التفسير واسم الكتاب

               “جامع البيان في تأويل القرآن” المشهور لدينا “تفسير الطبري”. أما كتابه في التاريخ “تاريخ الرسل والملوك”. الطبري

               كان مفسرًا ومحدثًا قبل أن يكون مؤرخًا.

          ث- المسعودي وهو أبو الحسن علي بن حسين بن علي الشهير بالمسعود (ينتسب إلى عبد الله بن مسعود). ولد المسعودي في العصر العباسي الثالث وتوفي في مصر ودفن في مدينة الفسطاط. جال المسعودي أكثر بلاد المسلمين في سبيل الحصول على العلم والتلقي بالعلماء والمشايخ والمؤرخين. قضى الجزء الأخير من عمره في مصر والشام وألّف كتابه المشهور اسمه “مروج  الذهب ومعادن الجوهر”. تكلم بهذا الكتاب عن تاريخ الهند، والفرس، والروم، واليهود. أما كتابه الثاني فاسمه “التنبيه والأشراف”. تكلم في هذا الكتاب عن الفلسفة التاريخية والعلاقة بين الحيوانات والنباتات والمعادن.

اعتمد المسعودي في منهجه:

                   1. على اللغة العربية.

                   2. الأخبار القصيرة.

                   3. المعتقدات الدينية.

                   4. المناظرات والمجادلات.

                   5. الطرائف العربية.

               المسعودي لم يرتب الأحداث التاريخية ولكنه جمعها تحت الرؤوس الشهور. هذه خطوة جديدة في دراسة التاريخ.

وخلاصة القول أن المؤرخين العرب المسلمين في أواخر القرن الثالث وأوائل القرن الرابع الهجري لم يكونوا مؤرخين فقط، بل كانوا محدثين ومفسرين وفقهاء والرحّالة والجغرافيين. ومما يلاحظ أن علم التاريخ بدأ ينمو ويتطور ويأخذ طابع الاستقلال من العلوم الإسلامية الأخرى حتى نهاية القرن السادس الهجري. ومما لا شك أن العصر العباسي هو العصر الذي شاهد بداية تأليف التاريخ العام.

تطور التواريخ المحلية والمدن والكتب والطبقات والتراجم والمعاجم

 منذ القرن الثالث الهجري، بدأ بعض المؤرخين في جمع الروايات التاريخية التي تتصل بأقاليمهم أو بلادهم. وأقدم كتاب التاريخ في هذا المجال هو كتاب “تاريخ مصر وفتوح المغرب” الذي ألّفه الشيخ عبد الرحمن بن عبد الله بن عبد الحكم. قسّم كتابه إلى سبعة أجزاء:

          الجزء الأول: تكلم عن تاريخ مصر الفراعنة (جمع فرعون).

          الجزء الثاني: تكلم عن فتح المسلمين لمصر بقيادة عمرو بن العاص في عهد أمير المؤمنين عمر بن الخطاب رضي الله

                      عنهما.

          الجزء الثالث: تكلم عن تخطيط المدن الآتية: القسطاط، والِجيْزة، والإسكندرية (الإسكندر المقدوني).

          الجزء الرابع: تكلم عن نظام مصر وإدارتها في عهد عمرو بن العاص رضي الله عنه.

          الجزء الخامس: تكلم عن فتح المسلمين الأندلس.

          الجزء السادس: تكلم عن قضاة مصر.

          الجزء السابع: ذكر أسماء الصحابة الذين جاءوا إلى مصر ورَوُوْا الأحاديث النبوية.

أما كتب الطبقات مثل طبقات الصحابة الذي ألّف محمد بن سعد الشهير ب”كاتب الواقدي”، كتاب طبقات الشعراء لابن قتيبة، وطبقات الأغاني لإبي فرج الأصفهاني. أما تاريخ المدن هو مثل كتاب “تاريخ مدينة بغداد” للخطيب البغدادي. أما المعاجم اللغوية مثل “معجم الخطيب البغدادي”.

شهدت القرن الثالث الهجري نشاط ملحوظ في كتابة التواريخ مثل “تاريخ القضاة” لمحمد بن يوسف الكِنْدي، “تاريخ الوزراء” لمحمد بن عبدوش الجهشاري، وتاريخ السلاطين المعروف “بالأحكام السلطانية” لأبي حسن بن علي بن محمد بن حبيب الشافعي المشهور ب”الماوردي”. تناول في كتاباته مجالات مختلفة في العصر العباسي مثل السياسة، الاقتصاد، العسكرية، والاجتماعية. وقد أتى بعده أبو يوسف يعقوب بن إبراهيم بن حبيب الكوفي الحنفي وله كتاب “الخراج”. تكلم في كتابه أنواع الخراج على امتداد العصر العباسي.

مدارس التاريخ

1) مدرسة الحجاز:

لا شك أن جميع العلوم الإسلامية ظهرت في بدايتها بعرض الرسالة الأولى (مكّة المكرمة) ثم انتقلت إلى المدينة المنورة بانتقال صاحب الرسالة إليها. وفي المدينة، ظهرت المدارس الإسلامية مثل مدرسة الحديث، مدرسة الفقه، ومدرسة التاريخ. والمدارس الإسلامية في ذلك الوقت تتصل اتصالا وثيقا بالقرآن الكريم والأحاديث النبوية. وفي هذه المدرسة ظهرت طبقات المؤرخين:

الطبقة الأولى:

يتكون من عروة بن الزبير بن العوام (توفي في سنة 92ه)، وآبّان بن عثمان بن عفان (توفي سنة 105ه)، ووهب بن منبّه (توفي في سنة 110ه)، وشرحبيل بن حسنة (توفي في سنة 123ه). هؤلاء الأربعة الدعامة الأولى في كتابة مغازي الرسول صلى الله عليه وسلم. وقد استفاد المؤرخون الذين أتوا بعدهم مثل ابن هشام، وابن سعد ما نقله عروة بن الزبير بن العوام. ثم أتى ابن إسحاق والواقدي ثم الطبري وكتبوا مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم وأخبار الردة في الرسائل العلمية وروايات كثيرة. وكما علمنا أن شرحبيل بن حسنة الذي سجّل في كتاباته أسماء الصحابة الذين اشتركوا في غزوتَيْ بدر وأحد. وللعلم، أن ابن منبّه جمع المؤلفات عروة بن الزبير بن العوام.

الطبقة الثانية:

تتمثل هذه الطبقة من محمد بن شهاب الزهري (توفي في سنة 124ه)، وعاصم بن عمر بن قتادة (توفي في سنة 130ه)، وعبد الله بن أبي بكر بن حزم (توفي في سنة 135ه). سجّل ابن حزم حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم وأخبار الوفود الذين قدموا عليه وأحداث الردة. وسجّل أيضا الأحاديث النبوية التي تتصل بغزوات رسول الله صلى الله عليه وسلم. يتميز الزهري بأن منهجه أوضح من منهج ابن الزبير بن العوام لأن كان يعتمد على رواة الأحاديث النبوية. تكلم الزهري في الكتابات التاريخية عن فتنة عثمان بن عفان والأحزاب السياسية الموجودة وقتذاك والخلافة الإسلامية.

الطبقة الثالثة:

تتضمن هذه الطبقة من موسى بن عقبة، ومعمّر بن رشيد، ومحمد بن إسحاق. وهؤلاء الثلاثة تلاميذ ومواريد لمحمد الزهري. وعن محمد بن إسحاق نقل زياد البُكائي أخبار سير رسول الله صلى الله عليه وسلم. ابن إسحاق لم يتقيد بما تقيّد ثقات المحدثين في تدوين التاريخ. أما وهب بن منبّه فكان يعتمد كثيرا على أخبار اهل الكتاب.

ومن الملاحظ، أن طبقات المؤرخين بالمدينة المنورة أكثرهم يعتمد على المصادر الأصلية وهو القرآن الكريم والأحاديث النبوية في كتاباتهم التاريخية. ونجد بعضهم كانوا يعتمدون على الحفظ والروايات الشفهية.

2) مدرسة الشام (لبنان/ الأردن/ فلسطين/ سوريا).

استقطبتْ دمشق عدد من العلماء والإخباريين. وقد تخرج عدد كبير من الؤرخين من هذه المدرسة. اهتمت هذه المدرسة بالتاريخ الجاهلي والأنساب العربية، وتاريخ الرسالات السماموية، والفتوحات الإسلامية. مدرسة الشام هي مدينة وسيطة بين مدينتَيْ المدينة المنورة والكوفة والبصرة. وقد اتجهت هذه المدرسة إلى تخصّص في دراسة التاريخ. هذا قد عبّر ابن عيينة رضي الله عنه حين قال: “من أراد الإسناد والحديث فعليه بأهل المدينة، ومن أراد المناسك والعلم فعلية بأهل مكّة المكرمة، ومن أراد المقاسم والأمر والغزوات فعليه بأهل الشام. وقد مهّدت مدرسة الشام عدد من رواة الأحاديث النبوية والمؤرخين وكان لهم دور كبير في كتابات التاريخ. ومنهم من اشتركوا في الفتوحات الإسلامية مثل عُبادة بن صامت، وابن أمامة الباهلي. ومن العلماء والمؤرخين الذين شكّلوا مدرسة الشام التاريخية هم:

          ا- عبيد بن شرية الجرهمي. عاش في الجاهلية والإسلام (المخضرم) وله من الكتب مثل كتاب الأمثال، وكتاب الملوك،

             وأخبار الماضي.

          ب- عروة بن الزبير بن العوام. رحل إلى الشام في عهد خليفة عبد الملك بن مروان. ثم عاد إلى المدينة المنورة وعاد إلى

              الشام مرة أخرى في عهد خليفة الوليد بن عبد الملك. دوّن عروة كتبا عن مغاري الرسول صلى الله عليه وسلم.

          ت- محمد بن مسلم الزهري. عاش زمنا طويلا في دمشق في عهد خليفة عبد الملك بن مرون. وقد أجرى الخلفاء

               الأمويين راتبًا شهريًا لمحمد بن مسلم الزهري. ألّف ابن الزهري كتاب عن تاريخ القبائل العربية الشمالية، وكتب عن

               مغازي رسول الله صلى الله عليه وسلم.

          ث- الإمام الأوزاعي وهو أبو عمر عبد الرحمن بن عمرو الأوزاعي. هو من دمشق. وكان إماما للشاميين في    الأحاديث النبوية وله إلمام كثير في مجال التاريخ الإسلامي.

 مدرسة الشام هي مدرسة مكملة للمدارس التاريخية التي ظهرت في كل من المدينة المنورة والكوفة والبصرة واليمن. وبعد مدرسة الشام، ظهرت المدارس التاريخية في العالم العربي مثل مدرسة القاهرة التاريخية، ومدرسة ابن خلدون التاريخية بالبلاد المغربي، ومدرسة الأندلس.

3) مدرسة اليمن.

قامتْ في بلاد اليمن الحضارات الإسلامية قديمة مثال حضارة سباء، وحضارة معين، وحضارة حضر الموت. ارتبطت بلاد اليمن بالسيرة النبوية من خلال البعثات التي قدمتْ من المدينة المنورة والبعثات التي أرسلت إليها لتبليغ الدعوة الإسلامية في البلاد. لم تتأثّر هذه المدرسة كثيرا بغزوات رسول الله والأحاديث النبوية والفتوحات الإسلامية كما تأثرت مدرسة الحجاز ومدرسة الكوفة والبصرة برجال الحديث. ورغم ذلك، نجد في بلاد اليمن ممن كتبوا عن السيرة النبوية، لكنهم تأثروا بالإسرائيليات وأخبار أهل الكتاب. ولم تهتم هذه المدرسة في العهد الأموي والعباسي لأنهم كانوا يهتمون بأقاليم الكوفة، والبصرة، ودمشق، وبغداد إلى أن جمعتْ الدولة الفاطمية في مصر. وحّدتْ هذه الدولة مصر وبلاد اليمن في الإيطار المذهبي والسياسي والتجاري. ومن ميزات مدرسة اليمن: خروج اليمنيين من بلادهم إلى البلاد المفتوحة مثل الشام، والعراق، والحجاز ووصلوا إلى البلاد ما وراء النهر والدول الخليج والهند وجزر أرخبيل الملايو والدول الشرق إفريقيا.

مؤرخو بلاد اليمن:

          ا- أبو إسحاق كعب الأخبار. كتب عن سيرة الإسكندرية، وذو القرنين، وروا أخبار الأمم السابقة من خلال منظور

             التوراة (لأن كان يهوديا).

          ب- عبيد بن شرية الجهرمي. له كتاب الملوك والأخبار الأوليين.

          ت- وهب بن منبّه الصنعاني. اهتم بكتابة تاريخ أهل الكتاب وتاريخ اليمن. وبعد هؤلاء، ظهر في بلاد اليمن مؤرخون

               أمثال تقي الدين أبو عبد الله بن محمد بن إسماعيل المعروف بابن أبو السيف وهو فقيه شافعي. عاش في مكة

               المكرمة وله كتاب “الميمون المضمر لبعض فضلاء أهل اليمن”.

          ث- علي بن محمد بن وليد. توفي سنة 612ه. الشهير بولد الجميع وهو خامس الدعاة الإسماعيلية في بلاد اليمن وله

               كتاب “نظام الوجود وترتيب الحدود”.

والملاحظة أن مدرسة اليمن التاريخية القديمة اختلطت بالإسرائيليات والأساطير الأولين. ثم تأثرت بالزيدية والإسماعيلية والشيعة والأئمة وهم حكام اليمن قبل قيام نظام الجمهور في البلاد.

4) مدرسة الأندلس

حكم العرب المسلمون بلاد الأندلس من 92- 897ه/ 711- 1492م. وقد فتح المسلمون هذا البلاد على يد موسى بن نصير وطارق بن زياد. كانت هذه البلاد تابعة للدولة الأموية في المشرق ثم استقلت في عهد الخليفة عبد الرحمن بن حشام بن عبد الملك. وانتهت الخلافة الأموية في الأندلس سنة 110هـ، ثم حكمت بلاد الأندلس ملوك الطوائف مثل المرابطون والموحدون، ثم ظهرت الخلافات فيما بينهم واستطاعت إسبانيا أن تكون دولة لها بعد سقوط غرناطة 1492م. ورغم ذلك، قامت في بلاد الأندلس مدارس ومعاهد وجامعات ومكتبات وعلماء. اهتم المؤرخون بالأندلس بوصف القلاعات الخصينة والحروب البحرية والأحداث الداخلية.

ومن المؤرخين الذين ظهروا في هذا البلاد:

  1. أحمد بن محمد الرازي الذي توفي سنة 344هـ، وله كتاب “مملكة الأندلس وموانيها وأمهات مدنها أخبارها”.
  2. أبو عمر بن عبد البر الذي توفي سنة 493هـ، وله كتاب ” الدرر في الاختصار المغازي والسيار”.
  3. لسان الدين أبو عبد الله المعروف بابن الخطيب توفي سنة 776هـ، وله كتاب “الإحاطة في الأخبار الغرناطة”، وكان وزيرا لأبي حجاج يوسف، أميرا على غرناطة.

وقد اشتهر عدد كبير من الأندلسيين بالرحلات العلمية والجولة حول العالم الإسلامي. ومثال ذلك:

  1. ابن جبير وله كتاب معروف “رحلة ابن جبير”
  2. ابن بطوطة وله كتاب “رحلة ابن بطوطة”

وقد ظهر في بلاد الأندلس فلاسف والعلماء مثل ابن رشد، وابن طفيل، وابن أبي فرناس، وابن بطار، وابن خلدون رحمهم الله. ناقشت علماء الأندلس والمؤرخون في الغرب بعلماء الشرق (بغداد، دمشق، القاهرة).

وقد قامت جامعة فى الأندلس مثل جامعة غرناطة، جامعة قرطبة، جامعة أشبيلية (Seville) وغير ذلك من المراكز العلمية. وقد شاعت في بلاد الأندلس النور والإزدهار والنهضة وأثّرت المراكز الإسلامية حضارات أوربا فيما بعد.

أسباب ضياع الأندلس (الجنة المفقودة):

  1. عدم تطبيق السياسة الشريعة.
  2. الخلافات الداخيلية بين الحكام والأمراء والخلفاء.
  3. الحروب بين المسلمين والمسيحين
  4. انتشار الفساد في البلاد (النساء/ الزنا المجون/ الخمر/القمار)
  5. مهاجمة المسيحين على المسلمين.

ثم انتهت الأندلس في 1492هــ، أخير المدينة سقطت هي الغرناطة.

المصادر الأولية في دراسة التاريخ

من المصادر الأولية في دراسة التاريخ والحضارة:

  1. القرآن الكريم: المنزل باللغة العربية على محمد صلى الله عليه وسلم، وليس بإمكننا أن نقلد القرآن الكريم، هذا ما يسمى بالإعجاز. قوله تعالى:  قل لئن اجتمعت الإنس والجن على أن يأتوا بمثل هذا القرآن لا يأتون بمثله ولو كان بعضهم لبعض ظهيرا. (سورة الإسراء: 88).
  2. السنة النبوية: بيان للقرآن الكريم، وتفصيل لمجمله، وتوضيح لمبهمه، وقد تكون السنةُ مؤكدةً للقرآن الكريم.
  3. السيرة النبوية: دراسة حياة المصطفى عليه الصلاة والسلام منذ ولادته إلى وفاته.
  4. كتب الفقه الإسلامي: الفقه الإسلامي هو الأحكام الشرعية التى استنبطها العلماء المجتهدون. (أبو حنيفة، مالك، شافعي، حنبلي). ومن أهم الموضوعات في مباحث الفقه: (العبادات مثل الطهارة، والوضوء، والغسل، وأيضا المعاملات اليومية مثل البيع والشراء، والرهن والإجارة).
  5. اللغة العربية وكتب التفسير.
  6. كتب التاريخ والتراث. وقد تناول التاريخ الإسلامي سيرة المصطفى وأصحابه والتابعين وتابع التابعين والفتوحات الإسلامية وتناولت أيضا أعلام الفكر والأدب والفلسفة والعقيدة والعلوم. مثل:

– الخوارزمي (عالم في الرياضية)

– والبيروني (عالم في الفلك والجغرافية والنحو والنباتات)

– وعزّ الدين بن عبد السلام (عالم في الأحكام الشرعية)

– ابن خلدون (عالم في الاجتماعية).

ومن العلماء الملايو:

          – شيخ حمزة الفنصوري (الصوفي، وله كتاب “أسرار العارفين وبستان العاشقين”)

          – عبد الرؤوف السنقلي (ترجمة كتاب “تفسير البيضاوي” إلى الملايوية)

          – شيخ داود بن عبد الله الفطاني (وله 100 كتاب) ومن كتبه “منية المصلى” و”منهاج العابدين”.

– شيخ أحمد محمد زين الوطاني (له كتاب “بدر التمام والنجوم والثواقب”)

– شيخ إدريس المربوي (له كتاب”قاموس المربوي”)

    7. اللغة العربية. هي من الضوابط الأساسية في دراسة العلوم الإسلامية والتاريخية. اللغة العربية هي المصدر الأول

        في فهم النصوص بالعلوم المذكورة. يقول ابن تيمية رحمه الله: “ولهذا كان المسلمون المتقدمون لما سكنوا الأرض

        مصر والشام ولغة أهلها رومية، والأرض العراق والخرسان ولغة أهلها فارسية، وأهل المغرب ولغة أهلها بربارية.

        عوّدوا أنفسكم على استعمال اللغة العربية. وقد تغلبت هذه اللغة على أهل هذه الأمصار مسلمهم وكافرهم”.

        عبّر الدكتور نور مازين بن مبارك عن الارتباط الوثيق بين الإسلام واللغة العربية: “هل عرف العالم إسلاما بلا

        قرآن؟ وهل عرف العالم قرآنا بغير العربية؟”. أن كتابا مثل القرآن الكريم، بلفظه ومعناه لم يترجم بعد، وإنما

        ترجم أفكار القرآن ومعانيه. علينا أن نتعلم الكثير باللغة الحيّة (الإنجليزية، الفرنسية، الإلمانية، والعربية). وقد

        جاء في حديث ما معناه: “من تعلم لغة قوم أَمِنَ مكرهم”.

علاقة التاريخ بالعلوم الإنسانية

 

التاريخ مثل سائر العلوم الإنسانية الأخرى مثل الجغرافية والاقتصادية والسياسية وعلم النقد، وسك النقود.

  1. فقه اللغة: اللغات هبة من الله تبارك وتعالى، وأبونا آدم عليه السلام أبو اللغويات لقوله تعالى: وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (سورة البقرة: ٣١). فاللغات من أهم العلوم التي تساعدنا في دراسة التاريخ لأي شعب من الشعوب. فدراسة اللغويات ليست علامة جبرية أو حسابية تستخدم في العلوم الطبيعية. واللغة كائنة حيّة تنمو وتتغير وتتطور حسب الظروف المعينة وعادة نتيجة تغيّر الإنسان واختلاف الثقافات. اللغة العربية لا تتغير لأنها ترتبط أشد الارتباط بالوحي الإلهي والسنة النبوية.
  2. قراءة الخطوط: علم الخطوط القديمة والحديثة هي عملية هامة في دراسة التاريخ فمثلا الذي يريد أن يكتب عن تاريخ مصر قديم، فعليه أن يعرف اللغة الهيروغرافية، والذي يريد أن يكتب عن تاريخ اليهود، فعليه أن يعرف اللغة العبرية، والذي يريد أن يكتب عن تاريخ الملايو القديمة، فعليه أن يعرف السنسكريتية، والذي يريد أن يكتب التاريخ الإسلامي، عليه أن يعرف اللغة العربية. ومن ناقلة القول، أن الخطوط العربية منذ كتابة القرآن الكريم إلى اليوم، فقد كان الخط القرآني بلا نقاط، وسكون، وقتحة، وضمة، وكسرة إلى آخره. وقد وضعها أبو الأسود الدؤلي بأمر من أمير المؤمنين علي بن أبي طالب كرّمه الله وجهه. وللخط العرب أسماء: (وهي خط الرقعة/ النسخ/ الثلث/ الكوفي/ الفارسي/ الغباري/ الطوماري/ الديواني/ الجاوي).
  3. علوم الوثائق والأرشيفات: وهي الكتابات الرسمية أو شبه الرسمية مثل أوامر حكومة والمعاهدات والاتفاقات والمراسلات والسياسات أو دبلوماسية أو التجارية بالإضافة إلى المذكرات الشخصية. رسائل النبي صلى الله عليه وسلم إلى ملوك العالم (مصر، فارس، الروم، الحبشة، بلاد العرب) يدعوهم إلى الإسلام وهذه تعتبر وثيقة من الوثائق الدينية. وعلى دارس التاريخ أن يعرف المصطلحات الخاصة في ذلك الوقت وأن يعرف المخطوطات والوثائق التاريخية، فيا حبّذا أن يعرف الآتي:

– نوع المداد أو الخبر المستعمل في كتابة الوثائق أو المخطوطات.

– نوع الأقلام التي كتبت بها الوثائق والمخطوطات.

– أنواع الورق أو الجلود المستعملة في ذلك الوقت. ولامانع أن نستعمل الوسائل الحديثة في

   قراءة الوثائق العلمية مثل العدسات المكبّرة او تحليل الكيمائي.

  1. دراسة الأختام: الأختام معروفة منذ العصور القديمة. هذه الأختام إما مصنوعة من الحديد أو المعدن أو المطاط. والرسول له ختم خاص به مكتوب عليه محمد رسول الله، وعلى جسده الشريف ختم النبوة. والخلفاء الأمويون والعباسيون أختام خاصة لهم، والجامعات والمدارس والأحزاب السياسية لهم أختام خاصة.
  2. دراسة الأنواط الجغرافية (دراسة الأعلام والبلاد): ومن العوامل التي تساعدنا في دراسة التاريخ، علم الأنواط وأعلام البلاد والنياشين والقلائط. أما علم الجغرافي، ندرس الموقع الجغرافي لبلد من البلاد. وندرس أيضا الظواهر الطبيعية مثل الجبال والصخار والأنهار والمناخ. وندرس أيضا الفنون الشعبية والثروة الاقتصادية.
  3.  دراسة النقود: هي دراسة العُملة أو النميات وندرس أولا اسم العملة، وسنة التي ضربت أو طبعت، والآيات القرآنية إن وجدت، وسورة الملك أو الرئيس على وجه العملة. ومن أسماء العملات في العالم الإسلامي: (الريال، وروبية، ودرهم، ودينار، ورنجيت، وغير ذلك من الأسماء).

المستشرقون

 

التعريف:

 

– مأخوذة من كلمة “أشرق” ومعناها بعد إضافة الأحرف الزائدة طلب النور والهداية والضياء. والإشراق من الشرق حيث نزلت

   الديانات الثلاث اليهودية والنصرنية والإسلام. ولما كان الإسلام هو الدين الغالب فأصبح معنى الاستشراق بحث عن معرفة

   الإسلام والمسلمين وبلادهم عقيدة وشريعة وتاريخا ومجتمعا وتراثا إلخ. بدأت في أواخر القرن السابع الميلادي، وقيل أن

   الاستشراق بدأت في القرن العاشر الميلادي، وقال الآخرون أن الاستشراق بدأت في القرن الثاني عشر الميلادي بعد أن ظهر

   أول ترجمة لمعاني القرآن وأول قاموس لاتيني عربي.

مراحل الاستشراق:

 

1. مرحلة الإعجاب/ الانتصار: هناك اتجاه كبير يميل أن الاستشراق بدأ منذ أن دقت جيوش الإسلام أبواب أوربا في موقعه

    مشهورة  بـ”بلاط الشهداء”، وقيام الدولة الإسلامية في الأندلس، فقامت في الأندلس جامعات إسلامية كثيرة متنوعة.

    فاشتاقت أوربا أن تتعلم من المسلمين فبعثوا إلى الأندلس الطلبة والمريدين إلى جامعات الأندلس وتتلمّذوا على علماء

    المسلمين في مختلف العلوم وخاصة في الفلسفة والطبّ والرياضيات والزراعة واللغة العربية. وبعد اعترافهم من علوم المسلمين،

    ترجموا بعض الكتب العربية إلى لغاتهم المختلفة.

2. ما بعد حروب الصلبية: الحروب الصلبية الأولى (1097- 1099ه)، الحروب الصلبية الثانية (1147- 1149ه)،

    الحروب الصلبية الثالثة (1189- 1192ه)، الحروب الصلبية الرابعة (1202- 1204ه)، الحروب الصلبية الخامسة

    (1218- 1220ه)، الحروب الصلبية السادسة (1228- 1244ه)، الحروب الصلبية السابعة (1249- 1250ه).

    يكون آخر الحرب في عهد صلاح الدين الأيوبي. تسمى هذه الحروب بالحروب السبعة. اعتبر الباحثون أن الاستشراق نتيجة

    من نتائج الحروب الصلبية. وقد أثبتت للأوربيين أن المسلمين تقدموا في جميع المجالات العلمية الإسلامية والإنسانية. وعندما

    رجعوا إلى بلادهم، بدأوا أن يقوموا الأشياء الآتية:

– إنشاء المدارس والمعاهد التي تعتني بالعلوم الإسلامية.

          – إنشاء الكراسي للدراسات الشرقية في الجامعات الأوربية مثل جامعة أكسفورد في بريطانية، وجامعة السوربون في فرنسا،

            وجامعة ليدن في هولند، والجامعات الحديثة في أمريكا وأوربا وأستروليا ونيوزلند.

          – اتجاه الأديرة والكنائس إلى دراسة المؤلفات العربية المترجمة إلى اللغة الأوروبية.

3. مرحلة التنظيم العلمي: هذه المرحلة من أهمّ المراحل في دراسة الاستشراق. ومن نقاط هذه المرحلة:

          1. إصدار المجلات المختلفة في أماكن متفرقة في العالم وبلغات متعددة ومقالات متنوعة. ومن أشهر المجلات

             الاستشراقية “الغازة على العالم الإسلامي” التي أسّسها لزويمر.

          2. عقد المؤتمرات في الدول الغربية والشرقية مثل مؤتمر 1783م، مؤتمر 1849م، ومؤتمر القدس 1924م، ومؤتمر

             1935م.

4. مرحلة بعد الحرب العالمية الثانية: الحرب بدأ 1939م- 1945م. شهدت هذه المرحلة الهجوم على الإسلام واحتقار

    المسلمين وخاصة عندما تدخّلت الحركات السياسية العالمية مثل الحركة الصهيونية العالمية، الحركة الاستشراقية العالمية، الحركة

    جمعيات الكنائس العالمية، بالإضافة الحركات التي تسمى بالإسلام مثل القديانية والبهائية. وقد جرت بحوث المستشرقين

    المتعصبين حول القرآن الكريم والحديثة النبوية الشريفة وشخصية المصطفى صلى الله عليه وسلم.

أشخاص المستشرقين:

1. Aloys Sprenger (شريكر): هو بريطاني الجنسية. أول من نشر كتاب “الإتقان” للسيوطي و”الإصابة” للحافظ ابن

    حجر.

2.S William Muir  (وليم موير): مستشرق بريطاني. من أهم مؤلفاته “حياة محمد صلى الله عليه وسلم”.

3.  Gold Ziher(جولد): له مؤلفات، ومنها دراسة محمدية، العقيدة والشريعة في الإسلام، مذاهب التفسير الإسلامي.

4. Snouck Hurgronje (سنوك هوغروجيه): هو هولندي وتظاهر في الإسلام وتسمى بعبد الغفّار وأقام في مكة

    المكرمة. له الكتاب في الفقه الإسلامي.

دوافع المستشرقين:

ومن بعض دوافع المستشرقين:

  1. الدافع الديني: محاولة تنصير المسلمين في العالم العربي والإسلامي.
  2. الدافع الاستعماري:  محاولة السيطرة على العالم الإسلامي.
  3. الدافع الاقتصادي: محاولة السيطرة على اقتصاد البلاد الإسلامي. ومن أهمّ اقتصاد العالم الإسلامي (البترول) الثروة البترولية.
  4. الدافع السياسي: فرض الأفكار/ الإيديولوجيات الأفكار السياسية الغربية والنظام الاقتصادي مثل الديمقراطية، واللبرالية، والشيوعية، والاشتراكية، والرأسمالية.
  5. الدافع العلمي: إجراء البحوثات العلمية في العالم الشرقي.

أهداف المستشرقين:

ومن أهدافه:

  1. التشكيك في رسالة محمد، وهؤلاء يحاولون إبعاد صفة النبوة عنه، ويقولون أن الوحي نوع من الصراعات أو التخيلات الذهنية.
  2. التشكيك في صحة الرسالة الإسلامية. ويقولون أن الإسلام ليس دينا منزلا من رب العالمين، بل هو مستمد من الديانات القديمة مثل اليهودية والنصرانية.
  3. التشكيك في صحة السنة النبوية. ويقولون أن فيها دسٌّ وتحريف ومتناسين جهود العلماء في تصحيح السنة الشريفة (أصحاب الكتب الستة).
  4. التشكيك في معظم الجوانب الإسلامية العالمية والحضارية. ويقولون أن الفقه الإسلامي مستنَد من  الفقه الرمّاني.

أصناف/ أنواع  المستشرقين:

  1. فئة قدمت للعالم بحاثا قيّمة وعميقة. أشاد بالإسلام وبرسوله صلى الله عليه وسلم.
  2. فئة تعمدت اللإساءة حينما أمسك بالقلم لدراساتنا وتراثنا السلامي.
  3. فئة قد وقف في المحضور ولم يتثقف في الإسلام وتاريخه وحضارته إما لجهلته بالعقيدة وعدم تمكنه باللغة العربية.

ومن الذين أسلموا من المستشرقين:

  1. ألفونس إتيان دينيه (فرنسي، أسلم في الجزائر 1927م). واسمه الإسلامي “ناصر الدين دينية”. قال الرسول: “خير الأسماء ما حُمِّد وعُبِّدَ” (محمد وعبد).
  2. رينيه جينو، اسمه في الإسلام الشيخ عبد الواحد يحي.
  3. عبد الكريم جرمانوس. هو من اللغويات.
  4. يوسف إسلام. المغني I look I see.
  5. اللورد هبوني.

النقد التاريخي مع بداية اهتمام المسلمين بأحاديث رسول الله بعد وفاته. بدؤوا يمارسون بعض العمليات التي تؤكد صحة متن الحديث، والمثال على ذلك: الحديث في صحيح مسلم عن أمير المؤمنين عمر ابن خطاب أن رسول الله قال: “إن الميت يعذّب ببكاء أهله”، فردّتْ إليه أمّ المؤمنين عائشة رضي الله عنها: “إنما قال رسول الله: إنما يعذّب وهم يبكون عليها”. ومع نهاية الخلافة الراشدة وبداية العصر الأموي، بدأ العلماء المسلمون يدقّقون في السنة النبوية. شهد القرن الثالث للهجري مولد النقد في علوم الحديث ومولد النقد في علمَيْ التاريخ والأدب. ومما يلاحظ أن أقلامًا عربية وغير مسلمة التي ساهمت في حقل التاريخ الإسلامي.

الأمثال:

  1. أبو زيد حُنَين بن إسحاق
  2. قيس الماروني.                                                   هؤلاء العرب غير المسلم من الشام
  3. ابن الراهب.                                                                (لبنان، سوري، فلسطين).
  4. ابن مماتي.
  5. جرجي زيدان، وله الكتاب التمدّن الإسلامي.
  6. موسى صبري (مصري).

مراحل النقد التاريخي:

مرت النقد التاريخي على مراحل.

  1. المرحلة الأولى: دوّن المؤرخون والعلماء قبل القرن السادس الهجري عن النقد التاريخي. أمثال علماء: البيروني، البلخي، ابن عربي.

* اشترط البلخي الشروط الآتية للمؤرخ:

– أن يكون ممّن ارتادوا سبيل العلم والمعرفة حتى يكون على وعي وإدراك لما ينقله ويرويه فلا يُظْلَم العلم بالإتّهام.

– أن يكون ناقل الخبر على دراية وعلم بأوضاع القول.

– أن يكون محترما بالشرائع والأديان السماوية غير مستخِفٍّ بها لأنها هي الوثائق الله في سياسة خلقه ومُلاك أمره

   ونظام الألفة بين العباد.

– ينبغي على ناقل الأخبار ضرورة التأنّي والتَرَيِّ لكشف الغموض.

  1. المرحلة الثانية: (الجرح والتعديل).

ومن المعلوم لدينا أن تدوين الحديث ظهرت منذ قرن الرابع الهجري بعد أن كانت قواعده تذكر خلال الأسانيد والعلل والجرح والتعديل والتاريخ. وفي أوائل القرن الثاني من الهجري، ظهر عدد كبير من المحدثين والمؤرخين. أمثلة ذلك:

  • شهاب الدين بن فضل العمري.
  • لسان الدين الخطيب.
  • تقي الدين السُبكي. وضع تقي الدين قواعد عامة ومهمة عند النقد:

– أن يكون المشرقون براءة من الشحناء والعصبية خوفًا من أن يحملهم ذلك على جرح عدل أو تزكية فاسق.

– مخالفة العقيدة، لا نرفض قوله مطلقا، بل يتطلب التحقيق والتأمّل. وقد جاء بعده ابنه تاج الدين فأضاف إلى

   قواعد ابيه.

الصدق: – اعتماد اللفظ بالنقل بدون المعنى.

 – أن يسمي “المنقول عنه”. المؤرخ الذي يكتب عن نفسه، عليه أن يتوفر شروط الآتية:

ا. أن يكون عارفا بحال صاحب الترجمة.

ب. ينبغي ألّا يتكلم الجارح بالهوى أو مبلغ الظن.

  • تاج الدين (ابن السبكي). له كتاب اسمه “قاعدة الجرح والتعديل”. وذكر تاج الدين في كتابه “معيد النِعَم”: “أن المؤرخين على شُفَا جُرَفٍ حارٍ لأنهم يتسلكون على أعراض الناس. فلا بد لمؤرخ أن يكون عالما عادلا عارفا بحال لمن يترجمه. ومن صور النقد أيضا، انتقد اليعقوبي كثيرا من المادة التاريخية التي تتعلق بتاريخ قديم من أساطير ومبالغات. وانتقد أيضا ابن السلام الجُمَحي لابن إسحاق في مسئلة النسب.

الحضارة

التعريف:

لغة: من كلمة “حَضَرَ” علو وزن “فَعَلَ”. تقول حَضَرَ، يَحْضُرُ، حُضُورًا أي قَدِمَ من غيابه. والحضارة خلاف البادية. وللحضارة كلمات مترادفة مثل المدينة، النهضة، التقدم، العمران. ولا تقوم الحضارة إلا على العلم والثقافة العامة. وقد عبّر القرآن الكريم الحضارة بكلمة مثل القوة والعمران وإثارة الأرض ووصف المظاهر المعمارية والحضارة. والمثال على ذلك، قوله تعالى: وكأين من قرية هي أشد قوة من قريتك التي أخرجتك أهلكناهم فلا ناصر لهم”. تكلم القرآن الكريم عن حضارة سباء كقوله تعالى: “قالوا نحن أولوا قوةٍ وأولوا بأسٍ شديدٍ والأمر إليك …” (سورة محمد)

اصطلاحا: عرّف بعض العلماء الحضارة بتعاريف مختلفة:

          – سيد القطب (مصري): الحضارة هي ما تعطيه للنشر من تصورات ومبادئ والقيم للقيادة البشرية وتسمح لها

            بالنموّ والتراقي للعنصر الإنساني والقيام الإنسانية والحياة البشرية.

          – بول ديورانس (بريطاني): الحضارة هي نظام اجتماعي يُعين الإنسان على زيادة إنتاجه بعناصر أربعة: الاقتصاد،

            السياسة، الأخلاق، العلوم والفنون، (والزيادة من الأستاذ عبد الغني) هي الابتكارات الحديثة.

          – ابن خلدون: الحضارة هي التنفّس في الترف واستجادة أحواله والكلف بالصنائع التي تُعَتِّق بإضافة سائر فنوفه:

1. المصانع المهنية (اليدوية)

2. الملابس اليومية

3. المباني العالية

4. الفرش المنزلية والأواني الفخارية والمطابخ المنزلية.

             ويلزم بهذا التعنّق صناعات كثيرة.

          – جو ستاف لوبونج (فرنس): الحضارة هي نضوج الآراء والمبادئ والمعتقدات وتغيّر مشاعر الإنسان إلى الأفضل.

أصول الحضارة الإسلامية:

  1. القرآن والسنة:

لا شك أن القرآن والسنة النبوية من أصول حضارتنا الإسلامية. هذا الكتاب العظيم لم يفرّق فيه شيء.

    قوله تعالى: “ما فرّقنا في الكتاب من شيء”. فقد جاء القرآن الكريم والسنة النبوية بالمعلومات الكثيرة من النواحي المختلفة

    مثل الناحية الدينية والسياسية والاقتصادية والاجتماعية والعلاقات العامة. وفي القرآن الكريم، نجد حدّ الزنا وحدّ السرقة

    والمعاملات بين البشرية جمعاء، قال الرسول صلى الله عليه وسلم: “وخالق الناس بخُلُقٍ حسن”. ونجد في القرآن الكريم مبدأ

    الشورى. قال الله تعالى: “وشاورْهم في الأمر”. سخّر الله لعباده أنواع وأشكال من المحصولة الزراعية كقوله تعالى: “يُنْبِتُ لهم

    به الزرع والزيتون والنخيل والأعناب ومن كل الثمرات” (سورة النحل: 11)

  1. الشعوب الإسلامية:

 عندما فتح المسلمون العراق والفرس وبلاد الشام ومصر وهند، استفاد الكثير من حضارة تلك الأمم بأن امتزجت الحضارة العربية بحضارة البلاد المفتوحة. اقتبس الإسلام المحاسن من تلك الشعوب وترك الأشياء السيئة. قدّمت الشعوب الإسلامية غير العربية قدمات جليلة لهذا الدين الحنيف في جميع مجالات العلمية والسياسية والاقتصادية. ومثال على ذلك، سيبوية إمام النحويين وهو الإيراني، الإمام أبو حنيفة صاحب المذهب وهو العراقي، والخوارزمي عالم الرياضية (حدود الإيران، والأفغانستان)، ابن سينا عالم الطب، والبخاري، مسلم، وما إلى ذلك. وهناك الكثير من تلك البلاد المفتوحة الذين أسهموا مساهمات فكرية حضارية في سبيل نهضة هذه الأمة الوسطية.

  1. اللغة العربية: من أرقى اللغات السماوية.

آثار الحضارة الأخرى على الحضارة الإسلامية:

الحضارة الإسلامية القديمة مثل حضارة سبأ ومعين وحِمْير ومناظرة أثّرت على الحضارة العربية الإسلامية التي بدأت بمكة المكرمة، وتطوّرت هذه الحضارة بعد أن تكوّنت الدولة الإسلامية الأولى بالمدينة المنورة والخلافة الراشدة والدولة الأموية والعباسية.

اختلط عرب مناظرة بالفرس والغساسنة بالروم. وقد أثرت الحضارة الفارسية والرومانية بالحضارة الإسلامية. ولكل قريش اتصالات تجارية مع الشام واليمن (رحلة الشتاء والصيف). العرب هم كانوا العنصر الأول الذين آمنوا بالإسلام ونبيه صلى الله عليه وسلم.

عندما فتح العرب المسلمون العراق والفرس، أقبل أهل البلاد على اعتناق الإسلام وتعلم اللغة العربية. وبعد فترة وجيزة، امتزجت الحضارة العربية بالحضارة الفارسية في كتلة واحدة. نبع العلماء والفلاسفة وأصحاب الفكر من شعوب الفرس والعراق، الأمثال: الإمام أبو حنيفة من الفرس، وسيبوية والطبري والخوارزمي.

أثرت حضارة اليونان على حضارة المسلمين، فاليونانيون أمة متحضرة في مجالات الفلسفة والفنون والفلك مثل سقراط وأفلاطو وأرسطو من بلاد اليونان. انتشرت الثقافات اليونانية في شرق العرب بعد احتلال الأوروبيا في عهد إسكندار المقدوني، وقد حكم بلاد الشام ومصر أُثر يونانية.

في عهد الخليفة هارون الرشيد، أمر بترجمة الكتب اليونانية إلى اللغة العربية. وعندما فتح العرب المسلمون بلاد السِنْدِ (جزء كبير في باكستان) بقيادة محمد بن قاسم السقافي، أخذ الإسلام ينتشر من قرية إلى أخرى. وقد حكم أمراء المغول الهند. استفاد العرب المسلمون من الهنود الأرقام الحسابية وعلوم الفلك. فإذا زرت الهند، سوف ترى العجائب والعجائز التي تركها المسلمون الأوائل مثل أسماء المدن (الله آباد، أحمد آباد، حيضر آباد)،  وتاج المحل، والمساجد، والمدارس الدينية.

ترك الإسلام للمسلمين والهند الأبجدية العربية والمعروفة بالكتابة الأردية. وقد أثرت الحضارة العربية بحضارة المسلمين في دول قبيل الملايو مثل طراز المساجد والمباني. مثلا، مسجد تانه (Masjid Tanah Melaka) في ملاك،  ومسجد على طراز الصيني بمدينة رانتاو بانجانج، ومن المساجد الأثرية في دول هذه المنطقة:

  1. مسجد دماك  Demak /في الجاوا الوسطى.
  2. مسجد تلوك ماناك Teluk Manak/(بوادي الحسين) في تايلاند.
  3. مسجد كمبونغ لاوت (Kampung Laut) بكوتا بارو. هذا المسجد بدون المسمار.

إن دل على شيئ أن هذه الحضارة حضارة إنسانية عالمية.

عصر النهضة الأوربية.

التفسير الغربي.

يفسر الغربيون التاريخ من خلال نظراتهم للكون والحياة التي تكونت منذ مطلع العصر الأربي الحديث. والتي تعرف بالحركة الإصلاحية الدينية. التي رفض فيها المسيحيون أيمنة الكنيسة. التراث اليهود والمسيحي له دور كبير في تشكيل قبول الفكر الغربي. لممسلمات الكنيسة والوحي والأنبياء. ومصادر التشكيك هو الكتاب المقدس  (العهد القديم والعهد الجديد). اليهود والمسيحيون لا يربطونهما “العهد القديم والعهد الجديد” بالوحي الإلهي مثل ربط المسلمين بالوحي وبالقرآن الكريم الذي أنزله الله على سيد المرسلين قوله تعالى: (إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون).

العهد القديم يحتوي على التراث اليهود منذ بدأ الخليقة حتى عهد المسيح عليه السلام بما في ذلك تورات سيدنا موسى عليه السلام (أسفار موسى) وزبور سيدنا داود (مزامير داود). والعهد القديم مكتوبة بلغات مختلفة وكثيرة دون وجود النص الأصلي بلغته أو بلغات التي أوحى الله بها إلى أنبياء بني إسرائيل. ويؤكد هذا قوله تعالى: ((مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِن لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا [٤:٤٦])). وقوله تعالى: فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِّنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ﴿المائدة: ١٣﴾.

وألّف ابن حزم رحمه الله كتابا خاصا ان تبديل اليهود والنصارى للتوراة والإنجيل. وقد ألف ابن كثير رحمه الله كتابا خاصا ان تبديل  اليهود والنصارى للتورة والإنجيل وقد ألف ابن كثير رحمه الله (ولا شك أنه قد دخلها التبديل والتحريف والزيادة والنقص ففيه أخطاء وزيادة كثيرة ونقصان ووهم فاحش).

الكتاب المقدس قد قدم الفكر الوربي صورة مضطربة عن الوحي الإلهي. وقد ساعد على هذا الموقف مفكري الغرب. على اتخذهم موقفا حاسما تجاه مسألة الوحي. نظر الغربيون للتاريخ العالمي من خلال المعلومات القليلة التي توفرت لديهم عن طريق العهد القديم والمصادر اليونانية والرومانية.

في القرن التاسع عشر الميلادي ظهر المفكرون الغربيون مثال: بيكو الذي توفي سنة 1814.  ونيشته (Nichah) الذي توفي في نفس السنة و هردد (Hered) الذي توفي 1083، ويسمى العصر بعصر التنوير.

فسر هؤلاء التاريخ القديم على محورين:

  1. تراث بني إسرائيل الديني.
  2. التراث اليونا والرومان.

أن التاريخ البشر لديهم ينقسم إلى ثلاث مراحل:

  1. المرحلة الدينية وهي المرحلة الأولى من عمر البشرية اعتمدفيها تفسير ظواهر الطبيعية على القوة الخفية. مثل الجن والأرواح والشياطين وكان الخوف مسيطرا على عقل الإنسان.
  2. المرحلة البطولية: حلتت هذه المرحلة بالتفسيرات الطبيعية والمظاهر الفلسفية الطبيعية محل القوة الخفية وحل العقل محل الإيمان وخروج الإنسان من تبعية الدين إلى رقي والعقل البشر والشك والحرية غير منظم.
  3. المرحلة الإنسانية/ المرحلة الحرية والسياسية. حيث ساد فيها الأنظمة الديمقراطية وتقصير مهمة الدين على تهذيب الأخلاق لا العقيدة الإلهية وتسمى هذه المرحلة عصر النهضة الأروبية الذي عاش فيها هؤلاء المفكرون حيث تخلصوا من هيمنة الدين والكنيسة. الفكر الغربي منذ عصر النهضة لم تنجح في التوصل إلى الإجابات شافية في الدراسات التاريخية فقد أصبح الفكر الكنسي الديني بعيدا عن عالم الفكر والعقل.

ظهر في هذة الفترة الزمانية تفسيرات التاريخية:

  1. تفسير تهدم أغراض الكنيسة والدين.
  2. تفسيرات مدية غربية بحتة.

التفسير الإسلامي.

ينطلق تاريخنا الإسلامي من المسلمات الأساسية:

  1. الإيمان بالله وحده لا شريك له. بدأ من أبي الأنبياء أدم عليه السلام إلى يوم القيامة. فوجود الإنسان على هذه الأرض الإخلاص لعبادته. قوله تعالى: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ ﴿الذاريات: ٥٦﴾.
  2. الإيمان بالغيبيات. ( الجنة والصراط والنار).
  3. الإيمان بعالم الجن والشيطان. أصبح الشيطان ملازما للإنسان. قوله تعالى:….. إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ ﴿الأعراف: ٢٧﴾.

المسلمون يؤمنون بوجود الشياطين والجن وكما يؤمنون بالملائكة. علينا ان ننظر التاريخ العالمي من منظر الإسلام. إنه تاريخ الإسلام الذي بدأ بداية الحياة وتاريخ البشر على الأرض وقد سخر الله عز وجل للإنسان موارد هذا الكون للقيام في تعمير هذه المعمورة الواسعة ويطالب من الإنسان سلوكا واعيا. والإنسان هو الذي يصنع التاريخ حسب القوانين الإلهية ولكل البشر أينما كانوا مطلوب عليهم ان يعمروا هذا الأرض ويقومون بمهمة الخلافة على وجه صحيح.

والعدل قاعدة عامة وقيمة عالية كقوله تعالى: لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ ﴿الحديد: ٢٥﴾.

نجد في القرآن الكريم ضوابط لسلوك البشر في الرغبات والانفعالات والميول والأشبع الحاجات بالقدر الذي يحافظ على التوازن المطلوب للوفاء بمتطلبات الخلافة.

الفكر الإسلامي للتاريخ لا يتماهل تأثير البيئة في حياة البشر والحيوانات والنباتات ويقبل الفكر الإسلامي التفسيرات الأحادية للاريخ. فلا بد من تطافر القوة الإنسانية والاقتصادية والعقلية الفكرية وتصورات المستقبلية وابتكارات الحديثة في سبيل البناء تاريخ البشرية وحضارته العالمية. والله أعلم بالصواب.

آثار الحضارة الإسلامية في الحضارة الأوروبية:

كانت مصادر إشعاع الحضارة الإسلامية التي نوّرتْ الأوروبا في العصور الوسطى هي:

1. الأندلس: فتح المسلمون بلاد الأندلس في 92- 897ه (711- 1492م). فتح المسلمون الأندلس في العقد الأخير من

    القرن الأول الهجري وفتحوا جنوب الفرنسى وبعض جزر البحر الأبيض مثل قبروص، وجنوب إيطاليا. نشر المسلمون

    حضاراتهم في البلاد المفتوحة وكانت أوروبا ذلك الوقت في ظلام هالك. وصلت الحضارة الإسلامية في الأندلس إلى درجة من

    ازدهار في القرن الرابع الهجري. ازدهرت في البلاد نهضات مختلفة :

                   – الزراعة: زرع المسلمون في البلاد الزيتون، الرمّان، الموز، والكرم (العنب).

                   – الصناعة: تقدم المسلمون في الصناعات المختلفة مثل صناعة النسيج، والزجاج، والأقمشة الحريرية والقطنية،

                                 والسيوف.

                   – العمران: عمّر المسلمون البلاد بالعمارات مثل المساجد، الجسور، الكنائس، والبِيَع (معابد لليهود).

                   – الحياة الثقافية: قامت في بلاد الأندلس المعاهد، الجامعات العلمية مثل جامعة قرطبى التي أنشأتها الخليفة عبد

                                     الرحمن الناصر. وقد جاءت الوفود العلمية من أوروبا وأفريقيا إلى هذه الجامعة. وفي عهد

                                     ملوك الطوائف، كانت اتفيد إلى جامعات غرناطة وأشبيليا وحمراء بعثات العلمية من فرنس

                                     وإيطاليا وبريطانية وغير ذلك من البلاد الأوروبية.

2. جزيرة صقلية (جنوب إيطاليا): هي المصدر الثاني للانتقال الحضارة الإسلامية إلى أوروبا. وقد تمّ فتحها في عهد خليفة

    المعاوية بن أبي سفيان رضي الله عنهما. اهتمّ المسلمون بالزراعة فيها، فزرعوا قصب السكار، والزيتون، والكرم، وأشجار

    الفواكه. حكم المسلمون جزيرة حواليْ 220 سنوات  وخرجوا منها في عهد ملك روجز الأول في سنة 483ه. رغم

    خروجهم، فإن بصمات الحضارة الإسلامية فيها باقية إلى اليوم.

3. الحروب الصليبية: وقعت بين المسيحيين الأوروبيين والمسلمين ببلاد الشام. وذلك في أواخر القرن الخامس الهجري، خرج

    المسيحييون لقتال المسلمين وذلك يرجع إلى الأسباب الآتية:

                   – ادّعى الحجاج المسيحييون بالمضايقات من قبل المسلمين في دول آسيا.

                   – أعلن بابا الفاتكان أريان لمحاربة المسلمين في بلاد الشام وخاصة بعد انتصارهم في معركة ملاذكرد.

                   – نجح المسيحييون الأوروبييون في تكوين أربعة عمارات في بلاد الشام وهي عمارة الرها في فلسطين، وعمارة

   أنطاكية في حدود بين سوريا وتركيا، وعمارة بيت المقدس، وعمارة طرابلس في لبنان.

    أثّرت الحضارة الإسلامية فنيا وصناعيا لأن أكثرهم يعيشون في داخل العمارات التي أنشأوها وكانت اتصالهم بمزاعين العرب

    والصُناع أكثر من اتصالهم بالطبقات المثقفة. وعندما انتهت الحرب، رجع الأوروبييون إلى بلادهم فأخذوا معهم أنواع من

    النباتات والفواكه فزرعوا في بلادهم مثل السمسم والأرز والبطيخ والليمن والبصل والثوم وغير ذلك من المزروعات في بلاد

    الشرق الإسلامي.

4. السفارات بين دول الأوروبا والبلاد الإسلامية: حدثتْ هذه الاتصالات التجارية والدبلوماسية في العصور الوسطى. وقد

    تجددتْ العلاقات بين بغداد ودولة شرلمان بأن أهدى هارون الرشيد ساعة ماهية لملك شرلمان فتعجب بها من تقدم المسلمين

    في مجال الصناعة. وقد تبادلتْ السفارات في عهد الأمويين بالأندلس وبين حكمات ألمانيا. هذا وقد قامتْ العلاقات

    التجارية والدبلوماسية بين جمهورية البندقية (مدينة في إيطاليا) والدولة الفاطمية التي كانت تحكم مصر واليمن وبلاد الشام

    لأن الدولة الفاطمية كانت تحتاج إلى الأخشاب لإصلاح السفن البحرية. وكانت البندقية تحتقر التجارة العالمية في ذلك

    الوقت وهي التوابل التي كانت تأتي من ملاك. أنّ مثل هذه السفارات قامت بدورٍ فعّالٍ في توسيق الحضارة الإسلامية إلى

    الدول الغربية. الآن، قد التقتْ الحضارة الإسلامية بالحضارة الأوروبية مادية متماثلة في هجرات العقول والعمّال والطلبة من

    الدول الإسلامية إلى الغرب وأمريكا وأستروليا وغير ذلك. بالإضافة إلى وجود بعثات دبلوماسية غربية بالدول الإسلامية، نجد

    أيضا بعثات دبلوماسية من الدول الإسلامية في البلاد الغربية. وهذا مما لا شك قنات من قنوات الإلتقاء الحضاري بين بني

    الإنسان في العالم.

خصائص الحضارة الإسلامية:

 

1. حضارة شمولية: الحضارة الإسلامية تعتقد بالعقيدة الإسلامية والكتب السماوية. وقد ورد في القرآن الكريم أسماء بعض

    الكتب السماوية صراحة فوصف الله تعالى التوراة بالهدى والنور والإيمان ووصف الأنجيل أيضا بالموعظة والهدى والنور. ومن

    شمولية هذه الحضارة، جمّع شرائع الأمم السابقة وتعاليمها وصاغها في دستور لأمة الخلافة والوسطية. قوله تعالى: “شرع لكم

    من الدين ما وصّى به نوحا والذي أوحينا إليك وما وصّينا به إبراهيم وموسى وعيسى، أن ٌأقيموا الدين ولا تتفرقوا فيه…”

    (سورة الشورى: 13). الحضارة الإسلامية حضارة متكاملة شاملة اجتماعية ربانية تعتمد على مساواة بين الناس أمام رب

    العالمين. قوله تعالى: “يأيها الناس إن خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبآئل لتعارفوا…” (سورة الحجرات: 13).

2. حضارة مطمئنة القلوب: القلب يربّي الإيمان على ثقة بالله تعالى والرجاء فيه. قوله تعالى: “ومن يؤمن بالله يهدي قلبه والله

    بكل شيء عليم” (سورة التغابن). الإيمان إذا دخل القلوب أغناها وأهداها إلى طريق الصواب مثل قلوب الصحابة رضوان

    الله أجمعين (بلال بن رباح، عمّار بن ياسير، سميّة أم العمّار) صبرهم على جبروت المشركين بمكة المكرمة كما تغلّبت امرأة

    فرعون على ظلمة فرعون وجنوده. قالتْ: “رب ابن لي عندك بيتا في الجنة…” (سورة التحريم: 11). وكذلك نجد في أمهات

    المؤمنين رضي الله عليهنّ، عندما خيّر الله بين حياة النفوس وزهرة حياة الدنيا، فاختيارهن على الحياة الأخروية بنفوس

    مطمئنة.

3. حضارة إنسانية سامية: الحضارة الإسلامية تعتمد على عقيدة صحيحة التي تدعو إلى الطهارة بكل معانيها مثل طهارة

    القلب، طهارة الشهوة، طهارة الملابس. قال الله تعالى: “وثيابك فطهّر” (سورة المدثر: 4). وسموّ الإنسان هي الكرامة التي

    تجادل عبودية الإنسان بالإنسان مثل اتحاد اليهود والنصارى والهندوس أحبارهم (علماء اليهود: مفرده حَبْر)، ورهبانهم (علماء

    النصارى: مفرده راهبٌ) أربابًا من دون الله. وهذه العقيدة الإسلامية تعطي لنا سموّ في التفكير. لا يكون أثيرا للنواصب

    الماضية والتقاليد البالية والنِحَل (الأديان) المتحرفة والمذاهب السياسية المعاصرة.

إسهامات علماء المسلمين في مجال العلوم التطبيقية/ الإنسانية:

 

 برع العرب المسلمون في الطب والصيدلة والرياضيات والفلك والهندسة والزراعة وغير ذلك من العلوم التطبيقية والعملية. نقل العرب المسلمون العلوم الفلكية القديمة من اليونانيين والفرس والهنود. وللعرب المسلمين مؤلفات علمية نفسية كالقانون لابن سينا، وكتاب الحاوي للرازي، وكتاب التصريف لمن عجز عن التأليف لأبي القاسم الزهراوي. وقد جاء في كتاب القانون ما يدلّ على العرب المسلمين عرفوا مرض السلّ الرئوي (Asma’/ Lelah)، ومرض الفيل، وعرف العرب أيضا الدورة الدموية الرئوية. وقد عرف العرب المسلمون نظام المستشفيات. وقد شيّدت العصر الأموي والعباسي والفاطمي الكثير من المستشفيات في كل عواصم البلاد الإسلامية. والمستشفيات عند العرب المسلمين على النوعين:

          1. المستشفى الخاص لبعض الأمراض مثل الأمراض العقلية، أمراض الجذام، لمعالجة المجذومين والمسجونين والعميان. وفي

             المستشفيات لها قسم للرجال وقسم للنساء.

          2. المستشفى لجميع الأمراض

أنشأ العرب المسلمون الصيدلة (الأقرابازين) وهي تحضير العقاقير والأعشاب الطبيعية التي يحصلون عليها من بلاد الهند وأرخبيل الملايو.

اطلع العرب المسلمين على حساب الهنود فأخذوا منهم نظام الترقيم واشتغل المسلمون بعلم الجبر والهندسة والحساب، بعد ان ترجموا بعض كتب الهندسة إلى لغتهم العربية.

العرب والمسلمون وعلم الفلك.

لم يعرف العرب المسلمون قبل العصر الجاهلي عن علم الفلك، اللهم إلا فيما يتعلق بدراسة الكواكب والنجوم. وكانوا يطلقون على ذلك العلوم بعلوم التنجيم، وعند ظهر الإسلام بين فساد علم التنجيم قوله r: “كذب المنجمون ولو صدقوا”.

ألف علماء الفلك الكتب وبنوا المراصد لدراسة حركات النجوم والكواكب والشموس. ومن علماء الذي يختص في هذا المجال. نذكر على سبيل المثال:

  1. أحمد بن عبد الله بن الحسن المروزي. ومن مؤلفاته: المدخل إلى علم النجوم.
  2. محمد بن موسى الخوارزمي، اعتمد كتابه على كتاب السند الهندي.
  3. أبو عبد الله محمد بن جابر البتاني، ومن أهم كتبه “معرفة مطالع البروج”

بنى العرب المسلمون المراصد الفلكية فى العالم الإسلامي ومن بعض المراصد: المرصد الحاكمي في مصر، ومرصد الدينوري، ومرصد أولونج بك بسمرقند.

وهناك مراصد  خصوصية وعمومية تابعة للدولة والمهتمين بدراسة علم الفلك، ومن الجدير بالذكر أن الخليفة المأمون بن هارون الرشيد، هو الذي أشار باستعمال الآلة الرصد في بغداد. ومن المراصد الفلكية في ماليزيا لرأية الهلال رمضان: مرصد في بوكيت مرتجام، ومرصد في بوكيت ملاواتي.

جعل المسلمون علم الفلك علما رياضيا مستندا على دراسة الأرض والهندسة والحساب، وطهروه من شوئب التنجيم والخرفات ولهذا العلم  فوائد جمة، منها:

  • تحديد جهة القبلة في الصلاة.
  • تحديد صوم رمضان. بقوله صلى الله عليه وسلم: صوموا لرأيته وأفطروا لرأيته.
  • تحديد يوم الوقف في عرفات.

وجد العلماء ان المنهج الاستنباطي وحده لا يسد حاجة التفكير، ووضعوا قواعد منهج الاستقراء الذي يقوم على الأساس المشاهدة والإجراء التجارب ثم وجد العلماء ان المنهج الاستقرائي وحده لا يكفي. والمذهب الاستنباطي وحده لا يكفي. فأدمجوا المذهبان في منهج واحد وهو الذي نسميه اليوم منهج البحث العلمي، ويعتمد على المشاهدة والملاحظة الخارجية.

  1. 1.    كتب الطبقلت والرحلات.

من  المؤلفات العربية الإسلامية التي تضم كثيرا من  البيانات الاجتماعية والأدبية والسياسية والدينية في العصور الوسطى: كتب الرحلات والطبقات والتراجم، ألف هذه الكتب طبقات العلماء والفقهاء والأدباء وصحاب المحن، ومن تلكالمؤلفات:

  • كتب الطبقات.
  • وفيات الأعيان  لابن خلقان.
  • أسد الغابة في معرفة الصحابة لابن الأثير.
  • عيون الأنباء في طبقات الأطباء لابن أبي صُبَيعَة
  • طبقة النحويين للزبيدي.
  • طبقات الشافعية للسبكي.
  • طبقات صوفية للسَّلمي
  • طبقات فحول الشعراء لابن المعتز.
  • ذيل طبقات الحنابلة لابن رجب.
  1. كتب الرحلات.

حاذ المسلمون في العصور الوسطى في ميدان الرحلات والدوريات الجغرافية وذلك لسبب اتساع الفتةحات الإسلامية وازدهار الحضارة الإسلامية وروابط الدين واللغة العربية والثقافات الإسلامية التي تجمع المسلمين في مشارق الأرض ومغاربها، وانتشار القوافل التجارية  الإسلامية والرحلة في تأدية فريضة الحج. ورحلة في طلب العلم، وكل هذا كان باعثا عظيما على القيام بالرحلة الطويلة.

فيما بين القرن الثالث الهجري والخامس الهجري قام العلماء والرحالة بتسجيل ووصف مشاهدات الشعوب، ومن هؤلاء:

  1. ناصر خسر الفارسي  وصف في كتابه “سفرنامه” مظاهر الشعوب الإسلامية وحضارتهم وأعيادهم وحفلاتهم وصناعتهم وفنونهم وأسواقهم التجارية، وقد قام ابن جبير في القرن السادس الهجري برحلة طويلة حيث زار صقلية ومصر والعراق والشام ووصل جنوه ومنها إلى قرطاجنَّة في تونس ثم قام برحلة ثانية وثالثة سجل في مذاكرته يوميات غنية بالعجائب والبيانات الممتعة عن بلاد التيزار فيها. وقد سمى كتابه “برحلة ابن جبير”
  2. في القرن الثامن الهجري قام ابن بطوطة برحلة طويلة زار  الحجاز والجزائر والتونس وليبيا ومصر والشام والعراق والإيران وزار أيضا اليمن والقوقاس والقسطنطينية، واتصل بملك الهند محمد ابن تُغلوق، ثم أرسل إلى بلاد الصين، وعاد ابن بطوطة من الصين حيث مر على جزيرة سومطره وكانت فيها عمارتان إسلاميتان ” فاسَي و فارلاك”( Perlak & Pasai) قابل ابن بطوطة الملك الظاهر السلطان محمد بحيان شاه مؤسس دولة أجيه (Aceh). ثم قام برحلة ثانية إلى الأندلس، ورحلة ثالثة إلى مماليك إسلامية في إفريقيا مثل مملكة حوسا، ومملكة التكرور، ومملكة البونوا.

استطاعت الممالك المذكورة ان تأخذ شكلا وكيانا سياسيا بعد مجيئ القرن الخامس الهجري، ونستطيع ان نقول ان الدول المسلم  في جزر أرخبيل ملايو قد أقلحوا في تأسيس الصلطانات والممالك الإسلامية المستقلة، تكاد تكون متقاربة بعصر الممالك الإفريقيا الإسلامية.

ابن بطوطة يعود إلى وطنه بعد الرحلة الثالثة، عاد الرحلة إلى السلطان أبي عنان الميرين، اعجب السلطان ما دوّنه ابن بطوطة فأمر كاتبه محمد بن الجزي الكلبي ان يكتب ما يمليه بن بطوطة.وقد اشتهر فيما بعد “تحفة النُّضَّار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار.

وللمعلومات التاريخية فقد زار المناطق ارخبيل ملايوا الرحالة الإطالي “ماركوبولوأ” سنة 1292، ووصل البرتغاليون سنة 1511، والهولنديون 1624، والبريطانيون 1786. ان دل على شيء على ان المناطق أرخبيل ملايوا غنية بالثروات الطبيعية والطاقة الإنسانية.

أسباب سقوط وتدهور الحضارة الإسلامية.

الحضارة الإسلامية بدأت في المكة المكرمة ثم انتقلت إلى المدينة المنورة وصاحبت هذه الحضارة الأمويين بدمشق والعباسيين في البغداد وانتقلت بعد ذلك إلى أوربا أيام مجد الأندلس، حمل العثمانيون هذه الحضارة ونشروها بين طبقات المجتمع الأوربا. وامتدت هذه الحضارة مع امتداد الإسلام وتراجعت مع تراجع المسلمين. وهناك بعض الأسباب مباشرة وغير مباشرة في سقوط هذه الحضارة. ومن هذه الأسباب:

  1. انحسار الجهاد وتضاؤل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر أصبحت صرورية من ضروريات حياة الإسلامية على مستوى الأفراد والجماعة والدولة والأمة.
  2. الاستبداد السياسي هو مثل الظلم الاجتماعي، دعى الله سبحانه وتعالى ورسوله r إلى ضمنات الشورى والحريةالسياسية والفكرية. وما حدث في عهده r وعصر الراشدين والمدى الواسع للعصر الإسلامي للشورى والحرية، قوله تعالى: “وأمرهم شورى بينهم”، وأيضا ” وشاورهم في الأمر”.

وهل اختفت الشورى بين الأمة والقادح؟؟؟ أو تحللت واصبحت بالية؟؟؟؟

  1. الفصام بين القيادة السياسية والدينية، وهي امتداد للاستبداد السياسي،ولقد شكل هذالتمزق بين القيادة الفكرية الإسلامية، وكان من نتائج هذه الفصام أُصيب الأئمة الأربعة باستبدادات سياسية مختلفة، فالإمام أبو حنيفة كان نصيبه السجن لأنه رفض ان يتولى  القضاء. والإمام مالك  حين ظهر بالفتوى ضد مصالح الدولة، والإمام الشافعي الذي هرب من السلطة السياسية في بغداد إلى مصر حيث توفي فيها، والإمام أحمد بن حنبل لمعارضته مخططات السلطة السياسية.
  2. الترق والتكاثر. وقد تداول على ألسنة الناس “الترق يزيل النعم”، فما أكثر الأمم والدول كانت وراء تدهورها وسقوطها(الترق). ومن صور الترق: التطاول في البنيان، الإسراف في المأكل والمشرب، وحفلات الزواج، وانفاق المال العام بغير حساب. مثل  إقامة المباريات في كرة القدم والاحتفالات الدينية والقومية.
  3. التحلل الخلق والسلوك. في حقيقة الأمر  تمس العلاقات العامة والبنية الاجتماعية، وقد تؤدي إلى زوال وإلحاق الدمار بالنشاط الحضاري. بدأ من الممارسات المنحرفة التي تمس السلوك مثل: الحرية الجنسية، وشرب الخمر، ولعب الميسر، والغناء والرقص، والخيانة وشهادة الزور والشذوذ الجنسي.

وهل غابت رقابة الضمير؟؟؟ وهل غابت المسؤولية؟؟؟

  1. التمزق المذهبي. وقد يؤدي هذا التمزق المذهبي إلى القال والحروب الأهلية، ونحن نتذكر سلسلات الفتن بين أهل السنة والخوارج والشيعة والشعوبية في العصور الإسلامية الغابرة. وامتدادا لهذا التمزق الغلو التشدد في المفاهيم الدينية والسياسية. الإسلام هو دين الحنفية السمحاء واليسر والمرونة والجدال بالتي هي أحسن.
  2. غياب العلم وانتشار الجهل. لقد كانت القرن الأولى منذ  فجر التاريخ الإسلامي انعكاسا أمينا كتأكيدات القرآن والسنة النبوية على تحفيظ النشاط العلمي وتضييق الخناق على الجهل. شجع الإسلام المسلمين بأن يتعلموا ويستفيدوا من الخيرات الأجنبية على شرط أن لا يتعارض مع الشريعة الإسلامية والقيام الحضاري.

ومن عوامل الداخلية:

  1. ومن أسباب سقوط الحضارة عوامل خارجية، منها: مصارعة الغزاة. ففي أواخر القرن الخامس الهجري، 12 الميلادي،  رمت أوربا ثقلها السياسي والديني تحت مظلة الحروب الصلبية التي امتدت قرنين من الزمان.

هل انتهت الحروب الصلبية الآن؟؟؟

  1. احتلال البرتغال والإسبان وهولندا وبريطانيا وفرنسى. معظم البلاد العربية والإسلامية استنزقت اقتصاديات البلاد والبيئات الإسلامية فصبحت فيما بعد ما يسمى بالشلل الاقتصادي والجمود الفكري.
  2. الاحتلال الحديد المتمثلة في أمريكا والصحيونية العالمية. حاولت وتحاول تلك الحركات على استنزاف الموارق الشعوب المستضعفة وابقائهم في عدد الأمة المختلف وتمسيح هوية الأمة الحضارية. وقد حاولت تلك الدول جمودا متواصلة لإحتواءها وإرغامها على الإندماج في كيان الحضارة  الغربية والأمريكية.

هذه الهجمات الداخلية والخارجية  ما كان بمقدورها ان تفعل فعلها في مجري الحضارة الإسلامية. لو كان المسلمون أنفسهم قد تحصنوا بقيم العقيدة الإيمان والبقاء والاستمراء، ولكنهم بفعلهم الخاص فتحوا على أنفسهم الثعرات التي تسلل منها الخصوم لكي يصيب منهم ومن حضارتهم. ويقيننا بالله سبحانه وتعالى المتصرف في كل الأمور أن هذه الحضارة ستأخذ مكانتها اللائقة كما كانت قوله تاعلى: يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.(الصف: 8).

Posted in Islamization | Leave a comment

HUKUM TADARRUJ (BERANGSUR-ANGSUR) DALAM PELAKSAAN SYARIAT ISLAM.

HUKUM TADARRUJ (BERANGSUR-ANGSUR) DALAM PELAKSAAN SYARIAT ISLAM.

By: Intan El Wahdy

Pengertian Tadarruj.

Berasal dari kata Darija yang berarti berangsur-angsur. Menurut Dr. Yusuf Al Qardawi: Suatu pendekatan secara bertahap atau berangsur-angsur dalam memastikan pelaksanaan hukum Islam dijalankan secara berkesan dan sempurna.

Pendapat sebagian Ulama.

Ada sebagian Ulama yang mendukung dan setuju dengan penerapan Syariat Islam secara berangsur-angsur, diantara Ulama yang menyetujui penerapan Syariat Islam secara berangsur-angsur adalah: Abul A’la Al Mawdudi dan Dr. Yusuf Al Qardawi. Sedangkan sebagian Ulama tidak menyetujui bahkan membantah kalau pada zaman sekarang ini penerapan Syariat Islam dilakukan secara berangsur-angsur. Dan dari sebagian Ulama yang tidak setuju dengan penerapan Syariat Islam secara berangsur-angsur adalah: Sayid Qutb, Sayid Abdul Qadir Awdah, Dr. Said Ramadan Al Buti, Syeikh Taqiuddin An Nabhani.

Dan diantara persetujuan dan perselisihan diantara para Ulama dalam menghukumi tadarruj dalam pelaksanaan Syariat Islam. Persetujuan para Ulama adalah di karenakan prinsip Aqidah tidak termasuk dalam bab Tadarruj,  prinsip-prinsip asas Islam tidak termasuk dalam tadarruj dan yang terakhir adalah yakin tentang kewajiban melaksanakan Syariat Islam secara sempurna. Sedangkan perselisihan antara mereka adalah dikarenakan wajib melaksanakan penerapan Islam secara kaffah(menyeluruh) dan tanpa menunggu waktu (dengan segera).

Pemahaman Tadarruj dalam penerapan Syariat Islam pada zaman sekarang.

Tadarruj diartikan dengan cara penerapan Syariat secara bertahap, walaupun untuk menerapkan syariat ini kita harus mengakui/menerapkan hukum kufur yang dianggap dekat dengan Syariat Islam sebagai tahap untuk menerapkan Syariat Islam secara sempurna. Hal ini dapat kita ketahui dengan maraknya partai politik yang mengatas namakan Islam sebagai asas partai mereka agar menarik para simpatisan dari golongan umat Islam untuk memilih dan ikut dalam partai tersebut. Sehingga kemenangan dalam parlemen dianggap bisa menjadikan wadah Pemimpin Islam dalam menerapkan syariat.

Dan ada sebagian pemahaman yang berasumsi bahwasanya penerapan sebagian Syariat Islam dan “Berdiam diri” terhadap sebagian hukum-hukum kufur untuk sementara waktu sampai tibanya waktu untuk  menerapkan Syariat Islam secara sempurna.

Perubahan yang boleh dilakukan secara bertahap.

Ada sebagian alasan para Ulama bahwa penerapan Syariat Islam bisa dilakukan dengan cara tadarruj, hal ini di dasarkan pada peristiwa yang terjadi pada awal mula pensyariatan Syariat Islam, dikatakan bahwasanya Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur dari Baitul Izzah ke bumi. Dan perkara yang kedua adalah pelarangan meminum Khamr/arak dan Riba secara berangsur-angsur. Dalam hal ini, hukum pengharaman khamr adalah Qat’ie Tsubut, artinya tidak boleh melihat hukum sebelumnya dengan alasan tadarruj. Dan tidak ada kitab fiqh yang dikarang Ulama terdahulu yang membahas tadarruj dalam hal pengharaman arak. Dan juga para Sahabat tidak pernah membiarkan manusia berbondong-bondong memeluk Islam meminum arak dengan alasan tadarruj. Dari sebagian pendapat Ulama diatas, ada sanggahan bahwasanya untuk saat sekarang ini Syariat Islam harus tertegak secara kaffah/keseluruhan. Hal ini tidak menitik beratkan pada masa Alquran diturunkan, karena pada masa itu Syariat Islam belum lengkap, dan Alquran turun berangsur-angsur sesuai dengan kejadian yang terjadi di kalangan para Sahabat ataupun kaum muslimin pada masa itu. Dan kalau di lihat pada zaman sekarang, kaum muslimin mengamalkan Al quran secara sempurna, artinya tidak ada keringanan bagi orang yang baru saja masuk Islam untuk melakukan sholat hanya 3 waktu atau 4 waktu saja, melainkan wajib melaksanakan sholat 5 waktu dalam sehari dan semalam. Hal ini dikarenakan  Syariat Islam telah sempurna, dan tidak ada alasan memilih-milih dalam melaksanakan Syariat.

Dalam Al Qur’an surah Al Baqarah disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al Baqarah: 208)

Berikut ini adalah penjelasan ayat diatas menurut para mufassir.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa Allah memerintahkan hambanya yang mu’min dan mempercayai Aqidah dan Syariat Islam, agar mengerjakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Sedangkan menurut Imam Nasafi, lafadz “Kaffah” disini adalah dhomir dari lafaz “Udkhulu” yang bermaksud Jami’an atau menyeluruh.

Sedangkan menurut Imam At Tabari, ayat diatas merupakan perintah kepada orang yang beriman untuk menolak selain hukum Islam dan perintah untuk menjalankan Syariat secara menyeluruh tanpa mengingkari satupun dari hukum Islam.

Kesimpulan:

Perubahan harus dimulai dari Individu, Keluarga dan Negara.

Anggapan atau opini masyarakat terbentuk dari setiap Individu manusia. Karena masyarakat adalah kumpulan dari Individu, pemikiran, perasaan dan peraturan. Dan untuk merubah masyarakat kita harus merubah perasaan, pemikiran, dan peraturan ataupun sistem. Manakala 3 hal ini sudah dapat berubah, maka akan berubahlah tatanan masyarakat tersebut. Dari yang tidak berpegang pada Islam, menjadi masyarakat yang berpegang teguh pada tali Allah. Dan cara untuk merubah masyarakat adalah dengan merubah sistem. Ketika ada sebuah kelompok manusia muslim yang dikuatkan dengan pemikiran, perasaan dan peraturan bukan Islam, maka tatanan masyarakat ini belum dikatakan masyarakat Islam, tetapi apabila ada kelompok masyarakat yang mayoritasnya non muslim ditambah dengan pemikiran, perasaan, peraturan dan keamanan di bawah Islam, ini juga belum dikatakan masyarakat muslim.

Yang kita inginkan adalah tatanan masyarakat muslim dengan pemikiran, perasaan, dan sistem Islam yang di terapkan secara kaffah/keseluruhan. Dan dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa tidak ada konsep tadarruj dalam melaksanakan kewajiban, perubahan haruslah dilakukan secara menyeluruh, dan dalam berdakwah haruslah bersandarkan kepada Manhaj Nubuwwah (Jalan Da’wah Kenabian).

Posted in Islamization | Leave a comment