Kelebihan Bulan Ramadhan dan Orang yang Berpuasa pada bulan Ramadhan.

Allah S.W.T telah mensyari’atkan dan mewajibkan puasa kepada umat Islam karena puasa mengandung banyak manfaat, keberkatan dan ganjaran. Allah S.W.T juga telah memuliakan bulan Ramadhan dengan menjadikan puasa sebagai satu ibadah dari Rukun Islam yang ketiga.

Ramadhan merupakan bulan yang penuh keberkatan dan kedatangannya amatlah dinanti-nantikan. Oleh karena itu umat Islam dapat menggandakan amal ibadah dan bertaqarrub kepada Allah S.W.T demi keridhoaan serta ganjaran yang telah dijanjikan-Nya. Dengan ini, jelaslah bahwa puasa Ramadhan menjadikan seorang hamba akan lebih mementingkan kehendak Penciptanya daripada kemewahan pribadi sendiri.

Diantara kelebihan lain adalah puasa dapat meningkatkan keimanan dan ketaatan kepada-Nya. Puasa juga dapat menguatkan serta mendekatkan lagi hubungan kita dengan Yang Maha Esa. Selain itu, kita juga dapat membuktikan kehambaan dan memenuhi tanggung jawab yang sempurna kepada Allah S.W.T melalui kepatuhan kita kepada perintahNya dan meninggalkan segala larangan Nya.

Di samping itu juga, puasa mampu mendidik jiwa, membelai perasaan serta memberikan nilai kesihatan pada badan secara umumnya dan sistem pencernaan pada khususnya. Misalnya, puasa mengaplikasikan sistem gizi dengan pengambilan makanan yang baik mengikut waktu yang telah ditentukan, dapat mengistirahatkan sistem pencernaan pada waktu-waktu tertentu dan mengurangi tahap kolesterol yang boleh membahayakan tubuh manusia.

Kelebihan puasa yang lain adalah dapat mewujudkan nilai kemasyarakatan atau sosial yang baik. Mereka yang lemah dan miskin dapat dibantu dengan diberikan atau disedekahkan makanan serta sumbangan dari pihak yang berkemampuan. Ganjaran bersedekah pada bulan Ramadhan adalah berlipat kali ganda berbanding bulan-bulan lain.

Tambahan pula, seseorang yang kaya akan mengetahui nilai setiap kenikmatan dan kemewahan yang Allah berikan. Dengan kekayaan yang dimiliki itu, Allah S.W.T telah memudahkan mereka untuk mendapatkan apa yang diinginkan seperti makanan yang enak, pakaian yang cantik dan apa saja yang dibolehkan oleh Nya secara syar’ie. Maka dengan itu mereka patut bersyukur di atas segala karunia nikmat dan membantu golongan yang bernasib kurang baik atau miskin.

Orang yang berpuasa berarti diperintahkan kepadanya untuk bertaqwa kepada Allah S.W.T, yaitu dengan mengerjakan perintah dan menjauhi larangan Nya serta ikhlas Lillahi Ta’ala. Inilah tujuan dari pensyariatan puasa.

Allah S.W.T berfirman:

“Hai orang2 yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (Al Baqarah: 183).

Berdasarkan ayat diatas, hikmah diwajibkan puasa ialah supaya terwujud sifat taqwa dan mengabdikan diri kepada Allah S.W.T.

Rasulullah S.A.W bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak akan ragu untuk meninggalkan makanan dan minumannya” (HR. Bukhori)

Berdasarkan dalil diatas, maka diperintahkan dengan tegas terhadap setiap orang yang berpuasa untuk mengerjakan segala kewajiban dan menjauhi perkara yang dilarang. Misalnya mencela, menghina, berdusta, mengumpat, menjual barang dagangan yang haram, mendengarkan kata-kata atau hiburan yang melalaikan dari menaati Allah S.W.T.

Sekiranya umat islam dapat mengerjakan semua amalan yang diperintahkan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari-Nya, itu akan memudahkannya kelak untuk beristiqomah meneruskan amalan-amalan tersebut pada bulan-bulan yang lain pula. Tetapi yang menyedihkan ialah terdapat segelintir individu yang berpuasa tidak dapat membedakan antara bulan puasa dengan hari biasa. Mereka tetap menjalani kehidupan seharian tanpa meninggalkan perkara yang dilarang. Sikap ini menunjukkan mereka bukan sahaja tidak merasai keagungan dan keberkatan malah tidak menghormati bulan Ramadhan yang mulia. Sungguhpun perbuatan ini tidak memberi kesan atau membatalkan puasa, tetapi perbuatan ini dapat mengurangi bahkan bisa menghilangkan pahala puasa.

Di antara hikmah puasa yang lain adalah melatih seseorang menguasai nafsu dan berdisiplin dalam mengatur jiwanya. Hal ini bertujuan agar mereka mampu memimpin jiwa demi meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat serta dapat menjauhi sifat-sifat keji.

Wallahu A’lam Bisshowab….

About intanelwahdy

Student of International Islamic University Malaysia. Bachelor of Islamic Revealed Knowledge & Heritage
This entry was posted in Islamization. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s