HUKUM TADARRUJ (BERANGSUR-ANGSUR) DALAM PELAKSAAN SYARIAT ISLAM.

HUKUM TADARRUJ (BERANGSUR-ANGSUR) DALAM PELAKSAAN SYARIAT ISLAM.

By: Intan El Wahdy

Pengertian Tadarruj.

Berasal dari kata Darija yang berarti berangsur-angsur. Menurut Dr. Yusuf Al Qardawi: Suatu pendekatan secara bertahap atau berangsur-angsur dalam memastikan pelaksanaan hukum Islam dijalankan secara berkesan dan sempurna.

Pendapat sebagian Ulama.

Ada sebagian Ulama yang mendukung dan setuju dengan penerapan Syariat Islam secara berangsur-angsur, diantara Ulama yang menyetujui penerapan Syariat Islam secara berangsur-angsur adalah: Abul A’la Al Mawdudi dan Dr. Yusuf Al Qardawi. Sedangkan sebagian Ulama tidak menyetujui bahkan membantah kalau pada zaman sekarang ini penerapan Syariat Islam dilakukan secara berangsur-angsur. Dan dari sebagian Ulama yang tidak setuju dengan penerapan Syariat Islam secara berangsur-angsur adalah: Sayid Qutb, Sayid Abdul Qadir Awdah, Dr. Said Ramadan Al Buti, Syeikh Taqiuddin An Nabhani.

Dan diantara persetujuan dan perselisihan diantara para Ulama dalam menghukumi tadarruj dalam pelaksanaan Syariat Islam. Persetujuan para Ulama adalah di karenakan prinsip Aqidah tidak termasuk dalam bab Tadarruj,  prinsip-prinsip asas Islam tidak termasuk dalam tadarruj dan yang terakhir adalah yakin tentang kewajiban melaksanakan Syariat Islam secara sempurna. Sedangkan perselisihan antara mereka adalah dikarenakan wajib melaksanakan penerapan Islam secara kaffah(menyeluruh) dan tanpa menunggu waktu (dengan segera).

Pemahaman Tadarruj dalam penerapan Syariat Islam pada zaman sekarang.

Tadarruj diartikan dengan cara penerapan Syariat secara bertahap, walaupun untuk menerapkan syariat ini kita harus mengakui/menerapkan hukum kufur yang dianggap dekat dengan Syariat Islam sebagai tahap untuk menerapkan Syariat Islam secara sempurna. Hal ini dapat kita ketahui dengan maraknya partai politik yang mengatas namakan Islam sebagai asas partai mereka agar menarik para simpatisan dari golongan umat Islam untuk memilih dan ikut dalam partai tersebut. Sehingga kemenangan dalam parlemen dianggap bisa menjadikan wadah Pemimpin Islam dalam menerapkan syariat.

Dan ada sebagian pemahaman yang berasumsi bahwasanya penerapan sebagian Syariat Islam dan “Berdiam diri” terhadap sebagian hukum-hukum kufur untuk sementara waktu sampai tibanya waktu untuk  menerapkan Syariat Islam secara sempurna.

Perubahan yang boleh dilakukan secara bertahap.

Ada sebagian alasan para Ulama bahwa penerapan Syariat Islam bisa dilakukan dengan cara tadarruj, hal ini di dasarkan pada peristiwa yang terjadi pada awal mula pensyariatan Syariat Islam, dikatakan bahwasanya Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur dari Baitul Izzah ke bumi. Dan perkara yang kedua adalah pelarangan meminum Khamr/arak dan Riba secara berangsur-angsur. Dalam hal ini, hukum pengharaman khamr adalah Qat’ie Tsubut, artinya tidak boleh melihat hukum sebelumnya dengan alasan tadarruj. Dan tidak ada kitab fiqh yang dikarang Ulama terdahulu yang membahas tadarruj dalam hal pengharaman arak. Dan juga para Sahabat tidak pernah membiarkan manusia berbondong-bondong memeluk Islam meminum arak dengan alasan tadarruj. Dari sebagian pendapat Ulama diatas, ada sanggahan bahwasanya untuk saat sekarang ini Syariat Islam harus tertegak secara kaffah/keseluruhan. Hal ini tidak menitik beratkan pada masa Alquran diturunkan, karena pada masa itu Syariat Islam belum lengkap, dan Alquran turun berangsur-angsur sesuai dengan kejadian yang terjadi di kalangan para Sahabat ataupun kaum muslimin pada masa itu. Dan kalau di lihat pada zaman sekarang, kaum muslimin mengamalkan Al quran secara sempurna, artinya tidak ada keringanan bagi orang yang baru saja masuk Islam untuk melakukan sholat hanya 3 waktu atau 4 waktu saja, melainkan wajib melaksanakan sholat 5 waktu dalam sehari dan semalam. Hal ini dikarenakan  Syariat Islam telah sempurna, dan tidak ada alasan memilih-milih dalam melaksanakan Syariat.

Dalam Al Qur’an surah Al Baqarah disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (Al Baqarah: 208)

Berikut ini adalah penjelasan ayat diatas menurut para mufassir.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa Allah memerintahkan hambanya yang mu’min dan mempercayai Aqidah dan Syariat Islam, agar mengerjakan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

Sedangkan menurut Imam Nasafi, lafadz “Kaffah” disini adalah dhomir dari lafaz “Udkhulu” yang bermaksud Jami’an atau menyeluruh.

Sedangkan menurut Imam At Tabari, ayat diatas merupakan perintah kepada orang yang beriman untuk menolak selain hukum Islam dan perintah untuk menjalankan Syariat secara menyeluruh tanpa mengingkari satupun dari hukum Islam.

Kesimpulan:

Perubahan harus dimulai dari Individu, Keluarga dan Negara.

Anggapan atau opini masyarakat terbentuk dari setiap Individu manusia. Karena masyarakat adalah kumpulan dari Individu, pemikiran, perasaan dan peraturan. Dan untuk merubah masyarakat kita harus merubah perasaan, pemikiran, dan peraturan ataupun sistem. Manakala 3 hal ini sudah dapat berubah, maka akan berubahlah tatanan masyarakat tersebut. Dari yang tidak berpegang pada Islam, menjadi masyarakat yang berpegang teguh pada tali Allah. Dan cara untuk merubah masyarakat adalah dengan merubah sistem. Ketika ada sebuah kelompok manusia muslim yang dikuatkan dengan pemikiran, perasaan dan peraturan bukan Islam, maka tatanan masyarakat ini belum dikatakan masyarakat Islam, tetapi apabila ada kelompok masyarakat yang mayoritasnya non muslim ditambah dengan pemikiran, perasaan, peraturan dan keamanan di bawah Islam, ini juga belum dikatakan masyarakat muslim.

Yang kita inginkan adalah tatanan masyarakat muslim dengan pemikiran, perasaan, dan sistem Islam yang di terapkan secara kaffah/keseluruhan. Dan dalam hal ini bisa disimpulkan bahwa tidak ada konsep tadarruj dalam melaksanakan kewajiban, perubahan haruslah dilakukan secara menyeluruh, dan dalam berdakwah haruslah bersandarkan kepada Manhaj Nubuwwah (Jalan Da’wah Kenabian).

About these ads

About intanelwahdy

Student of International Islamic University Malaysia. Bachelor of Islamic Revealed Knowledge & Heritage
This entry was posted in Islamization. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s